October 20, 2020

Only The Brave (2017)

Pada kala di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan menyerupai sekarang, segala bentuk heroisme, tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa, patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave, yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy, Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah faktual perihal pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013, film ini ialah penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.

Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin), Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan, hingga kesudahannya berkesempatan menerangkan kapasitas dan menerima status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan ialah Brendan “Donut” McDonough (Miles Teller), mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para laki-laki pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga, dari kekasih, istri, anak, orang tua, setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api, juga perihal orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi agresi memadamkan api   yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI sempurna guna meski hanya punya bujet $38 juta   juga drama intim terkait keluarga, dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric, yang hidup berdua bersama istrinya, Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya hubungan Eric-Amanda, naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down, Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun sedikit demi sedikit melalui rangkaian pembicaraan.

Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar obrolan dengan Connelly yang mengatakan kekuatan seorang perempuan berdikari layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula ketika dua pemain drama penuh kematangan, Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan anutan perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal menyerupai dikala memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa, menerangkan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup ahli menangani kehangatan situasi dalam drama, apalagi ketika terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi bernafsu yang menjadikan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya, mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibentuk mengenal betul para tokoh utama, yang mana jadi bekal menjelang klimaks.

Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi kejadian nyatanya maupun yang belum, third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada karakter, kesudahannya penyutradaraan Kosinski menemukan taji, perlahan membangun ketegangan ketika misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang gampang mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu, yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi, Oblivion), bisa mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang, shot tersebut takkan gampang hilang dari ingatan. Heartbreaking.