October 20, 2020

Ready Player One (2018)

Pada 2045 ketika dunia menjadi kumuh jawaban overpopulasi, polusi, korupsi, dan perubahan iklim, umat insan menentukan “kabur” ke OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), dunia virtual ciptaan James Halliday (Mark Rylance) yang sanggup diakses menggunakan kacamata VR, di mana seseorang bebas menjadi siapa saja serta melaksanakan apa saja. Pada 2018 ketika dunia kerap lupa bersenang-senang, umat insan mestinya “kabur” ke Ready Player One, dunia imajinatif ciptaan Steven Spielberg, yang sebaiknya dinikmati menggunakan kacamata 3D. Kostum XI sanggup memaksimalkan sensasi OASIS yang karakternya alami,  sedangkan format 4DX menghasilkan dampak serupa bagi filmnya.

Berasal dari novel fenomenal berjudul sama buatan Ernest Cline (juga selaku penulis naskah bersama Zak Penn) yang dipenuhi rujukan kultur terkenal 80-an, terperinci tak ada yang lebih pantas menggarap penyesuaian layar lebarnya selain Spielberg. Pertama, ia termasuk sosok paling besar lengan berkuasa yang membentuk kultur terkenal masa itu lewat trilogi Indiana Jones (1981-1989), hingga E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Kedua, tidak ada sutradara sehebat dirinya tentang merangkai hiburan visioner kental kreativitas bertabur dampak Istimewa berskala besar. Sekali lagi, TIDAK ADA.
Wade Watts (Tye Sheridan), bocah yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di pemukiman kumuh di Columbus, Ohio, merupakan protagonis kita. Seperti orang-orang yang lebih betah memamerkan diri di dunia maya (baca: sosial media) alasannya ialah merasa sosok aslinya payah, Wade pun menghabiskan dominan waktunya di OASIS. Menggunakan avatar berjulukan Parzival, Wade mengikuti kompetisi mencari easter eggs yang ditinggalkan Halliday sebelum meninggal. Si pemenang bakal mewarisi kepemilikan OASIS plus hadiah-hadiah lain. Masalahnya, rintangan yang mesti dihadapi teramat sulit, belum lagi ancaman dari Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) beserta perusahaan penyedia peralatan VR miliknya, IOI (Innovative Online Industries), yang berambisi menguasai OASIS.

Saya berharap Ready Player One meluangkan sedikit lagi waktu menyelami dunia maupun karakternya lebih jauh, namun kehebatan Spielberg merangkai spectacle menciptakan saya tidak keberatan pribadi terjun ke dalam agresi bombastis semenjak menit awal. Balapan melintasi versi OASIS untuk New York di mana bola-bola besi raksasa, T-Rex, hingga King Kong telah menanti guna menggagalkan usaha menemukan easter eggs. Ini gres tahap pertama, tapi itu urung memudahkan usaha Parzival dengan kendaraan beroda empat “Back to the Future” miliknya menembus garis akhir. Begitu pula Art3mis (Olivia Cooke), sosok pemain terkenal pengendara motor merah dari animasi Akira yang jadi pujaan Parzival.

Balapan tersebut menandakan betapa Spielberg paham cara membangun tensi. Reruntuhan gedung yang menciptakan kendaraan beroda empat saling bertabrakan, amukan King Kong yang menghancurkan kendaraan pemain layaknya mainan plastik murahan, bukan sekedar pawai CGI. Terdapat dimensi, bobot, alih-alih gambar rekayasa komputer yang beterbangan tanpa massa tubuh. Berkatnya, kesan bahwa para tokoh sungguh terancam ancaman pun terasa. Menegangkan, tetapi Spielberg tak pernah lalai menyuntikkan nuansa senang-senang.
Ready Player One mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia faktual maupun maya. Keseimbangan itu dibutuhakan. Spielberg wants us to know what it feels like to live our lives at its fullest. Caranya ialah meniadakan set piece yang sifatnya filler. Total ada 3 kunci dibutuhkan demi mendapat hadiah dari Halliday, dan tiap fase pencarian kunci mengandung momen penyulut decak kagum dan sorak sorai berupa visualisasi kelas wahid Spielberg terhadap ilham tertulis Cline. Di tangan Spielberg, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau rujukan budaya populer?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tur mengelilingi Hotel Overlook, lantai dansa nol gravitasi dilengkapi lagu Stayin’ Alive, sampai pergumulan “tiga raksasa” di titik puncak kolam fase alamiah yang wajib alurnya lalui.

Tetap ada cela. Sebagai film mengenai permintaan semoga tak melupakan realita, adegan “dunia nyata” film ini kekurangan daya pikat. Saya merasa menyerupai manusia-manusia di dalamnya yang menentukan kehidupan OASIS ketimbang kenyataan. Satu-satunya momen (mendekati) realita yang tampil menarik terletak menjelang akhir, Mark Rylance menunjukkan akting kaya sensitivitas sebagai Halliday, si laki-laki jenius yang introvert pula canggung soal sosialisasi. Namun di kemunculan pamungkasnya, dibalut kehangatan ala Spielberg, Rylance mengatakan bahwa Halliday telah berubah. Lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak. Kita semua bisa mengalami perubahan serupa asal tidak terlampau usang menetap di dunia maya.