October 21, 2020
Film / REVIEW / US

Review : 10 Cloverfield Lane


“Crazy is building your ark after the flood has already come.”
Ada tiga abjad inti yang menjadi ujung tombak bagi 10 Cloverfield Lane; Michelle (Mary Elizabeth Winstead), Howard (John Goodman), dan Emmett (John Gallagher, Jr.). Ketiganya mendiami sebuah bunker di bawah ladang jagung milik Howard karena si empunya bunker percaya ada ancaman tak terjelaskan mengintai di permukaan tanah. Tanpa membeberkan sedikitpun informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi – walau hanya secuil sekalipun – penonton dibiarkan dalam fase bertanya-tanya dengan rasa kepenasaran tinggi. Si pembuat film yang gres saja melaksanakan debut layar lebarnya disini, Dan Trachtenberg, menginginkan kita untuk memperlihatkan fokus lebih kepada interaksi maupun perkembangan ketiga abjad utama. Mereka bertiga ialah sekumpulan orang absurd tanpa ada tali penghubung satu sama lain yang kebetulan dipertemukan oleh nasib buruk. Siapa mereka? Mengapa mereka sanggup berada di kawasan tersebut? Apa mereka ialah orang-orang yang sanggup dipercaya? ialah pertanyaan yang mungkin menghantuimu setidaknya hingga 10 Cloverfield Lane mencapai separuh perjalanan. 

Mulanya kita mengetahui bahwa Michelle sanggup berada di dalam bunker sesudah diselamatkan oleh Howard dari kecelakaan mobil. Menjelaskan menyerupai apa kondisi Michelle akan sedikit banyak besar lengan berkuasa terhadap kesenanganmu dalam mengonsumsi film ini nantinya. Yang jelas, muncul ketidaksukaan pada sosok Howard atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Dimainkan dengan begitu brilian oleh John Goodman, Howard terlihat mengerikan dan mengancam. Kelewat serius, enggan untuk menyunggingkan senyum, dan gampang meletup kala aturannya dilanggar memposisikannya sebagai tokoh antagonis. Kita menaruh curiga kepada Howard sampai-sampai muncul pertanyaan lain, “benarkah memang ada peristiwa di luar sana menyerupai yang dideskripsikannya?.” Namun ketika antipati terus menggunung, plot yang dirancang keroyokan oleh trio Josh Campbell, Matt Stuecken, dan Damien Chazelle perlahan tapi niscaya mulai berbelok. Dipaksa bersama dari waktu ke waktu, korelasi baik mulai terbentuk diikuti melunaknya Howard. Memasuki titik ini, kita mulai mencurigai asumsi-asumsi yang telah susah payah dibangun diri masing-masing semenjak awal. 

Mengenang keluarganya yang mungkin telah tiada, mendadak ada simpati tersemat ke Howard. Saking meyakinkannya perubahan emosi Goodman, malah kejengkelan sempat berpindah ke Michelle alasannya kesan tidak adanya respek pada seseorang yang (mungkin) telah menyelamatkan nyawanya. Mary Elizabeth Winstead sendiri memainkan lakon Michelle dengan karisma cukup kuat. Karakternya tidak ditempa sebagai sosok lemah tak berdaya – katakanlah, murni damsel in distress – atau memiliki kecantikan yang tidak dibarengi kecerdasan. Tidak. Dia menerjemahkan arti sebuah heroine yang gampang untuk disukai, gampang untuk diberi simpati, sekaligus gampang untuk didukung. Meski kengeyelannya demi melihat kembali dunia luar sempat berada di titik mengesalkan yang itupun semata-mata alasannya kita mulai dibentuk percaya oleh celotehan Howard, namun kita tetap sanggup sangat memahami posisinya. Apalagi Michelle sanggup berada di dalam bunker juga bukan alasannya kemauannya secara personal. Berubah menjadi pribadi sangat menyenangkan begitu film beralih ke mode ‘agak ceria’ dan menjalin chemistry bagus bersama John Gallagher, Jr., pesona Winstead kian bersinar tatkala sebuah diam-diam tersibak yang memberi kesempatan baginya untuk memperlihatkan sisi tangguh Michelle. 

Kehebatan jajaran pelakonnya dalam menginterpretasikan tugas masing-masing inilah yang membantu 10 Cloverfield Lane terhindar dari kubangan ‘menjemukan’ yang berpotensi menyergap karena latar kawasan secara umum dikuasai hanya berlangsung di dalam bunker. Mereka ‘mendistraksi’ penonton dari kenyataan bahwa laju film merangkak begitu perlahan – utamanya pada paruh awal – kemudian tanpa disadari telah merebut perhatian penonton sepenuhnya sehingga keberatan pun sanggup disingkirkan. Kinerja memuaskan para bintang juga memperoleh santunan tepat dari Bear McCreary yang memberi iringan musik menghantui, tangkapan kamera Jeff Cutter yang penuh kelihaian dalam memancarkan nuansa klaustrofobik, trio penulis naskah yang membuat plot mengikat yang didalamnya mengandung berlapis-lapis twist penuh kejutan menghentak serta Dan Trachtenberg yang begitu piawai dalam memvisualisasikan isi naskah. Berkat kerjasama tim yang solid, 10 Cloverfield Lane sanggup tersaji sebagai sebuah tontonan mencekam yang sungguh mengasyikkan sekaligus memuaskan.

Outstanding (4/5)