October 27, 2020

Overdrive (2017)

Overdrive adalah satu dari sekian banyak tontonan kelas dua yang berusaha mengekor kesuksesan seri Fast & Furious, berharap sebagian sasaran pasar franchise raksasa itu terpengaruhi oleh kemiripan yang ditawarkan. Formulanya memang serupa. Mobil mewah, wanita cantik, agresi absurd melawan logika, hingga plot soal pencurian yang memaksa tokoh utamanya membentuk sebuah tim. Kebetulan Scott Eastwood sebagai salah satu cast The Fate of the Furious turut ambil cuilan memerankan Andrew Foster sang protagonis. 

Cerita dalam naskah besutan Michael Brandt dan Derek Haas sesungguhnya generik. Andrew bersama adik tirinya, Garett (Feddie Thorp) merupakan dua bersaudara pencuri kendaraan beroda empat yang mesti berurusan dengan cecunguk sekaligus kolektor kendaraan beroda empat antik berjulukan Jacomo Morier (Simon Abkarian) jawaban “tanpa sengaja” mencuri koleksi barunya. Keduanya dipaksa mengambil kendaraan beroda empat milik tentangan bisnis Morier, Max Klemp (Clemens Schick) yang konon populer bengis. Intinya hanya itu. Tapi Brandt dan Haas menumpahkan banyak belokan tajam, abjad tambahan, serta sub-konflik, menghasilkan setumpuk kerumitan.
Hampir 10 menit sekali muncul duduk kasus gres yang dibawa oleh tokoh gres pula, menimbulkan durasi 93 menitnya penuh sesak. Semua didasari perjuangan memberi kompleksitas yang sesungguhnya tak perlu, lantaran sering kali poin plotnya mengundang tanya, “untuk apa?”. Tidak jarang keputusan karakternya justru menyulitkan diri sendiri. The kind of stupidity that hide behind unnecessary complexites. Belum lagi, mengikuti semangat film heist, twist beraneka ragam khususnya soal rencana pencurian bakal bergantian muncul ke permukaan. Kejutan yang tidak terduga, bukan lantaran kepintaran naskah mengecoh penonton, melainkan murni bentuk “penipuan” yang tiba-tiba saja terjadi.

Tentu bodoh. Sebodoh rencana Andrew dan kawan-kawan yang tak nampak disusun oleh para jago di bidangnya. Namun kebodohan tersebut sulit dipungkiri, terasa menyenangkan. We love surprises. Kala Overdrive yang overstuffed ini dikemas penuh kesadaran atas kebodohan miliknya, penonton pun tinggal duduk menikmati sambil mengistirahatkan otak. Dan walau keterbatasan biaya (dan imajinasi) menghalangi kegilaan maksimum menyerupai ide terbesarnya, Antonio Negret selaku sutradara masih punya visi mencukupi dalam menciptakan brainless action set piece. Duel (literally) kendaraan beroda empat melawan pesawat ialah referensi terbaik.

Beberapa kali Andrew dan Garrett membicarakan ayah mereka. Selain demi menanamkan (secara paksa) drama keluarga, seolah merupakan nod bagi si pemain film utama. Scott Eastwood memang masih karam di balik bayang-bayang sang ayah. Mungkin pesonanya masih amat jauh dibanding Clint, tetapi Scott menampilkan charm memadahi, cukup merepresentasikan sosok pendekar keren sesuai kebutuhan film. Ana de Armas sebagai Stephanie, kekasih Andrew, dan Gaia Wess sebagai Devin si pencopet pun serupa, walau bukan tokoh-tokoh dengan dengan penulisan solid, telah memenuhi kebutuhan filmnya selaku car movie akan aktris berparas cantik. Overdrive is fun. Brainless fun. Just don’t expect more