October 29, 2020

Review (2 In 1) : Before Sunrise / Before Sunset

Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSETUntuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSET

Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan. Berhubung saya menontonnya secara marathon dan filmnya sendiri mempunyai keterkaitan, maka tak ada salahnya kalau digabungkan menjadi satu daripada harus dibahas secara terpisah. Bagi para pecinta film tentu tak ajaib dengan dwilogi matahari, Before Sunrise dan Before Sunset. Film yang disebut – sebut sebagai salah satu film romantis terbaik sepanjang masa ini bertutur secara minimalis, hanya berupa obrolan dua sejoli, tak terjadi apapun. Film yang cenderung dihindari bagi mereka yang tidak menyukai film penuh obrolan, namun bagi yang tidak mempunyai pantangan, dwilogi ini mungkin akan meninggalkan kesan yang mendalam. Hanya ada dua pemain film disini, Ethan Hawke dan Julie Delpy. Untuk penyutradaraan ditangani oleh Richard Linklater, sedangkan penulisan skenario diserahkan kepada Kim Krizan serta Linklater sendiri. Khusus untuk Sunset, Hawke dan Delpy ikut turut serta menyumbangkan ilham mereka.
Before Sunrise dirilis pada tahun 1995 dan mengenalkan kita kepada Jesse (Ethan Hawke), perjaka dari Amerika, dan Celine (Julie Delpy), cewek Prancis. Keduanya bertemu di sebuah kereta dari Budapest tatkala Celine merasa terganggu dengan pasangan yang sedang ribut. Jesse mengajak Celine ke gerbong masakan hanya untuk saling berbincang hingga mereka hingga di tujuan masing – masing. Bisa diduga, keduanya merasa cocok. Jesse menawari Celine sebuah ilham gila untuk menemaninya berkeliling Wina sambil menunggu pesawatnya berangkat ke Amerika keesokan harinya. Awalnya agak sedikit ragu, namun pada jadinya Celine mendapatkan saja ajuan Jesse. Sepanjang malam di Wina mereka mengobrol mengenai banyak sekali hal, namun yang paling serius yakni perihal kehidupan dan cinta. Beberapa insiden tak terduga juga menyertai malam paling berkesan dalam hidup mereka tersebut.

Kisah kemudian beralih 9 tahun kemudian di Before Sunset, kali ini mengambil latar kota Paris yang cantik. Jesse telah bekeluarga dan menjadi seorang penulis yang sukses sedangkan Celine bekerja untuk pemerintah dan mempunyai kekasih yang berprofesi sebagai fotografer. Kedatangannya ke Paris merupakan salah satu agendanya dalam rangka tur keliling Eropa untuk mempromosikan bukunya. Kebetulan toko buku yang dikunjungi oleh Jesse yakni kawasan favorit dari Celine sehingga keduanya bisa kembali bertemu sehabis 9 tahun terpisah. Daripada menghabiskan waktu di hotel dan bandara ketika menunggu pesawat, Jesse menentukan untuk bernostalgia dengan Celine sambil mengelilingi kota Paris. Setting waktunya pun berbeda, kalau Sunrise lebih banyak dihabiskan pada malam hari, maka Sunset berlatar di siang dan sore hari. Topik yang menjadi materi obrolan tidak lagi berkisar pada kehidupan dan cinta, tetapi juga pekerjaan dan politik.

Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSETUntuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSET
Dwilogi ini yakni tipe film “love it or hate it” Sebagian akan memujanya setinggi langit, namun yang lain akan mencacinya habis – habisan. Saya pribadi eksklusif jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menyaksikannya, utamanya kepada Before Sunset yang begitu manis. Walaupun dalam Before Sunrise kedua aksara utamanya yakni sepasang remaja yang tengah mencari jati diri dan masih berusaha memahami konsep cinta yang sebenarnya, alur tak otomatis menjadi lembek dan bertutur dengan menye – menye. Tak ada obrolan gombal disini, pilihan katanya begitu cerdas dan berkelas. Celine memang digambarkan sebagai perempuan yang berdikari dan cerdas sehingga apa yang dijadikannya sebagai topik pembicaraan tak melulu soal cinta, terkadang malah sesuatu yang berat. Kalaupun membahas cinta, bukan mengenai konsep cinta yang dangkal. Terkadang saya dibentuk takjub dengan obrolan – obrolan yang diucapkan oleh aksara ini.

Mengikuti perkembangan karakternya, maka Before Sunset tak melulu menyajikan obrolan ringan, kali ini sudah mulai merambah ke topik yang lebih berat. Bahkan sudut pandang mereka mengenai cinta dan kehidupan juga berubah, walaupun tak sepenuhnya. Meski topik pembicaraan menjadi lebih berat, namun tak menciptakan Before Sunset menjadi film yang membosankan, justru sebaliknya. Begitu mengasyikkan. Bisa jadi alasannya karakternya telah tumbuh menjadi pribadi yang sampaumur dan bijaksana. Jika Sunrise bertutur terlalu usang dengan durasi 100 menit lebih, maka Sunset hanya berlangsung selama 80 menit saja. Lee Daniel, selaku sinematografer, berhasil menangkap sudut – sudut kota Paris dengan amat sangat baik. Kecantikan Paris semakin menciptakan Sunset menjadi terasa lebih romantis. Ahhh, ingin sekali pergi ke sana dan bertemu dengan perempuan menyerupai Celine yang tidak hanya cantik, cerdas dan mandiri, namun juga pribadi yang menyenangkan. Dua jempol untuk Linklater dan Krizan yang mampu menciptakan naskah penuh obrolan yang cerdas serta embel-embel dua jempol lagi bagi Linklater yang bisa membuatnya jauh dari kata membosankan. Kontribusi Hawke dan Delpy dalam penulisan skenario justru menciptakan Sunset lebih apik. Jika ada sekuel lebih bagus dari prekuelnya, maka Before Sunset yakni salah satunya.

Chemistry yang terjalin antara Hawke dan Delpy disini begitu luar biasa. Masing – masing juga melakoni karakternya dengan sangat bagus, hampir tak ada cela. Sepanjang film saya sama sekali lupa kalau Jesse dan Celine yakni aksara fiksi, Hawke dan Delpy melebur dengan aksara yang mereka perankan. Mengagumkan. Barangkali alasannya di Sunset mereka juga menulis skenarionya sehingga mereka bisa menciptakan Jesse dan Celine terasa lebih hidup. Ya, saya memang sedikit berlebihan, namun saya memang terkesima dengan penampilan mereka. Auranya bersinar terang, utamanya Julie Delpy. Jarang ada sebuah film romantis dimana kedua pemerannya mempunyai koneksi yang begitu kuat. Tak salah kalau ada yang menyebut Before Sunrise dan Before Sunset sebagai salah satu film paling romantis yang pernah dibuat, alasannya memang menyerupai itulah kenyataannya.

Nilai :

Before Sunrise : 8/10 (Exceeds Expectations)

Before Sunset : 9/10 (Outstanding)

Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSETUntuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSET