July 2, 2020

Review : 27 Steps Of May


“Bapak nggak salah.”

Dalam masalah pelecehan seksual, siapa bersama-sama yang patut dipersalahkan dan semestinya mendapatkan ganjaran atas “ketidakberdayaannya”? Apakah pelaku yang tunduk kepada hawa nafsunya atau korban yang tak kuasa dalam memberi perlawanan? Apabila fungsi aturan diberlakukan secara semestinya serta bersedia patuh pula pada nalar sehat maupun bukti-bukti, maka sudah barang tentu pelaku ialah pihak yang sepatutnya bertanggungjawab. Sebab, mereka telah memaksakan kehendak kepada orang yang tak pernah menawarkan persetujuan atas tindakan-tindakan mereka. Akan tetapi, realita di lapangan nyatanya tak berbicara demikian sebab para penegak aturan (sekaligus masyarakat tukang ikut campur) merasa bahwa letak kesalahan justru ada di korban lebih-lebih kalau masalah ini merundung perempuan. Alih-alih mempertanyakan motivasi pelaku, mereka justru mengemukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban seperti: apa pakaian yang dikenakan oleh si A? Saat diperkosa atau dilecehkan, apa benar beliau tidak sedang dalam dampak narkoba atau minuman beralkohol? Kenapa sih si A malah pergi ke kawasan insiden masalah padahal sudah memahami resikonya? Bukannya wanita seharusnya sudah mendekam di rumah ya selepas jam-jam tertentu? Dalam pandangan publik yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki (secara sadar maupun tidak), korban nyaris tidak mungkin untuk menang. Kalaupun jadinya ditindaklanjuti, jalan keluar yang diambil seringkali bersifat kekeluargaan ketimbang benar-benar menindak tegas perbuatan pelaku sehingga tak mengherankan kalau kemudian banyak yang menentukan untuk bungkam dan karam dalam trauma.

27 Steps of May sebagai sebuah tontonan yang mencoba membangkitkan kesadaran publik mengenai gosip “kekerasan seksual”, enggan mengonfrontasi secara pribadi atau melontarkan komentar bernada nyelekit terhadap pihak-pihak yang dinilai berkontribusi pada keganjilan aturan tersebut. Sebaliknya, film aba-aba arahan Ravi Bharwani (Impian Kemarau, Jermal) ini meletakkan fokusnya kepada korban beserta keluarganya dan memperlihatkan bagaimana mereka harus menanggung dampak secara psikologis yang tidak ringan. Dalam konteks film, korban yang dimaksud ialah seorang wanita berjulukan May (Raihaanun). Peristiwa traumatis yang membayanginya selama delapan tahun lamanya bermula dari kunjungannya ke sebuah pasar malam ketika beliau masih berusia 14 tahun dan mengenakan seragam putih biru. Tak pernah terbayangkan oleh May, senyum sumringahnya kala menikmati wahana akan segera tergantikan oleh tangisan serta murung lara berkepanjangan akhir digagahi oleh sejumlah pria yang tak dikenalnya. May yang dirundung syok pun menentukan untuk mengurung diri di rumah seraya menjalankan acara yang sama saban hari; berolahraga lompat tali, hanya bersedia mengonsumsi masakan serta minuman serba putih, dan menciptakan boneka. Dalam segala tindak-tanduknya ini, May tak melaksanakan kontak mata maupun berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu melindungi putri semata wayangnya tersebut. Kehidupan dua insan yang begitu hampa, muram, serta hirau taacuh ini perlahan mulai berubah sehabis seorang pesulap (Ario Bayu) pindah ke sebelah rumah mereka. Melalui dinding kamarnya yang terkelupas, May rahasia mengintip sang pesulap kala melatih atraksi-atraksinya yang perlahan tapi niscaya mendorong May untuk bangun dari keterpurukannya.


Oleh Ravi beserta Rayya selaku penulis skenario, kemunculan sesosok pesulap misterius ini diniatkan sebagai support system yang tak pernah didapat oleh May sebelumnya dari orang terdekat. Alih-alih merangkul, menawarkan dukungan moril, serta membangun komunikasi, ayah May justru ikut terpuruk menyerupai halnya sang putri. Kemarahan membuncah dalam dirinya yang lantas dilampiaskannya di atas ring tinju bawah tanah. Berbeda dengan May yang menentukan bungkam seribu bahasa kemudian melukai dirinya sendiri kala ingatan-ingatan buruknya menyeruak, ayah May (dikenal sebagai “Bapak” oleh penonton) menentukan untuk menghajar petinju-petinju lain seraya mengumpulkan uang ketika rasa sakitnya tak lagi terbendung. Akibat dari keputusannya tersebut, Bapak acapkali meninggalkan May seorang diri di rumah. Menciptakan kekosongan lebih dalam bagi putrinya, sekaligus kian merenggangkan kekerabatan diantara mereka sebab ketiadaan waktu untuk berkomunikasi. Selama menit-menit awal – khususnya ketika film mengajak kita mengobservasi kehidupan dua insan ini – 27 Steps of May memberlakukan mode sunyi dimana iringan musik urung hadir, sementara obrolan nyaris tak terlontarkan mengikuti pilihan May yang menolak berbicara kepada siapapun. Kita sebatas menyaksikan keseharian May dan Bapak yang repetitif dimana pembedanya hanya bisa dijumpai dari obrolan Bapak dengan kurir pengantar boneka bekas (dimainkan dengan cemerlang oleh Verdi Solaiman) di pagi hari. Terdengar menjemukan memang, tapi momen-momen ini memang dibutuhkan demi memberi pengutamaan pada rasa hambar nan sunyi yang menghinggapi dua aksara ini. Apiknya, berkat pengarahan teliti, tangkapan-tangkapan gambar yang “berbicara”, beserta penampilan luar biasa dari jajaran pemain khususnya Raihaanun yang mampu menyuarakan emosinya melalui lisan serta gestur-gestur kecil, penonton bisa memenuhi keinginan si pembuat film: mencicipi kenelangsaan keluarga ini.

Untuk sesaat, saya sempat menyalahkan Bapak sebab sekadar berdiam diri ketika menghadapi May dan seolah tak bertanggung jawab ketika beliau mengikuti pertarungan tinju bawah tanah yang berbahaya. Akan tetapi, saya seketika mengoreksi pemikiran ini begitu menyadari bahwa Bapak juga berada di posisi korban. Lukman Sardi terlihat sangat hancur sekaligus kebingungan dalam menyikapi murung sang putri. Lagipula, penonton hanya memperoleh informasi sehabis May berusia 22 tahun sehingga kita tak pernah benar-benar tahu apa yang telah dilakukannya selama delapan tahun terakhir. Yang penonton dapati, kesabaran Bapak telah menciptakan May bertahan meski keengganan May untuk berbicara juga mengambarkan bahwa Bapak tidak menawarkan pendekatan yang sempurna semoga putrinya bersedia membuka diri. Satu pertanyaan yang kemudian menghampiri diri ini adalah, “apakah dua insan yang sama-sama terluka bisa saling menyembuhkan? Atau justru hanya menciptakan keadaan semakin memburuk?.” Maksud saya, Bapak pun terluka akhir ketidaksanggupannya untuk mendapatkan kenyataan mengenai kondisi May dan kecenderungannya untuk selalu menyalahkan diri sendiri. Jika sudah demikian, bukankah harus ada pihak ketiga yang bersedia “memediasi” keduanya semoga komunikasi bisa kembali mengalir? Dalam pikiran positif saya, Bapak terkendala oleh biaya sehingga tak bisa menghubungi psikiater. Atau malah jangan-jangan, si pembuat film secara implisit menyatakan bahwa Bapak tak pernah meminta sumbangan untuk May sebab adanya stigma pada psikiater dan ketidakpercayaan kepada pihak luar yang cenderung berprasangka terhadap korban pemerkosaan? 

Apapun motivasi Bapak, May jadinya bersedia membelokkan “aturan-aturan” yang disusunnya sendiri selepas berjumpa dengan si pesulap semoga bisa melihat kemudian mengimitasi atraksi yang diperagakan. Secara setapak demi setapak, ada warna yang mulai mengisi relung hidupnya yang kelabu, ada kebahagiaan yang mulai menggoyahkan penderitaan yang telah usang menguasai jiwanya, dan ada impian yang kembali berdetak. May memperlihatkan perubahan-perubahan kecil yang sontak mengagetkan Bapak, “apa yang telah terjadi kepada putriku?.” Menyaksikan May bersedia untuk keluar zona nyamannya serta memberi impresi bahwa beliau masih mempunyai gairah hidup, saya terang bahagia. Hanya saja, mengingat si pesulap ialah seorang pria dan beliau sepertinya tidak menyadari masa kemudian May, apa ada kemungkinan hal jelek tidak kembali terulang? Apa ada kemungkinan beliau tidak menyimpan motif jahat dibalik kebaikannya? Saya tahu ini terdengar sinis, tapi berhubung saya telah terkoneksi dengan si protagonis, saya tidak ingin melihatnya terjerembab lagi ke jurang depresi. Saya tidak ingin perjuangannya untuk mengatasi syok berkepanjangan berakhir sia-sia. Saya ingin melihatnya bangun dari keterpurukkan dan menginspirasi para penyintas yang belum berkenan melanjutkan hidup. Kalaupun May tidak melakukannya (karena beliau bukanlah aksara nyata), tapi paling tidak, itulah yang dilakukan oleh 27 Steps of May. Merangkul para penyintas kemudian membuka mata publik khususnya mereka yang masih menganut asas victim blaming dalam masalah pelecehan seksual. Jika film ini kebetulan tayang di kotamu, saya berharap kalian bersedia meluangkan waktu beserta uang untuk menonton film yang tidak saja menyesakkan dada tetapi juga penting ini.

Outstanding (4/5)