October 20, 2020

Rafathar (2017)

Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta formasi alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata “tapi” dan tidak jarang hasil kesannya memecah penonton menjadi dua kubu, semoga demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air terang layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar perjuangan Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang gres dua tahun, namun sanggup juga dipandang selaku angin segar, sebab sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara pribadi nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan agresi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua insiden ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar yaitu anugerah sesudah bertahun-tahun ijab kabul tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung referensi serupa Baby’s Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibentuk kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah lawakan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak hingga memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar “siksaan” terhadap duo penculik kolot itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstickRafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk bekerjsama tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak sanggup hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan tidak mengecewakan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai aksara yang setipe dengan seluruh tugas di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hitandmiss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, mudah Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot berpengaruh bukan kebutuhan utama, namun lain kisah ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang selesai mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan sebab sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah jikalau diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung tidak mengecewakan hingga datang titik puncak pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, ketika acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung akhir CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim perjuangan memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi sebab mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.

Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL