December 1, 2020

Pintu Merah (2019)

REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER!
Pintu Merah bukan tipikal horor yang pribadi angkat tangan perihal eksplorasi pandangan gres kemudian membiarkan ketiadaan plot plus jump scare murahan mengambil alih. Memiliki lima penulis naskah (termasuk sang sutradara, Noviandra Santosa), film ini terperinci mencurahkan daya upaya dalam usahanya membangun misteri, walau akibatnya kelemahan sanksi di banyak departemen berujung menghasilkan produk tamat yang belum sesuai harapan.

Protagonisnya berjulukan Aya (Aura Kasih), wartawan yang atas perintah atasan, harus menulis artikel mengenai inovasi jenazah di hutan. Awalnya Aya terpaksa, hingga ia menyadari bahwa: 1) Kasus serupa telah berulang kali terjadi selama bertahun-tahun; dan 2) Ini merupakan pembunuhan berantai. Berambisi mengambarkan diri, Aya nekat menginvestigasi kasus itu sendirian meski menerima saingan dari rekannya, Leo (Cornelio Sunny).

Penyelidikan Aya membawanya ke rumah sakit bau tanah yang diyakini punya peranan penting dalam rangkaian pembantaian tersebut. Rumah sakit ini sudah ditelantarkan selama 10 tahun, tidak terawat, namun dikala Aya memasuki sebuah pintu merah, ia menemukan pemandangan mencengangkan. Bangunan terbengkalai itu sekarang kembali baru. Kemudian, Aya pun bertemu Alex (Miller Khan), mantan karyawan rumah sakit yang tak sanggup mengingat kenapa ia berada di situ.

Ada kejanggalan. Konon, Aya ialah jurnalis kritis hebat analisis. Dia berteori bahwa si pelaku pembunuhan berantai sedang bersembunyi di rumah sakit. Jadi, kenapa Aya mau semudah itu mempercayai laki-laki tak dikenal yang melontarkan banyak ratifikasi ambigu? Saya rasa keengganan sang bos menaruh kepercayaan pada Aya merupakan keputusan tepat.

Berusaha mencari jalan keluar, Aya dan Alex justru terkejut kala menyadari keduanya terjebak di sebuah loop. Tidak peduli berapa kali menuruni anak tangga, mereka selalu kembali di lantai yang sama. Penceritaannya—walau kerap terasa jumpy dan mengalir tak semulus sebuah long take apik selaku penggambaran loop yang karakternya lalui—melahirkan misteri berdosis memadai guna menyulut keingintahuan.

Menyenangkan pula melihat bagaimana di debutnya, Noviandra Santosa berani menekan pemakaian jump scare, menyelipkannya hanya di momen yang benar-benar perlu (mayoritas dialokasikan bagi klimaks). Di luar sesosok bayangan hasil kreasi CGI, desain hantu Pintu Merah pun cukup solid, dari wajah-wajah angker di dinding, hingga figur bertopeng di paruh akhir. Sayang, bukan cuma jump scare klise saja yang dikesampingkan Noviandra bersama tim penulisnya, melainkan teror secara keseluruhan.

Proses penyelidikan Aya berlangsung datar akhir minimnya urgensi, sewaktu kedua protagonis kita amat jarang menemukan ancaman berarti. Keduanya sekadar berputar-putar, menemui keanehan-keanehan yang tak hingga mengancam keselamatan, menyulitkan timbulnya kekhawatiran akan nasib mereka. Diperparah lagi dengan akting jelek Miller Khan dan Aura Kasih, yang bicara layaknya dua orang gres melaksanakan meditasi. Kalem, tenang, dingin, datar. Tidak ada gejala jika nyawa mereka dalam bahaya.

Menjelang akhir, Pintu Merah mulai menderita penyakit khas horor kita (atau horor medioker di seluruh dunia), yakni titik puncak miskin intensitas yang ditutup terlalu cepat, dan menempuh jalur malas guna menjawab misterinya. “Semua ini insiden mistis” seolah jadi mantera ampuh sewaktu penulis naskah horor kehabisan pandangan gres wacana cara “membungkus” alur. Andai saja Noviandra bersedia menambah kadar penerangan, Pintu Merah mungkin bakal memiliki beberapa adegan disturbing di babak ketiganya. Namun serupa elemen lain, potensi itu terkubur oleh lemahnya eksekusi.