October 17, 2020

Review : 13 Hours: The Secret Soldiers Of Benghazi


“You can’t put a price on being able to live with yourself.” 

Sebagai seseorang yang tidak bisa lagi menikmati karya Michael Bay paska sang sutradara menekuni dunia penuh keglamoran efek khusus di Transformers, saya sungguh terkejut mendapati apa yang telah diperbuat Bay di 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi. Para penggemar beratnya mungkin mempunyai pendapat berbeda, namun bagi saya, 13 Hours menempati salah satu posisi teratas di formasi film-film terbaik yang pernah dibentuk oleh Michael Bay. Sudah sembilan tahun lamanya, atau sejak Transformers jilid pertama, tidak pernah kembali mencicipi sensasi menonton dalam tingkatan puas kala melahap karya-karya pembesut Armageddon tersebut. Memang sih sebagai sebuah film yang sama-sama mengusung wacana kisah patriotisme tentara Amerika Serikat dalam ‘misi suci’ di negeri orang 13 Hours tidak berada di level setara dengan Black Hawk Down, The Hurt Lockers ataupun American Sniper yang lebih kental permainan emosinya, tapi film menurut buku bertajuk sama rekaan Mitchell Zuckoff ini tetaplah suatu produk unggul yang akan membuatmu mengalami guncangan cukup jago di dalam bioskop karena penggambaran realistisnya perihal kondisi peperangan. 

Meski Benghazi, Libya, ditetapkan sebagai salah satu lokasi paling berbahaya di muka bumi pada tahun 2012 alasannya kepenguasaan kelompok-kelompok militan di tengah kondisi vacuum power dan perwakilan politik negara-negara lain telah menentukan hengkang, Amerika Serikat menolak menutup kantor konsulatnya. Pihak CIA merekrut sekelompok mantan pasukan elit yang terdiri dari Jack Da Silva (John Krasinksi), Rone (James Badge Dale), Oz (Max Martini), Tig (Dominic Fumusa), Tanto (Pablo Schreiber), dan Boon (David Denman) untuk bergabung dalam Annex Security Team yang bertugas menjaga properti milik negara sekaligus melindungi beberapa warga Amerika di Benghazi. Iklim politik Benghazi kian tidak aman ketika Duta Besar Amerika Serikat, J. Christopher Stevens (Matt Letscher), menetapkan menyambangi Libya dengan impian sanggup menjaga hubungan diplomatik. Naas, Stevens justru meregang nyawa dalam sebuah serangan ke konsulat berpenjagaan minim pada tanggal 11 September 2012 sebelum Annex Security Team mencapai lokasi. Belum puas membombardir konsulat, kelompok militan mengarahkan persenjataan mereka ke markas Annex. Tidak ingin mengulangi kegagalan yang sama dalam melindungi sang Duta Besar, sekarang keenam anggota Annex Security Team pun berjuang mati-matian untuk mempertahankan markas mereka hingga bala pemberian datang. 

13 Hours merupakan definisi atas kata ‘mencekam’ yang menjalar di sebagian besar durasi film. Sebuah sensasi yang tidak serta merta mencuat ke permukaan, melainkan berproses setahap demi setahap. Dalam artian, Michael Bay enggan eksklusif menggiring penonton berada di kondisi serba genting sekalipun tanda-tandanya telah terukir terang pada permulaan film kala kendaraan beroda empat yang ditumpangi Jack Da Silva dan Rone terjebak diantara kelompok militan yang memblokade jalan. Selepas itu, grafik ketegangan cenderung bergerak di bawah garis mengikuti upaya Bay untuk lebih fokus pada interaksi antar huruf walau kedangkalan pengembangan huruf (plus keserupaan wajah para pelakonnya!) sedikit menyulitkan penonton untuk benar-benar terhubung dengan mereka. Selain Jack Da Silva yang menerima porsi tampil lebih besar termasuk sekelumit pemaparan latar belakang, kita tidak terlalu mengenal barisan huruf lain. Yang kita tahu yaitu mereka telah berkeluarga, sama-sama laki-laki tangguh, dan mempunyai kepribadian cukup menyenangkan untuk bisa diajak nongkrong setidaknya terlihat dari cara mereka berinteraksi satu sama lain. Dampaknya, secara emosional film kurang bisa berbicara lantang. 

Menyadari bahwa dirinya kurang cakap dalam bercerita, Bay berusaha menutupinya dengan memaksimalkan intensitas pada medan pertempuran atau dalam hal ini lebih fokus ke permainan atmosfir. Bay telah memulainya sedari awal – memperlihatkan betapa kacaunya Benghazi – yang seiring bergulirnya durasi terasa kian mencekam terutama sejak pembumihangusan konsulat dan serangan sporadis ke markas diam-diam CIA. Ketika salah satu tokoh mengucap, “ini lebih seram ketimbang film horor,” saya pun mengangguk baiklah apalagi setidaknya di dua tahun terakhir ini tidak ada film memedi yang memperlihatkan efek ketakutan luar biasa. 13 Hours, secara mengejutkan, punya kemampuan untuk menciptakan penontonnya ketakutan. Kengerian medan peperangan dipotret begitu sukses sampai-sampai ada kalanya enggan memfokuskan pandangan ke layar bioskop sepenuhnya karena si pembuat film mencoba untuk serealistis mungkin perihal visualisasi (oh ya, kau akan melihat tangan nyaris putus berlumuran darah!). Dan, kesemuanya ini terangkum pada satu jam terakhir yang tidak saja memunculkan rasa ngeri tetapi juga ketegangan berdaya maksimal yang memungkinkanmu untuk kesulitan menghembuskan nafas. Tentu saja daya cekam yang dimunculkan oleh 13 Hours hanya bisa kau rasakan jikalau tidak mempunyai keberatan sama sekali terhadap penggambaran kisah patriotisme tentara negeri adikuasa yang lagi-lagi dipenuhi glorifikasi beserta pengkultusan.

Exceeds Expectations (3,5/5)