November 26, 2020

Pocong The Origin (2019)

Pocong the Origin, selaku (meminjam istilah Monty Tiwa) “reinkarnasi” Pocong (2006) yang dihentikan tayang oleh LSF sebab dianggap membangkitkan luka lama  terkait bencana 1998 (konon film ini dibentuk menurut naskah sama), berusaha mencampur elemen horor dengan komedi, mengingatkan akan judul-judul legendaris Suzzanna. Tapi ada satu persoalan besar: filmnya gagal tampil menyeramkan.

Adegan pembukanya menjanjikan, kala pembunuh berantai berjulukan Ananta (Surya Saputra) sedang menanti waktu sanksi sambil mendengarkan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama milik Sundari Soekotjo. Saya menyukai keputusan film ini menggunakan nomor-nomor keroncong, yang di balik keindahannya sebagai karya seni, menyimpan mistisisme yang sanggup membuat kengerian bila dipakai secara tepat.

Selepas dieksekusi, mayat Ananta mesti dimakamkan di kampung halamannya sebelum lewat 24 jam. Jika tidak, ilmu banaspati yang ia miliki akan terus bangkit. Karenanya, Sasthi (Nadya Arina), puteri tunggal Ananta yang hidup menyendiri di bawah tekanan sosial akhir status sang ayah, ditemani Yama (Samuel Rizal) si sipir penjara, mesti mengantar mayat itu, dalam sebuah perjalanan penuh gangguan gaib.

Jalur menarik ditempuh Pocong the Origin, sebagai horor lokal langka (kalau bukan satu-satunya) yang meminjam unsur film road trip. Sayang, naskah besutan Monty bersama Eric Tiwa (Laskar Pemimpi, Barakati) tak cukup kreatif dalam menangani elemen tersebut, dan berujung melahirkan repetisi. Gangguan terjadi tiap Yama dan Sasthi menghentikan perjalanan, yang tidak pernah jauh dari dua hal, yakni antara Yama ingin kencing atau kendaraan beroda empat yang rusak. Pun respon keduanya hampir selalu sama: membuka telepon genggam, kemudian mengeluhkan hilangnya sinyal.

Seperti telah saya sebut, Pocong the Origin berniat membuat lagi sensasi horor-horor Suzzanna. Filmnya ingin memancing keriuhan penonton, di mana kita diperlukan berteriak histeris sembari tertawa lepas. Tawa sanggup ditemukan berkat humor efektif berupa situasi jenaka ketika tokoh-tokohnya dibentuk tunggang langgang oleh penampakan hantu, namun teriakan ketakutan urung hadir.

Menolak mengeksploitasi jump scare pantas diapresiasi, tapi pilihan itu tak otomatis membuat terornya lebih berdampak. Padahal Monty ialah orang di balik adegan penampakan pocong paling mengerikan sepanjang masa di Keramat (2009). Bukan cuma itu, kali ini Monty sempat coba melaksanakan “reka ulang” terhadap adegan “keranda mayat” dari film tersebut, tapi gagal memproduksi intensitas serupa. Terlebih, bagi sebagian penonton, riasan bagi para hantu di momen tersebut mungkin bakal tampak menggelikan.

Sedangkan ihwal membangun atmosfer melalui penerangan minimalis justru kerap menjadi bumerang. Tidak jarang adegan tampil terlampau gelap, meski harus diakui, gambar-gambar memikat masih sanggup sesekali ditemukan, berkat kelihaian Anggi Frisca (Sekala Niskala, Negeri Dongeng, Night Bus) selaku penata kamera bermain cahaya.

Jajaran pemain berusaha maksimal, khususnya Samuel dan Nadya. Semenjak Target tahun lalu, Samuel mengambil jalur sempurna bagi babak gres karir layar lebarnya, dengan menjauh dari tugas “cowok keren”, dan berani memainkan sosok konyol. Di sini ia tampil menghibur, meski saya bingung, bagaimana sanggup momen ketika ia salah mengucap “mas” menjadi “mbak”, lolos dari penyuntingan. Sementara Nadya cukup solid memerankan gadis yang terjebak di konflik batin. Biarpun amat mencintai sang ayah, ia tak sanggup menyangkal  jika Ananta ialah pembunuh berantai. Sebuah dilema menarik yang tidak sanggup dipresentasikan secara memuaskan oleh naskahnya.

“Lawan” Nadya ialah Jayanthi (Della Dartyan), jurnalis yang rahasia mengikuti Yama dan Sasthi demi memperoleh berita, sambil mengusung alasan personal sebab sahabatnya merupakan salah satu korban Ananta. Ketimbang drama thought-provoking berupa ukiran argumen dua pihak berlawanan, kita hanya disuguhi debat kusir tanpa selesai maupun jiwa, tatkala hanya volume bunyi yang meninggi, bukan kadar emosi.

Sebagaimana nasib banyak horor belakangan baik dalam atau luar negeri, Pocong the Origin kesulitan membuat babak ketiga yang mumpuni. Setelah usang menanti, konfrontasi final ketika banaspati mencapai puncak kekuatan berkat keberadaan blood moon, malah berujung pertarungan canggung nan antiklimaks, yang gagal menangkap reputasi pocong sebagai salah satu hantu Indonesia paling mengerikan.