November 24, 2020

Police Evo (2019)

Film produksi adonan antara Malaysia dengan Indonesia ini bagaikan quasi-reboot bagi seri Polis Evo. Walau masih menampilkan Shaheizy Sam dan Zizan Razak sebagai pemeran utama, filmnya berubah jalur dari buddy cop berbumbu komedi menjadi sajian police procedural yang lebih kelam. Cerita kedua film pun tak berkaitan, sementara pemilihan judulnya dibedakan, antara versi Malaysia (Polis Evo 2) dan internasional termasuk Indonesia (Police Evo).

Ceritanya mengetengahkan perjuangan pihak kepolisian memberantas kelompok teroris al-Minas, yang punya keterkaitan dengan pengedar narkoba berjulukan Riky (Tanta Ginting). Polisi Republik Indonesia yang membantu kepolisian Malaysia, menempatkan Rian (Raline Shah) sebagai kepetangan di kubu Riky. Tapi sehabis sebuah penyergapan yang gagal, Rian pun sadar bahwa ada pengkhianat yang selama ini selalu membocorkan planning polisi kepada Riky.

Celaka bagi Rian, suatu bencana membuatnya dituduh sebagai pembunuh. Guna membersihkan namanya, ia pun mesti meringkus Riky, yang menyimpan seluruh barang bukti. Situasi semakin kompleks sehabis Riky justru ditangkap pihak al-Minas, yang juga berencana menyandera puluhan warga pulau fiktif berjulukan Cherong. Al-Minas menuntut pembebasan ketua mereka, yang ditahan polisi pasca tertembak di suatu penyergapan berujung baku tembak.

Secara bersamaan, Inspektur Khai (Shaheizy Sam) dan Inspektur Sani (Zizan Razak) dari Malaysia pun tengah memimpin penyelidikan sebuah tim kecil di Cherong. Terjebak di situasi mematikan yang tidak terduga, kedua pegawanegeri beda negara itu pun harus bersatu, bukan hanya untuk melumpuhkan para teroris, pula melindungi nyawa puluhan manusia, termasuk mereka sendiri.

Timbul dilema penceritaan tatkala naskahnya kerepotan membagi fokus antar-karakter, yang masing-masing menyimpan potensi melahirkan konflik kompleks nan menarik. Misalnya Sani, yang sepanjang film menemui banyak sekali situasi—yang senantiasa melibatkan “pemakaian pistol” serta “menyelamatkan warga sipil”—di mana ia dituntut menarik keputusan cepat. Puncaknya ialah ujian terhadap prinsip sekaligus kondisi psikisnya, walau gejolak yang dihasilkan kurang dieksplorasi, pun berakhir terlampau gampang. Sedangkan story arc milik Rian yang menghadapi tuduhan palsu hanya berakhir selaku hiasan yang tak pernah terasa substansial, tidak peduli semeyakinkan apa pun Raline Shah memerankan jagoan agresi wanita.

Aktor Hasnul Rahmat memerankan Hafsyam, adik pimpinan al-Minas yang untuk sementara menggantikan tugas sang abang menggerakkan agresi para anggotanya “mencari surga”. Hasnul tampil apik memerankan antagonis sinting, seorang teroris seksis yang penuh keyakinan bahwa ia merupakan prajurit Tuhan. Sosoknya semakin mengerikan berkat kemampuannya mempermainkan psikis korban. Di tangan Hasnul, orasi-orasi Hafsyam mengingatkan saya betapa teroris pembawa bendera agama garis keras memang iblis mengerikan. Andai terdapat lebih banyak eksplorasi untuk ideologi Hafsyam, terlebih melihat keterlibatan al-Minas dalam bisnis jual-beli narkoba (yang mana diharamkan) demi membantu tercapainya tujuan mereka.

Jajaran agresi penuh letusan senjata maupun ledakan bom hadir dalam takaran tinggi, walau di banyak kesempatan, duo sutradara, Joel Soh dan Andre Chiew, terlalu bergantung pada quick cuts yang melucuti intensitas. Beruntung kelemahan itu dibayar lunas oleh keseruan babak ketiganya. Menampilkan musik heart-pumping garapan tim Maveriq Studios dan momen heroik tokoh-tokohnya, titik puncak menegangkan tercipta. Ketiga tokoh utama digiring menuju pertarungan maha berat yang bisa memancing saya bertanya, “Bagaimana mereka akan lolos dari semua ini?”. Police Evo juga layak diapresiasi atas kesediaan menghormati penonton dengan tak menerapkan deus ex machina sebagai alat penyelesai masalah, meski pilihan itu sejatinya terbuka lebar.

Di dalam medan perang berbahaya di Pulau Cherong, sosok Shaheizy Sam paling menonjol. Dikenal sebagai pemain film penuh kesepakatan yang bersedia mengubah tubuhnya demi peran, Shaheizy bukan cuma terlihat meyakinkan selaku jagoan agresi lewat otot-otot besarnya, pula mengerahkan seluruh daya upaya kala menangani luapan-luapan emosi juga pertarungan hard-hitting.