October 21, 2020

Review : 3 (Alif Lam Mim)


“Fight and never lose hope.” 

Sepintas ditilik dari bahan promosi, 3 (Alif Lam Mim) memang tampak menyerupai epigon lainnya dari The Raid yang konon telah tetapkan standar tinggi untuk genre berkelahi di perfilman Indonesia. Dengan polesan pengaruh khusus jauh dari kata meyakinkan – mengingatkan pada Garuda Superhero – gampang bagi penonton yang tidak tahu menahu mengenai seluk beluk film ini untuk memunculkan cibiran, “apa sih yang sanggup ditawarkan oleh 3?.” Lalu kita melihat adanya nama Anggy Umbara (dwilogi Comic 8, Coboy Junior the Movie) di balik kemudi yang memunculkan secercah keinginan mengingat fun merupakan nama tengah dari si pembuat film. Setidaknya, bila pada alhasil hasil memang di bawah pengharapan, 3 masih memperlihatkan hiburan. Akan tetapi, apakah 3 memang tidak semeyakinkan trailernya yang kata seorang mitra gagal memberi citra mengenai isi dari filmnya itu sendiri? Well, bila kau mempunyai pemikiran demikian dan berencana melewatkannya, your loss then. Karena aku berani menyampaikan secara lantang bahwa 3 yakni salah satu film terbaik tahun ini. Seriously, you don’t want to miss this one! 

Di tahun 2036, Indonesia telah sama sekali berbeda dari Indonesia yang kita kenal sekarang. Dengan adanya revolusi besar-besar sepuluh tahun sebelumnya guna memberantas para pemeluk agama radikal yang dianggap membahayakan stabilitas keamanan negara, secara otomatis ideologi negara pun bergeser. Kaum relijius yang semula berkuasa, kini mencicipi pahitnya berada di posisi minoritas. Yang lantas menjadi pertanyaan, “apakah penghancuran kaum radikal berikut agama yang dianutnya merupakan solusi terbaik untuk menyampaikan perdamaian bagi negeri ini?.” Bagi Alif (Cornelio Sunny), seorang pegawanegeri negara, dan rekan-rekan kerjanya mungkin tanggapan paling masuk logika yakni ‘ya’. Tapi Lam (Abimana Aryasatya), jurnalis berpikiran kritis, tidak melihat hal tersebut sebagai suatu jalan keluar terlebih sesudah ia menemukan serangkaian kejanggalan dalam kasus pengeboman di sebuah kafe yang nyaris merenggut nyawa Alif sekaligus menempatkan Mim (Agus Kuncoro) beserta santri-santri di padepokan sebagai tersangka utama. Mencoba menjembatani dua sahabatnya yang saling berseteru mempertahankan kebenarannya masing-masing, Lam malah justru semakin terjerumus ke kubangan intrik lebih besar yang turut mengancam keselamatan keluarganya. 

“Bagaimana jadinya bila Indonesia dalam dua puluh tahun mendatang bermetamorfosis sebagai negara liberal yang menistakan agama, khususnya Islam, sehingga menganggapnya sebagai benalu yang harus dimusnahkan keberadaannya?” yakni premis yang membangun 3. Terdengar begitu provokatif, berani, ambisius, beresiko sekaligus seksi di ketika bersamaan sehingga memunculkan keingintahuan besar terhadap cara si pembuat film mengeksekusinya ke bahasa gambar. Apabila kau mengikuti jejak karir Anggy Umbara di layar lebar sejak Mama Cake, maka tentu mengetahui bahwa sang sutradara dikenal dengan karya-karyanya yang cenderung ‘style over substance’ dan adegan-adegan terkemas slow motion pun seolah telah menjadi ciri khas tersendiri bagi Anggy. Jika kau merisaukan 3 akan dijlentrehkan serupa, silahkan bernafas lega. Karena tak menyerupai karya-karya Anggy terdahulu, 3 terbilang kokoh dari sisi penceritaan walau gayanya tentu masih sama. Ya, premis menggelegar tersebut berhasil tertuang secara rapi ke naskah yang ditulis keroyokan oleh (ndilalah) tiga penulis skrip untuk kemudian diterjemahkan Anggy secara menawan sehingga menghasilkan sebuah tontonan berlatar dystopia yang tidak saja seru, tetapi juga mencengkram dekat emosi dan mempersilahkan penontonnya berkontemplasi. 

Membutuhkan sedikit waktu untuk sanggup merasuk secara menyeluruh ke tuturan 3. Tidak lantas tancap gas di menit-menit awal, penonton mungkin akan sedikit mengernyitkan dahi menyimak serangkaian pertarungan yang dihadapi Alif seraya memboyong pertanyaan, “apa sih yang ingin disampaikan oleh si pembuat film? Pertarungan kosong?”. Menampakkan wajah menyerupai film berkelahi futuritis biasa, hingga titik ini, perlahan-lahan 3 memperlihatkan wujud aslinya sejak kehadiran seorang wanita misterius berjulukan Laras (Prisia Nasution) diikuti kejadian meledaknya kafe yang disinyalir kerjaan penghuni padepokan Al-Ikhlas. Pertanyaan pun seketika terkoreksi menjadi, “apa yang sebenarnya terjadi di sini?,” yang menjadi bekal bagus guna mengikuti jalinan pengisahan kolam puzzle susunan Umbara bersaudara. Keseruan yang semula hanya bersumber dari koreografi berkelahi anggun rancangan Cecep Arif Rahman pun bertambah dengan mencuatnya setumpuk intrik mengikat yang di dalamnya dipenuhi kritik tajam terhadap carut marutnya kondisi sosial politik Indonesia masa kini berikut citra seandainya ideologi liberal berkuasa di Indonesia, kemudian pertanyaan demi pertanyaan semisal “apakah perdamaian itu sejatinya hanyalah komoditas untuk membenarkan perbuatan kelompok tertentu?” dan petuah-petuah khas Anggy wacana bagaimana semestinya pemeluk agama semestinya menjalani kehidupan sampai-sampai diri ini pun dibentuk kagum, “rupanya sineas Indonesia pun sanggup menyajikan tuturan yang sedahsyat (dan seberani) ini!.” 

Walau pengaruh khususnya memang terbilang agresif – well, apa yang kau harapkan dari visual film berbujet minim? – tapi sangat sanggup dimaafkan berkat kecakapan Anggy dalam mengejawantahkan premis sinting menjadi tuturan padat berisi namun tetap terjabarkan rapi yang sanggup meminta perhatian penonton, gelaran agresi mengasyikkan, dan lakon jempolan dari jajaran pemainnya. Kualitas keaktoran Abimana Aryasatya dan Agus Kuncoro tidak perlu lagi dipertanyakan. Keduanya kembali memamerkan akting gemilang di sini dengan Abimana memberi penampilan meyakinkan sebagai seorang jurnalis yang kebebasannya menyuarakan kebenaran terepresi oleh sistem sedangkan Agus Kuncoro memberi percampuran tepat antara berwibawa, dingin, dan misterius. Selain mereka, 3 juga diperkuat oleh performa badass dari Cornelio Sunny yang mungkin akan membuatnya diburu oleh para produser untuk membintangi film-film berkelahi paska 3, Prisia Nasution yang tangguh sekaligus rapuh, dan last but not least, Tanta Ginting yang hanya muncul sekejap dalam sebuah tugas mengejutkan namun begitu membekas di ingatan.

Outstanding 

Catatan: satu keinginan yang mencuat seusai menonton 3 adalah, “saya menginginkan sekuel!.” Berharap besar penonton Indonesia – khususnya selama ini yang berkoar-koar film Indonesia hanya begitu-begitu saja – bersedia meluangkan waktu dan uangnya untuk menyaksikan film ini. 3, tak pelak, mempunyai peranan besar dalam memilih wajah perfilman beberapa waktu mendatang. Apabila 3 mendapat respon tak membahagiakan dari penonton, besar kemungkinan para produser akan berpikir ribuan kali untuk membuat tontonan yang (disebut) berbeda dan well, bersiaplah mendapat lebih banyak melodrama. Tapi bila 3 disambut hangat penonton, kesempatan memperoleh tontonan bervariasi pun di depan mata. Kaprikornus ya, kamulah yang memilih akan menyerupai perfilman Indonesia ke depan, sebab bila bukan kita lantas siapa lagi?