October 24, 2020

Paddington 2 (2017)

Sulit menjumpai live-action/animasi macam Paddington 2 dalam produksi Hollywood. Sebuah tontonan keluarga lucu tanpa eksploitasi humor slapstick, menyentuh di balik tuturan cerita sederhana, ringan tetapi digarap berlandaskan estetika tinggi. Seperti pendahulunya, film ini mengedepankan petualangan sang titular character (disuarakan Ben Whishaw), si beruang dengan topi merah dan mantel biru, yang sekarang menjalani kehidupan serasi bersama keluarga Brown di Windsor Gardens, London. Petualangan Paddington begitu murni, lantaran bukan soal mencari harta karun atau mengalahkan penjahat, melainkan perjuangan memperlihatkan hadiah terbaik bagi keluarga tercinta.

Benar masih ada antagonis, yakni Phoenix Buchanan (Hugh Grant) mantan pemain drama papan atas yang karirnya meredup. Ancaman yang ia hadirkan bagi protagonis pun didorong ambisi mengumpulkan harta tersembunyi di banyak sekali sudut kota London. Namun duo penulis naskah, Paul King (juga menyutradarai) dan Simon Farnaby, sanggup menekankan bahwa motivasi Paddington ialah memberi buku pop-up untuk bibinya, Lucy (disuarakan Imelda Staunton), sebagai kado ulang tahunnya yang ke-100. Tidak lebih dan tidak kurang. Sementara proses mengejar penjahat seutuhnya dibebankan pada keluarga Brown.
Buku berisi ragam landmark London itu begitu bermakna, alasannya Paddington berharap bisa memperlihatkan seisi kota kepada Lucy, yang semenjak dulu urung mewujudkan harapan menginjakkan kaki di London. Poin tersebut cukup menjadi pondasi, pula inti emosi jalinan alurnya. Sebagai penegas kiprah itu, King menyiapkan sekuen imajinatif kala dunia buku diwujudkan ke realita, dengan penonton bakal berada di posisi Lucy, terpukau oleh visualnya, tersentuh hatinya dikala diajak Paddington mengelilingi London versi karton. 

Visual merupakan unsur yang benar-benar dimaksimalkan oleh King dan tim. Setting, baik indoor atau outdoor dibungkus warna-warni lembut sembari sesekali beralih menuju kilauan kesan klasik di toko memorabilia. Tata busana tidak ketinggalan menghibur mata, khususnya seragam tahanan berwarna merah muda yang kolam menyatakan betapa dunia daerah Paddington tinggal ialah daerah di mana selalu ada kebaikan. Ditambah beberapa gaya pengadeganan unik sekaligus quirky (adegan prison break jadi pola terbaik), takkan berlebihan kalau sempat menerka Paddington 2 melibatkan campur tangan Wes Anderson.  
Terkait komedi, Paddington 2 enggan terjebak dalam pola familiar sajian live-action/animasi (baca: menyerupai banyak buatan Hollywood). Walau slapstick tetap mengiringi, tapi digunakan secukupnya, tak hingga terlampau sering melempar karakternya ke sana kemari. Sisanya ialah citra situasi anomali, menyerupai tarian penuh suka cita para narapidana yang efektif menghasilkan tawa, atau setidaknya memberi penonton kebahagiaan. Bukan formasi komedi yang akan menetap usang di ingatan, namun cukup memfasilitasi pengalaman menonton menyenangkan. 

Di jajaran pemain, Hugh Grant membuat villain yang sesuai dengan nuansa filmnya. Jahat, namun berperan juga memunculkan kelucuan, apalagi seputar penokohannya yang menyentil pemain drama selaku profesi “berbahaya” lantaran bertugas “menyuguhkan kebohongan”. Brendan Gleeson sebagai Knuckles, narapidana sekaligus koki yang ditakuti tahanan lain, bisa menguasai layar pada setiap kemunculan. Sedangkan bunyi Ben Whishaw menjaga semoga Paddington selalu jadi sentra yang gampang disukai, sambil turut didukung tingkah terbelakang plus tampangnya yang menggemaskan. Sebagai tontonan keluarga, Paddington 2 jelas sebuah paket lengkap.