November 28, 2020

Pm Narendra Modi (2019)

Disutradarai oleh Omung Kumar (Sarbjit, Bhoomi) yang menyatakan diri sebagai pengagum Narendra Modi, tidak mengejutkan kala film mengenai Perdana Menteri keempat belas India ini terasa bagai kuil pemujaan. PM Narendra Modi adalah biografi politikus yang didesain layaknya hagiografi. Padahal, di samping cacat tersebut, terselip banyak elemen-elemen menjanjikan.

Prolognya klise, yakni perihal bagaimana ini bukan kisah soal seorang pria, tapi negara. Hampir semua film pengusung nasionalisme menerapkan narasi tersebut. Makara persiapkan diri melihat situasi cheesy, contohnya ketika Modi cilik, dengan senyum penuh kebanggaan, menghormati bendera di tegah jalan.

Kehidupan Narendra Modi (Vivek Oberoi) yang dipresentasikan film ini bahu-membahu menarik. Berangkat dari keluarga miskin penjual teh, Modi menentukan melaksanakan selibat dan hidup megembara sebagai pertapa, menjadi penggerak penuh wangsit cemerlang di RSS (Rashtriya Swayamsevak Sangh) untuk meruntuhkan pemerintahan korup, memperabukan nasionalisme rakyat dengan mendirikan bendera di tengah zona merah, kemudian menjadi Ketua Menteri Gujarat.

Dinamika hidup Modi menciptakan ajaran alur lebih kaya dan berwarna. Bahkan gelaran agresi sesekali mengisi, ketika serangan teroris serta kerusuhan pecah, termasuk kerusuhan berlandaskan agama di Gujarat tahun 2002, yang merupakan kontroversi terbesar sepanjang karir Modi. Ditulis oleh Vivek Oberoi dan Anirudh Chawla, menurut kisah buatan Sandip Ssingh, naskahnya tahu cara mengubah biografi politikus jadi hiburan bagi kalangan luas. Pergerakan ceritanya mulus, urung terjebak pada pembagian babak-babak bernafsu yang kerap menjangkit biopic, sementara sinematografi bagus garapan Sunita Radia (Hate Story IV, Baadshaho) dapat mewakili skala filmnya yang cukup besar.

Masalahnya terletak pada penokohan sang protagonis. Digambarkan sebagai politisi jujur pembenci koruptor yang bersedia turun ke lapangan dan bekerja secara kasatmata untuk mengambarkan komitmen selaku pelayan masyarakat, tentu banyak pihak memusuhi Modi. Rekan partainya iri atas popularitas Modi, sedangkan oposisi menempuh segala cara demi menjatuhkannya, dari serangan lewat isu agama hingga mengontrol pemberitaa negatif di televisi (Kok terdengar familiar ya?). Bahkan teroris Pakistan menginginkan nyawanya. Tapi tak sekalipun Modi tersudut.

Dia sedih, terpukul, terkejut, cemas, namun selalu muncul dengan solusi secepat kilat, yang menariknya (baca: anehnya) tak pernah gagal. Bukan saja orang suci yang mengedepankan kemanusiaan dan bersedia mengorbankan nyawa demi negara, rupanya Modi juga sosok jenius. Menurut film ini, Narendra Modi ialah insan tepat yang tidak terhentikan. Terlalu sempurna, hingga sulit menganggap serius karakterisasinya, biarpun Oberoi telah berusaha maksimal memerankan figur karismatik yang keras namun berhati mulia. Sebab tokoh yang beliau mainkan bukan manusia, tapi karikatur kartun.

Oberoi pun total menghantarkan formasi pidato membara Modi, tapi imbas yang dihasilkan minimum, alasannya hampir semua kata yang keluar dari lisan sang Perdana Menteri terdengar kolam orasi, bahkan ketika ia berbicara dalam situasi privat. PM Narendra Modi berambisi tampil sebesar dan sepenting mungkin, ambisi yang menjadikannya sebuah eksploitasi keagungan. Tapi ada satu momen menyentuh, tepatnya selepas kekacauan di Gujarat, ketika umat Islam dan Hindu berkumpul, kemudian saling bergandengan tangan. Dramatisasinya berlebihan, tapi hati saya tergerak. Mungkin alasannya saya memimpikan situasi serupa jadi pemandangan biasa di negeri ini.

Cheesy, tetapi Omung Kumar lebih piawai menangani situasi sederhana macam itu ketimbang pengadeganan berskala besar sebagaimana dipertontonkan klimaksnya, yang menampilkan kenekatan Modi tetap berkampanye di depan jutaan manusia, meski laporan intelijen memperingatkan kalau beberapa teroris Pakistan sedang mengincar nyawanya. Ketegangan memudar akhir kebingungan Kumar menentukan perpaduan tepat antara orasi Narendra Modi dan elemen thriller dalam perjuangan mencari posisi teroris selaku media pembangun intensitas.