November 25, 2020

Pretty Boys (2019)

Mengangkat seluk-beluk di balik layar dunia pertelevisian, dibintangi duet simpulan hayat Deddy Mahendra Desta dan Vincent Rompies serta ditulis naskahnya oleh Imam Darto (sebelumnya pernah menulis judul rilisan tahun 2008, Coblos Cinta), yang mana seluruhnya merupakan pelaku industri tersebut, Pretty Boys semestinya dapat lebih dari “sekadar” menghibur, andai dibarengi eksplorasi mendalam sekaligus konsistensi dalam mengutarakan pesan.

Tapi bila anda tiba sebab ingin tertawa menyaksikan kekonyolan khas Vincent-Desta, maka debut penyutradaraan Tompi ini bakal memuaskan. Memerankan Anugerah dan Rahmat, sepasang sahabat yang semenjak kecil bermimpi menjadi pembaca program televisi, keduanya eksklusif melontarkan dagelan berbentuk tebak-tebakan receh, atau banyak sekali pelesetan ringan lain yang selama ini terbukti sukses menciptakan publik menyukai kemunculan mereka di layar kaca.

Berangkat dari desa menuju Jakarta berbekal impian (dan kenekatan) tinggi, karir Anugerah dan Rahmat justru mentok sebagai karyawan restoran. Tapi mereka enggan menyerah. Didukung pula oleh Asty (Danilla Riyadi), rekan kerja sekaligus gadis yang disukai Anugerah namun tak kunjung ia tembak, semua jalan dicoba. Hingga anjuran menjadi penonton bayaran untuk program bincang-bincang yang dikoordinir oleh Roni (Onadio Leonardo), secara tak terduga membuka lapang jalan menggapai cita-cita.

Dari judulnya tentu anda dapat menebak bahwa Pretty Boys hendak menyentil gosip kegemaran stasiun televisi menggunakan lawakan “banci-bancian”. Seolah ada hukum tak tertulis bila seseorang ingin terkenal, jadilah pelawak dengan aksara banci. Perihal mengungkap dunia gelap di balik gemerlapnya industri televisi, kejujuran filmnya pantas dipuji. Walau digawangi para penggiatnya, Pretty Boys tak berusaha mempermanis realita.

Hanya saja, sebagai karya “orang dalam”, naskahnya minim fakta baru. Perihal eksploitasi tokoh transgender, kolusi manajer dan pihak acara, hingga pembayaran gaji yang mencapai berbulan-bulan, sudah jadi belakang layar umum (mungkin khusus soal gaji saja yang belum). Pun terkait gimmick transgender, paparan isunya problematik. Kalau Pretty Boys ingin mengkritisi poin itu, filmnya sendiri membangun humor berlandaskan hal serupa. Jangan salah, ini bukan urusan ofensif atau tidak, melainkan konsistensi narasi. Lain dongeng bila soal “kepalsuan demi popularitas” yang coba disampaikan. Masalahnya, naskah Imam Darto kurang berpengaruh menggiring sindirannya ke ranah itu.

Biarpun menampilkan dua protagonis, sosok Anugerah terperinci lebih menonjol dengan kehadiran elemen drama dalam story arc-nya. Dia terlibat konflik dengan sang ayah (Roy Marten), mengalami pergolakan jati diri, juga kesulitan mengutarakan cinta kepada Asty. Benang merahnya ialah keraguan Anugerah mengambil kesempatan. Di sini inkonsistensi timbul lagi. Di satu sisi, Pretty Boys berkata “jangan membuang kesempatan”, padahal kritik utamanya ditujukan bagi para pelaku industri yang mengambil kesempatan.

Kelemahan narasi setidaknya berhasil ditambal komedi yang paling tidak  dapat memancing senyum. Dalam debut penyutradaraannya, Tompi juga melahirkan barang langka berupa komedi lokal yang menolak menggunakan kemasan artistik seadanya. Sebagai seorang musisi sekaligus fotografer, tidak heran Tompi melahirkan film bervisual cantik, pula diisi formasi lagu pembuai telinga, termasuk Kembali Putih Lagi milik Danilla. Disokong sinematografi Wirawan Sanjaya, visual Pretty Boys begitu memperhatikan permainan cahaya serta kombinasi warna, alias bukan asal terang.

Di jajaran pemain, Vincent dan Desta senantiasa dapat diandalkan urusan chemistry kala mengocok perut. Teruntuk Vincent, kapasitas aktingnya diuji kala harus menghidupkan pergulatan batin Anugerah. Tidak spesial, namun tidak pula mengecewakan. Tidak kalah menghibur ialah gaya feminnin Onadio, sedangkan Danilla tampil solid dalam kapasitas love interest, meski sayangnya, subplot romansa yang melibatkannya terkesan inkonklusif. Atau jangan-jangan Anugerah…..