November 27, 2020

Ready Or Not (2019)

Pernikahan itu menyeramkan. Pertanyaan “sudahkah saya siap?” bakal setia menggelayuti. Tapi kita takkan pernah siap berada di posisi Grace (Samara Weaving), tatkala keluarga sang suami (Keluarga Le Domas) bukan cuma menolak, tapi berusaha membunuhnya. Dan sembari Grace ketakutan setengah mati, penonton diajak bersenang-senang menikmati penderitaan sang protagonis.

Sejatinya Grace telah mengetahui bahwa Alex (Mark O’Brien) punya keluarga disfungsional. Si ayah mertua (Henry Czerny) membencinya, si abang ipar (Adam Brody) gemar merayunya, sementara Helene (Nicky Guadagni), bibi Alex, terus memandanginya lewat tatapan menghantui. Grace siap menghadapi kesulitan adaptasi, tapi tidak dengan ritual absurd yang memaksanya mengikuti permainan sempurna tengah malam selepas upacara pernikahan.

Ritual ini yaitu rutinitas, layaknya perploncoan bagi calon anggota keluarga baru. Kenapa melalui permainan? Karena kekayaan melimpah Dinasti Le Domas dibangun di atas bisnis permainan. “Kamu hanya perlu bermain”, demikian ucap Alex guna menenangkan sang istri. Tiba tengah malam, dan Grace mesti menentukan jenis permainan dengan mengambil kartu acak dari kotak misterius, yang konon diperoleh kakek buyut Keluarga Le Domas dari seorang laki-laki berjulukan Mr. Le Bail.

Grace menarik kartu bertuliskan “Hide & Seek”. Bukan petak umpet biasa tentunya, alasannya yaitu di sini Grace mesti bersembunyi dari kejaran Keluarga Le Domas yang berusaha membunuhnya sebelum matahari terbit. Muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi jikalau Grace menerima kartu lain?”. Permainan lain terang lebih ringan, melihat banyaknya menantu Keluarga Le Domas yang selamat. Sebuah eksplorasi embel-embel yang pasti menambah daya tarik, namun ketiadaannya bukanlah dosa.

Terpenting, bagaimana Ready or Not menghantarkan hiburan efektif melalui sajian horor/thriller seru berbumbu komedi hitam yang cenderung brutal. Tingkat kekerasannya di atas rata-rata, yang bersumber dari situasi sepeti wajah meledak, kepala pecah, pemenggalan, dan lain-lain. Tapi hampir seluruh kebrutalan tersebut berujung memancing tawa, tatkala duo penulis naskahnya, R. Christopher Murphy (Minutes Past Midnight) dan Guy Busick, berani menerapkan selera humor unik sekaligus sakit milik mereka.

Filmnya semakin menggelitik pasca kondisi berbalik, ketika Keluarga Le Domas yang awalnya ditampilkan kolam gerombolan psikopat, mulai mengatakan kecanggungan, ketidakmampuan, serta kebodohan masing-masing, sedangkan Grace sang buruan pelan-pelan menemukan pijakan bahkan berbalik mengancam para pemburunya.

Diperankan begitu apik oleh Samara Weaving, sosok Grace jadi bukti konkret bahwa skena horor butuh lebih banyak figur protagonis perempuan yang sanggup melawan balik. Selain tampak tangguh, Samara pun bisa menangani perilaku (dan tutur kata) “peduli setan” milik Grace untuk membuat situasi komedik yang tak jarang histerikal. Serupa kesuksesan Jessica Rothe dalam tugas serupa di seri Happy Death Day, Samara Weaving pantas menerima perhatian lebih selepas film ini.

Sayang, penyutradaraan duet Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (V/H/S, Devil’s Due, Southbound) kerap kurang bisa mengejar naskah playful dan performa energetik sang aktris utama. Di beberapa kesempatan, khususnya momen agresi bernuansa kacau, sulit melihat detail insiden jawaban pemakaian close up plus pergerakan kamera yang terlampau cepat. Pun keduanya tak kuasa memberi pertolongann ketika naskahnya sempat kehabisan inspirasi jelang babak ketiga, di mana jalan menuju ke sana disusun oleh repetisi melelahkan.

Beruntung, baik departemen penulisan maupun penyutradaraan sama-sama enggan menahan diri meluapkan banjir arah pada titik puncak yang menyentuh ranah horor splatter, kolam adonan Scanners dan Dead Alive. Pun selagi menggila, Ready or Not tak ketinggalan menyisipkan pesan, dari duduk perkara keluarga menyerupai tumpuan asuh, keserakahan, hingga pertanyaan, “Jika seseorang memihak keluarga ketimbang pasangan hidupnya, apakah itu sungguh wujud kasih sayang atau sebatas perilaku pengecut?”