November 30, 2020

Pariban: Idola Dari Tanah Jawa (2019)

Kalau anda mencari pemahaman mendalam mengenai budaya Batak lewat Pariban: Idola dari Tanah Jawa, maka anda akan pulang dengan tangan hampa, alasannya filmnya sendiri hanya berintensi memancing tawa penonton. Tapi apakah film berlatar luar Jawa harus menitikberatkan pada edukasi budaya? Tidak bolehkah mereka sekadar bersenang-senang layaknya karya-karya dari ibu kota?

Saya ingat perkataan Jordan Peele wacana Us beberapa waktu lalu. Dia ingin menciptakan film dengan protagonis kulit gelap yang bukan bicara soal rasisme. Itu pula yang coba dilakukan Andibachtiar Youtube Yusuf (Love for Sale, Romeo Juliet, Hari ini Pasti Menang), walau sanggup dipahami jikalau beberapa penonton berharap disuguhi eksplorasi akan pariban (bukan budaya Batak secara umum) ketimbang hanya wacana dua laki-laki berebut wanita, mengingat itulah tajuk yang filmnya usung.

Memakai gaya breaking the fourth wall, kita berkenalan dengan Halomoan (Ganindra Bimo), laki-laki kelahiran Jakarta berdarah Batak yang telah mendapat segalanya. Dia tampan, kaya raya berkat kesuksesan bisnis aplikasi miliknya, dan dikelilingi wanita. Meski mengencani banyak wanita, Moan yang telah berusia 35 tahun belum berniat menjalin kekerabatan serius. Sang ibu (Lina Marpaung a.k.a. Mak Gondut) yang kerap dicemooh teman-teman arisannya alasannya puteranya belum juga beristri balasannya menyuruh Moan pulang ke Samosir guna menikahi sepupunya, Uli (Atiqah Hasiholan).

Sepupu yang menjadi “hak” untuk dinikahi laki-laki Batak, demikian kira-kira definisi pariban. Walau bermodal tampang rupawan dan harta melimpah, membawa Uli ke Jakarta bukan perkara sederhana bagi Moan, alasannya si gadis tidak segampang itu terpikat rayuan, ditambah keberadaan Binsar (Rizky Mocil), laki-laki lokal yang telah usang menyayangi Uli. Pariban: Idola dari Tanah Jawa memang berhenti di tataran komedi-romantis soal cinta segitiga, sementara elemen kulturalnya cuma numpang lewat. Pemahaman terbesar yang didapat selain definisi pariban adalah begitu bagus pemandangan Samosir, berkat keberhasilan sinemtografi garapan Bill Tristiandy menangkap keindahan sarat kedamaian alam di sana, termasuk bentangan Danau Toba.

Atiqah kembali mempersembahkan performa apik nan dinamis, sehingga andaikan film ini diubah jadi 100 menit yang hanya berisi dialog Uli dengan abjad lain, saya yakin takkan merasa bosan. Atiqah memerankan perempuan berdikari dan cerdas yang tinggal dalam struktur sosial konvensional. Dia percaya perempuan punya hak memilih jalan hidupnya sendiri, sebuah perspektif yang sanggup memancing ukiran menarik antara sudut pandang kuno dengan modern. Sayang, skrip buatan Andibachtiar, Ridho Brado, dan Agustinus Sitorus urung melangkah ke sana.

Walau pantas disayangkan, itu bukan dosa besar. Sebab sebagai hiburan, Pariban: Idola dari Tanah Jawa bekerja amat baik. Humornya berani bermain di ranah absurditas kreatif, yang diterjemahkan dengan tepat ke layar oleh Andibachtiar. Banyak amunisi pemancing gelak tawa, tak hanya satu-dua senyum biasa, seolah ingin merobohkan stigma bahwa orang-orang Batak punya perangai mengerikan. Seisi auditorium tertawa lepas menyaksikan banyolannya, bersorak dikala situasi manis terjadi.  Romansa ringan dan relatable tentang pencarian jodoh terang berkontribusi, namun respon tersebut takkan hadir tanpa pesona Ganindra Bimo yang memadukan karisma dan kelucuan sehingga Moan menjadi protagonis likeable.

Bagi saya duduk perkara terbesar Pariban: Idola dari Tanah Jawa bukan minimnya pendalaman kultur, melainkan naskah yang berantakan. Alurnya banyak diisi lompatan agresif dan beberapa filler nihil substansi (pertandingan catur Moan melawan Binsar misalnya), yang makin menyulitkan penonton menikmati jalannya dongeng tatkala penyuntingan agresif turut ambil bagian. Pun keputusan memposisikan Pariban: Idola dari Tanah Jawa sebagai jilid pertama dari dua belahan cerita, di mana film berakhir di tengah jalan, turut melukai narasinya. Mencapai akhir, Moan masih seorang playboy yang belum memahami keburukan-keburukannya, atau dengan kata lain, karakternya tak mengalami progres. Saran saya, datanglah ke bioskop hanya untuk mencari tawa, dan anda akan pulang membawa kepuasan.