November 30, 2020

Psp: Gaya Mahasiswa (2019)

PSP: Gaya Mahasiswa merupakan tipikal tontonan yang menghibur berkat semangat bersenang-senangnya, meski secara filmis sejatinya kacau. Penonton pemula takkan membawa pulang banyak pemahaman gres perihal oktet dangdut humor legendaris Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, tapi kalau menyaksikan delapan laki-laki melontarkan dagelan semaunya—dengan beberapa di antaranya justru semakin garing semakin lucu—termasuk selera anda, maka PSP: Gaya Mahasiswa bisa jadi satu setengah jam yang cukup menyenangkan meski gampang dilupakan.

PSP terdiri dari Monos (Imam Darto), Rojali (Boris Bokir), Ade (Abdur Arsyad), Andra (David Schaap), Adit (Wira Nagara), Dindin (Uus), James (Dimas Danang), dan Omen (Adjis Doaibu). Mereka dikenal sebagai mahasiswa dengan setumpuk tingkah usil, termasuk membajak pidato rektor yang jadi momen perkenalan penonton dengan kegilaan delapan perjaka ini. Di luar kampus, mereka juga sekelompok musisi yang kesulitan menerima panggung, alasannya yakni pada masa di mana musik elektronik berkuasa, tiada daerah bagi orkes dangdut macam PSP.

Walau mengangkat kisah musisi legendaris, naskah buatan Hilman Mutasi (The Tarix Jabrix 5 cm, Benyamin Biang Kerok), Yanto Prawoto (Check in Bangkok, CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu), dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Jailangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) justru seolah kurang tertarik menggali ranah musikalitas OM PSP. Kita tidak tahu bagaimana proses kreatif mereka. Tentu lagu-lagu PSP tetap memancing senyum, namun lebih banyak didominasi momen musikal hanya dijadikan selipan, nyaris tanpa relasi dengan plot, pula dikemas ala kadarnya oleh Hilman Mutasi selaku sutradara.

Naskahnya pun tidak membantu perihal menyeimbangkan delapan aksara semoga bisa menyebarkan bobot sama rata, jawaban kegagalan memberi penokohan berlainan kepada tiap anggota PSP. Kelakuan kedelapan perjaka ini begitu mirip, sehingga nama-nama menyerupai Andra, Adit, dan Omen dipastikan karam dikala memperoleh bahan serba berkekurangan, baik dari segi kuantitas atau kualitas.

Beruntung, jajaran pemain yang menerima porsi lebih bisa tampil maksimal guna menciptakan filmnya tetap bertenaga. Bersenjatakan gaya abstrak dan hiperbola khasnya, Uus paling menonjol. Tidak semua humor PSP: Gaya Mahasiswa sekreatif adegan “pembuatan video kiprah kuliah”, sehingga totalitas (plus kemungkinan beberapa improvisasi cerdik) Uus berkhasiat meniru daya bunuh lawakannya.

Besar kemungkinan, penonton yang gemar duduk, mengobrol, sambil bersenda gurau bersama kawan-kawan di warung kopi hingga pagi (seperti saya) punya kecocokan lebih tinggi dengan lawakan film ini. Misalnya momen “kaki terinjak”, yang notabene salah satu bentuk komedi paling klasik dan sudah semakin garing, malah efektif memancing tawa meski dilontarkan berkali-kali. Semua berkat penghantaran para pemain. Ketimbang sosok bintang film yang diwajibkan melucu di depan kamera, mereka kolam tengah melucu dengan santai di tengah teman-teman. Atmosfernya menyenangkan.

Akan semakin menyenangkan andai PSP: Gaya Mahasiswa diberkahi penulis naskah mumpuni. Daripada satu kisah besar, ketiga penulis justru menciptakan film ini menyerupai kompilasi subplot. Ada soal romansa, kehadiran Fatimah (Aura Kasih) si ibu kos gres yang bagus nan seksi, sulitnya hidup sebagai musisi, persahabatan, hingga kisah terkait satpam (Iyang Darmawan) di kampus PSP yang nantinya bermuara kepada pesan anti-hoax. Cabang-cabang tersebut urung bersatu padu, dan alih-alih saling melengkapi, justru menyerupai berlomba saling mengungguli. Belum lagi transisi bernafsu kerap menciptakan kemunculan suatu momen terasa acak, tanpa ditautkan secara layak dengan insiden sebelum atau setelahnya.

Setumpuk subplot tadi sejatinya sanggup dimanfaatkan selaku solusi kesulitan menyeimbangkan porsi karakternya, dengan cara membagi rata kisah-kisah itu kepada tiap anggota PSP. Sayangnya itu urung dilakukan, sehingga PSP: Gaya Mahasiswa tetap menjadi komedi kacau tak seimbang, yang setidaknya masih menyimpan kapasitas menyulut tawa.