November 20, 2020

Rambo: Last Blood (2019)

Berawal dari dongeng wacana veteran Perang Vietnam pengidap PTSD yang malah diburu di negeri sendiri dalam First Blood (1982), seri Rambo berevolusi jadi suguhan agresi one-man army pada tiga sekuelnya. Dari kritik terhadap kelalaian Amerika Serikat menangani kondisi psikis para veteran, Rambo III (1988) justru melangkah ke arah berlawanan dengan membawa protagonisnya menyadari bahwa ia tak dapat lepas dari takdir sebagai mesin pembunuh.

Konsistensi dongeng memang bukan kekuatan utama Rambo, lantaran satu kiprah yang dibebankan kepada penulis naskahnya yakni mencari cara mengembalikan John Rambo (Sylvester Stallone)—yang selalu ada di “mode pensiun” di awal film-filmnya—ke medan pertempuran. Mau hingga kapan pun seri ini dilanjutkan bukan masalah, selama tujuan menghantarkan hiburan berhasil dicapai. Tapi film kelima ini terperinci membuang kesempatan memberi final yang pantas bagi Rambo, meski sebagai tontonan aksi, daya pikatnya sukar ditolak.

Melanjutkan konklusi film keempat, kini Rambo menjalani kehidupan tenang di rumah peninggalan orang tuanya, di mana ia menghabiskan hari merawat kuda sambil sesekali menjadi relawan. Ya, ia bukan lagi sosok apatis yang menganggap menyelamatkan segelintir nyawa takkan membuat perbedaan menyerupai di Rambo (2008). Bahkan Rambo rutin dihantui beberapa kegagalannya menyelamatkan orang lain.

Intinya, hero kita masih bergulat dengan masa lalu. Terbukti, biarpun telah mempunyai rumah, Rambo menentukan tinggal di rubanah sembari membangun terowongan entah untuk apa. Bedanya, kini beliau tidak sendiri. Ada Maria (Adriana Barazza) yang telah melayani keluarga Rambo semenjak lama, dan Gabrielle (Yvette Monreal), keponakan Rambo yang sudah dianggapnya puteri sendiri.

Memberi Rambo figur keluarga menghasilkan nuansa berbeda. Sebuah nuansa keintiman hangat yang tidak dipunyai film-film sebelumnya, ketika Rambo selalu jadi “serigala penyendiri”. Pun elemen itu, walau klise, merupakan pilihan jitu dari naskah garapan Matt Cirulnick (Paid in Full) dan Stallone, alasannya yakni kali ini Rambo punya alasan besar lengan berkuasa untuk kembali mengangkat parang, busur, dan pistol.

Berniat mencari keberadaan ayah kandungnya di Meksiko, Gabrielle justru diculik kartel setempat. Setelah Vietnam, Afghanistan, dan Burma, kini giliran Meksiko jadi lahan pembantaian John Rambo. Tapi Last Blood hadir dengan pendekatan berbeda, khususnya dibanding film kedua dan ketiga. Sutradara Adrian Grunberg (Get the Gringo) membungkus aksinya memakai sadisme serupa Rambo, sedangkan unsur dramatik First Blood diterapkan dalam wujud drama keluarga yang membuat penonton mendukung usaha sang tokoh utama.

Kemudian, sebelum babak ketiga, tiba momen pengecoh ekspektasi, sekaligus pembuka jalan bagi sekuel. Sekali lagi, aku dengan bahagia hati menyambut judul-judul berikutnya, namun tindakan berani tersebut telah membunuh peluang memproduksi final yang pantas bagi seorang John Rambo, bukan cuma di Last Blood, pula dalam formasi installment berikutnya (kalau ada).

Setidaknya kekecewaan aku itu sedikit terobati kala klimaksnya menghadirkan pembantaian massal brutal, tatkala Rambo kembali ke mode survival, memasang perangkap-perangkap mematikan sebagaimana ketika ia membantai polisi lokal di tengah hutan dalam First Blood. Kadar kekerasannya tidak main-main. Darah mengalir, badan meledak, kepala terbelah, kaki serta tangan terpotong, hingga bentuk sadisme ekstrim lain yang bakal membuat pecinta gore bersorak.