October 20, 2020

Review : 3 Srikandi


“Bukan untuk kalian, medali ini untuk negerimu.” 

Siapa menduga 3 Srikandi akan semenghibur ini buat ditonton? Ya, mengedepankan tema “from zero to hero” berbasis dunia olahraga cabang panahan yang disarikan dari kisah konkret kemenangan pertama atlet Indonesia di ajang bergengsi Olimpiade, memang telah sangat mengindikasikan bahwa 3 Srikandi akan sangat melibatkan emosi penonton. Dalam hal ini, terinspirasi dan tersentuh – dua kesan yang sanggup dicium dari premisnya saja. Tapi tertawa terbahak-bahak berulang kali? Nyaris sanggup dipastikan, sebagian besar calon penonton tidak mengantisipasi 3 Srikandi bakal memiliki kandungan humor cukup tinggi ditilik dari bahan promosi maupun tema dramatis mengenai “perjuangan menuju puncak” yang diusungnya. Sang sutradara, Iman Brotoseno, memilih pilihan untuk melantunkan film layar lebar perdananya ini memakai nada penceritaan cenderung “ringan nan cerah” ketimbang penuh uraian air mata sejalan dengan jiwa-jiwa muda dari tiga tokoh sentral; Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, serta Kusuma Wardhani, yang ceria, dipenuhi energi bergejolak, pula tampaknya mengagungkan prinsip “girls just wanna have fun”. And it works! Bahkan sanggup dikata, 3 Srikandi yaitu salah satu film paling menyenangkan yang saya tonton di layar lebar dalam delapan bulan terakhir. Sangat, sangat menikmati setiap menitnya. 

3 Srikandi memperkenalkan kita kepada tiga atlet wanita cabang panahan, yakni Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardhani (Tara Basro). Mereka bertiga mengukir prestasi berikut sejarah bagi dunia olahraga tanah air dengan memboyong medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Seoul 1988 sesudah keikutsertaan negeri ini selama 36 tahun dalam kompetisi olahraga paling prestisius tersebut. Sepanjang durasi lebih dari 2 jam, penonton menjadi saksi atas jatuh bangunnya para srikandi demi berdiri penuh pujian di atas podium. Ada konflik personal yang menyertai masing-masing individu kala mereka ditempa oleh mantan atlet panahan, Donald Pandiangan (Reza Rahadian) atau dekat disapa Bang Pandi, yang dikenal sangat keras pula disiplin dalam berlatih. Yana memperoleh saingan keras dari sang ayah (Joshua Pandelaki) yang mengharapkan putrinya untuk fokus merampungkan studi, kemudian Kusuma tidak memperoleh izin resmi ayahnya yang ingin semoga dirinya menyambung hidup sebagai Pegawai Negeri Sipil, sedangkan Lilies yang berasal dari keluarga atlet dipusingkan oleh permasalahan asmara menyusul keengganan ibunya (Ivanka Suwandi) merestui hubungan Lilies dengan seorang atlet silat. Deraan problem keluarga, belum ditambah beratnya sistem pembinaan yang dibebankan Bang Pandi di tengah waktu pula peralatan serba terbatas, benar-benar menguji kesiapan fisik dan mental para srikandi dalam menghadapi sabung di Olimpiade Seoul 1988. 

Memuaskan yaitu kata pertama yang terlintas di benak selepas menyaksikan rekonstruksi dari kisah usaha para srikandi guna mencapai mimpi mereka dalam membawa pulang medali di Olimpiade. Ada banyak rasa dihantarkan selama durasi mengalun yang dilontarkan oleh perasaan bersemangat di menit-menit pertama. Meski agak tersendat-sendat di babak introduksi, 3 Srikandi mulai menemukan ritme bercerita yang yummy buat disantap begitu Yana, Kusuma, serta Lilies dipertemukan pertama kali lewat seleksi atlet Olimpiade di Jakarta. Kesan serius yang diperoleh dari latar belakang Yana; ayahnya diperlihatkan selalu marah-marah bahkan tidak memperlihatkan sedikitpun pujian atas prestasi putrinya, maupun Kusuma; berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah, meredup sejenak. Celetukan-celetukan lucu arek Suroboyo, Lilies, yang kerap mengucap “matek aku!” didukung tingkah laris sembrononya membawa keceriaan pada film. Dia menyuntikkan kehidupan pada tim yang sanggup jadi terlalu serius mengingat Yana yang paling senior diantara ketiga srikandi cenderung kalem, Suma yang sangat mengidolakan Onky Alexander tidak banyak bertutur kata, dan Bang Pandi, well, sangatlah kaku. Salah satu ‘kontribusi’ paling membekas dari Lilies yaitu ketika ia menyarankan untuk menumpang angkot alasannya yaitu terlalu lelah berlari yang konsekuensi dari gagasan curang tersebut memperlihatkan ledakan tawa di gedung bioskop. 

Sosok Lilies sendiri dimainkan sangat bagus oleh Chelsea Islan dalam lakon terbaiknya, sejauh ini. Meng-handle sesi komedik secara tepat – logat Suroboyoannya juga cukup nampol, meski bagi saya penghantaran Mario Irwinsyah (berperan sebagai Denny, kekasih Lilies) lebih luwes – Chelsea juga bersinar ketika momen dramatik menghampirinya. Oh ya, sekalipun terkesan ditempatkan sebagai comic relief semata, kenyataannya cobaan hidup yang dihadapi oleh Lilies lebih berat ketimbang Yana maupun Kusuma. Itulah kenapa huruf ini tampak paling menonjol sekaligus menantang buat dimainkan. Pun demikian, bukan berarti Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Reza Rahadian bermain aman-aman saja. Masing-masing dari mereka juga mempertontonkan atraksi berolah tugas yang tidak kalah hebatnya. BCL tampil prima sebagai Yana yang aura kepemimpinannya menguar besar lengan berkuasa (berkaca pada fakta bahwa ia bergabung di menit-menit terakhir semakin memberi nilai plus), Tara Basro yang tampak ayu dan effortless yaitu ‘si anak tengah’ pemberi keseimbangan, sementara Reza Rahadian… perlukah kita membahasnya panjang lebar? Berhasil memperlihatkan dua sisi berbeda dari Donald Pandiangan sehingga menciptakan sosoknya tidak tampak menyerupai psikopat yang kerjaannya marah-marah saja, kita lagi-lagi harus mengakui bahwa ia yaitu pemain drama brilian dan kemudian memaklumi kenapa banyak produser ingin merekrutnya. Ya, ia sangat bagus. Chemistry-nya bersama BCL, Tara Basro, serta Chelsea Islan pun sama kuatnya sehingga memudahkan penonton untuk terhubung ke personil utama.

Tapi 3 Srikandi bukan semata-mata soal akting bagus pemain – termasuk juga Donny Damara dan Indra Birowo. Skenario renyah racikan Swastika Nohara yang didalamnya mengandung pula sentilan-sentilun ke dunia olahraga tanah air diejawantahkan ke bahasa gambar secara menarik oleh Iman Brotoseno. Seperti telah sedikit disinggung sebelumnya, permulaannya memang kurang lancar, tapi sesudah memasuki menit puluhan, pesonanya sulit dibendung. Berbagai macam emosi hadir silih berganti. Entah itu tergugah semangat melihat upaya penuh kesungguhan para srikandi untuk mewujudkan keinginan mereka, tertawa-tawa menyimak interaksi kocak ketiga atlet bersama sang pelatih, hingga tersentuh yang mencuat dari beberapa momen salah satunya menyaksikan luapan tangis senang para tokoh sentral begitu misi mereka sanggup terlaksana. Emosi-emosi tersebut mencuat sebagai hasil dari kombinasi ciamiknya olah peran, pengarahan, dan naskah yang menerima referensi juga dari departemen teknis; tata busana, rias, artistik, hingga pemilihan lagu-lagu pengiring, yang tertata cukup detil sehingga nuansa 80-an terpancarkan. Para penonton dari generasi 1980-an dijamin akan bersorak-sorak kegirangan seiring melubernya nostalgia disana-sini menyerupai dilakukan oleh kakak saya ketika Onky Alexander numpang lewat atau tembang “Ratu Sejagad”-nya Vonny Sumlang berkumandang. Ya, ada banyak kesenangan yang ditampilkan 3 Srikandi sampai-sampai keinginan menontonnya lagi pribadi muncul tatkala mengenang momen-momen terbaik dari film.

Outstanding (4/5)