December 1, 2020

Once Upon A Time In Hollywood (2019)

(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Once Upon a Time in Hollywood diawali dengan gaya, sebagaimana karya Quentin Tarantino biasanya. Cuplikan serial televisi hitam putih masa 1950an berjudul Bounty Law yang dibintangi sekaligus melambungkan nama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio), diikuti dua situasi yang muncul bergantian: Rick bersama stuntman-nya, Cliff Booth (Brad Pitt) berkendara, sementara Sharon Tate (Margot Robbie) dan sang suami, Roman Polanski (Rafał Zawierucha) gres turun dari pesawat. Menjadi latar yakni lagu Treat Her Right dari Roy Head.

Sebuah adegan pembuka keren yang menset karakterisasi tiga protagonis: Rick si mega bintang yang popularitasnya memudar, Cliff si stuntman tangguh, dan Sharon si bintang muda. Tapi jangan tertipu, lantaran Once Upon a Time in Hollywood bukan sajian khas Tarantino. Benar bahwa filmnya dibangun oleh dialog, tumpuan budaya populer, lagu-lagu asyik, juga penceritaan yang kerap menerapkan flashback, namun siapa sangka ini menjadi karya paling cukup umur sekaligus emosional dari sanng sutradara. Seolah, mencapai karya kesembilan, Tarantino ingin berkata, “Saya mempunyai hati”.

Selepas adegan pembuka, alurnya melaju bolak-balik antara persahabatan Rick-Cliff dan kehidupan Sharon. Rick merasa ketenarannya anjlok drastis, lantaran alih-alih pemeran utama, ia cuma mendapatkan anjuran sebagai antagonis yang berakhir tewas atau dihajar oleh sang jagoan, atau penampilan singkat di episode pilot. Akibatnya, Cliff pun kehilangan lahan pekerjaan, menghabiskan hari-harinya mengatar-jemput atau memperbaiki antena di rumah Rick.

Amat disayangkan, lantaran Cliff merupakan petarung badass. Bahkan ia sempat menghajar Bruce Lee (Mike Moh) dalam satu momen yang menegaskan kapasitasnya, biar penonton bisa mempercayai apa yang Cliff sanggup lakukan di klimaks. Pitt, bersenjatakan persona kolam koboi, tampil berkarisma bahkan ketika hanya berdiri diam, mengamati dari balik beling mata hitamnya.

Berlawanan dengan Cliff, di layar, Rick penuh wibawa, tapi di balik layar beliau yakni laki-laki penuh ketakutan, keraguan, yang sering tergagap kala berbicara. Beruntung, bukan saja pegawai, Cliff menjadi sobat setia yang senantiasa mendukung Rick. Rasanya, jika mampu, Rick bakal meminta Cliff untuk menjadi stuntman-nya di dunia nyata.

Memerankan Rick, DiCaprio memamerkan salah satu performa paling berwarna sepanjang karir lewat interpretasi luar biasa terhadap dua sisi (depan dan belakang kamera) Rick. Dualitas sang bintang film terpapar faktual ketika Rick menjalani proses pengambilan gambar sebagai antagonis serial televisi western. DiCaprio menghantarkan jangkauan akting luas yang menyulut kekonyolan, kepedihan, sampai kekaguman.

Kalau kisah Rick memaparkan kejatuhan bintang di final golden age Hollywood, maka Sharon menuturkan soal terbitnya bintang baru. Tapi serupa Rick, Sharon juga “berwajah ganda”. Dan serupa DiCaprio pula, Robbie berhasil menghidupkan dualitas tersebut. Sekilas Sharon cuma gadis muda yang gemar berpesta, namun di balik itu, beliau menjadi cerminan para pemimpi industri perfilman yang berharap bisa menghibur penonton melalui kemunculannya di layar lebar. Kunjungan Sharon ke bioskop untuk menonton The Wrecking Crew yang ia bintangi (juga konklusi proses syuting Rick yang saya singgung di atas) jadi ajang pembuktian sensibilitas Tarantino. Bahwa selain gaya dan kekerasan, ia pun bisa menyentuh hati.

Secara spesifik bertindak selaku penghormatan bagi Hollywood masa 1960an, Once Upon a Time in Hollywood tentunya dipenuhi referensi, contohnya penyebutan beberapa judul film atau serial televisi (The Man From U.N.C.L.E., Batman, The Dick Van Dyke Show, FBI, Rosemary’s Baby, dan lain-lain), cameo sosok-sosok faktual ibarat Bruce Lee dan Steve McQueen (Damian Lewis), atau modifikasi elemen-elemen realita dari nama figur sampai insiden tertentu, contohnya perkelahian Cliff melawan Bruce Lee yang terjadi pada set serial The Green Hornet.

Penonton yang familiar dengan hal-hal tadi bakal menemukan surga, sebaliknya, bagi kalangan awam, Once Upon a Time in Hollywood bisa saja terasa kosong atau bertutur tanpa fokus. Bukan sebuah dosa, lantaran semenjak awal, Tarantino memang berniat menulis surat cinta. Keinginan melahirkan surat cinta itulah faktor kemenangan filmnya.

Berbeda dibanding Inglourious Basterds, imajinasi suka-suka Tarantino kali ini, daripada didorong “kenakalan” eksplorasi, bagai sebuah curahan hati nrimo atas kondisi yang ia harapkan terjadi. Puncaknya terletak di konklusi. Babak ketiganya, biarpun diawali kurang mulus akhir alasan yang terkesan dipaksakan dalam perjuangan memodifikasi perkara pembantaian oleh Keluarga Manson, jadi hiburan kelas satu berkat parade kekerasan favorit Tarantino.  Tapi pesona terbesarnya bukan di situ.

(SPOILER STARTS) Klimaksnya boleh merenggut beberapa nyawa, namun tujuan utama Tarantino justru menyelamatkan nyawa. Melalui kelembutan yang belum pernah ditunjukkan, Tarantino mengkreasi epilog magis nan menyentuh, di mana sosok-sosok fiktif macam Rick Dalton dan Cliff Booth tercipta biar nyawa-nyawa yang melayang di malam berdarah 8 Agustus 1969 berkesempatan melanjutkan tawa mereka, bahkan membaginya pada orang lain. Bila semesta sinema Quentin Tarantino memang ada, Once Upon a Time in Hollywood mungkin perwujudan nirwana semesta itu (SPOILER ENDS).