November 25, 2020

Pokémon: Detective Pikachu (2019)

Pokémon: Detective Pikachu adalah sepenuhnya fan service. Artinya, jikalau bukan penggemar, mungkin karya penyutradaraan Rob Letterman (Shark Tale, Monsters vs. Aliens, Goosebumps) ini bakal terasa membosankan. Tapi jikalau menyerupai saya, yang menghabiskan masa kecil mengoleksi VCD orisinil seharga lima belas ribu rupiah, terkejut menyaksikan evolusi Magikarp menjadi Gyarados atau ketika Psyduck pertama kali pamer kekuatan, setidaknya anda bakal terhibur, bernostalgia, sambil tetap menyadari setumpuk kekurangannnya.

Diadaptasi dari gim Nintendo 3DS berjudul sama, Pokémon: Detective Pikachu berkisah perihal cowok berjulukan Tim Goodman (Justice Smith), mantan instruktur pokémon yang sekarang hidup sendirian menjalani pekerjaan membosankan. Sampai ia mendengar kabar janjkematian sang ayah, Harry Goodman, tanggapan kecelakaan kala bertugas (dia berprofesi sebagai polisi). Hubungan keduanya sendiri renggang sesudah Tim menolak tinggal bersama Harry pasca sang ibu meninggal ketika usianya gres 11 tahun.

Begitu datang di apartemen Harry, Tim justru bertemu Pikachu (Ryan Reynolds), yang anehnnya, dapat ia pahami perkataannya. Pikachu tersebut rupanya merupakan partner Harry. Dia percaya sang detektif masih hidup, dan meminta Tim membantu investigasinya, yang melibatkan aneka macam misteri, termasuk serangan pokémon terkuat ciptaan manusia, Mewtwo.

Filmnya berlatar di Ryme City, sebuah metropolitan di mana insan dan pokémon hidup serasi dan setara, berkat Howard Clifford (Bill Nighy) sang pebisnis visioner, yang memenuhi segala deskripsi sebagai “korporat jenius yang menyimpan rencana jahat”. Penokohan Howard, juga cerita mengenai “ayah yang kurang erat namun sejatinya mengasihi sang anak”, mengatakan bahwa Pokémon: Detective Pikachu dibangun atas pondasi klise. Tapi di antaranya, terselip banyak kelokan yang mampu menggiring plotnya semoga terus berjalan sekaligus menciptakan penonton mewaspadai tebakan mereka.

Sayang, elemen misterinya semakin kusut seiring waktu berjalan, dikarenakan para penulis naskahnya cuma kompeten melontarkan pertanyaan, namun tidak demikian kala harus mengeksplorasi lalu menjawabnya secara rapi. Akhirnya, Pokémon: Detective Pikachu gagal menjadi noir yang mengesankan, tapi bukankah hal itu dapat diduga? Diniati sebagai pembuka franchise, intensi utama film ini tentu menggaet akidah penggemar. Caranya? Apalagi kalau bukan fan service.

Keputusan untuk tak banyak mengubah desain pokémon, dengan hanya menambahkan detail realis secukupnya (bulu Pikachu, sisik Charizard, dll.), jadi kemenangan terbesar film ini, biarpun di beberapa kesempatan, inkonsistensi CGI cukup kentara. Saya terlempar menuju nostalgia begitu satu per satu wujud familiar memasuki layar, dari Lickitung si pengecap panjang, kebuasan Gyarados dan Charizard, Bulbasaur yang menggemaskan, hingga Mr. Mime yang menghadirkan humor paling lucu dan kreatif sepanjang film. Bicara soal komedi, walau agak sulit membiasakan diri mendengar bunyi Reynolds dari badan Pikachu, sang pemain drama menyerupai biasa piawai menangani momen komedik, sedangkan Justice Smith sebagai Tim si berakal balig cukup akal canggung sukses membangun chemistry solid dengan tokoh-tokoh CGI.

Para penggemar pun niscaya sadar bahwa Lucy Stevens (Kathryn Newton) si reporter magang sekaligus pemilik Psyduck yang membantu pemeriksaan Tim dan Pikachu, mengambil ide dari huruf Misty. Referensi-referensi kecil semacam itu memberi hiburan tersendiri, walau kepuasan terbesar berasal ketika lagu tema Pokémon terdengar, yang akan membuatmu terpengaruhi ikut bernyanyi bahkan selepas film usai. Penyutradaraan Rob Letterman mungkin belum sepenuhnya memenuhi potensi dalam merangkum pertarungan gila nan imajinatif antara bermacam-macam jenis pokémon, tapi selaku pembuka franchise, Pokémon: Detective Pikachu telah bekerja cukup baik.