October 22, 2020

Review : 3Sum


“Love is mute, love is deaf, love is blind…”

Ketika mendengar ada sebuah film Indonesia berjudul 3SUM (baca: threesome), Anda jangan keburu berpikir yang tidak-tidak atau lantas menghakimi ini ialah film seks asal buat lainnya dari dalam negeri. Pada kenyataannya, 3SUM bukanlah sebuah film yang menyebabkan seks sebagai daya jual utama. Ini ialah sebuah film omnibus teranyar yang mempunyai konsep unik dimana di dalamnya terdapat tiga segmen yang digawangi oleh tiga sutradara pendatang gres dengan tiga genre yang berbeda; thriller, drama, dan action. Sebuah paket yang komplit, bukan? Sesuai dengan tagline, maka apa yang dibicarakan oleh film ini ialah bersinggungan dengan tiga hal, yakni cinta, kehidupan, dan kematian. Tidak benar-benar bekerjasama satu sama lain dan justru berada dalam tingkatan yang berbeda. Mengingat selama ini omnibus di Indonesia dikaitkan oleh satu tema atau genre, maka kehadiran 3SUM yang berani menghadirkan sesuatu yang berbeda dan segar ialah suatu perjuangan yang patut mendapat apresiasi lebih terlepas dari hasil kesannya akan membuat Anda mendengus kesal atau tersenyum bahagia. Dan sehabis menyaksikannya sendiri di layar lebar, apakah saya akan menentukan untuk memihak pilihan pertama atau kedua? 


Hidangan pembuka yang disajikan untuk penonton ialah Insomnights yang digarap bareng oleh Witra Asliga dan Andri Cung. Di sini, kita berkenalan dengan seorang administrator muda berjulukan Morty (Winky Wiryawan) yang tengah diterpa banyak sekali macam problematika kehidupan yang membuatnya terjangkit tak bisa tidur akut. Malam-malamnya terasa sangat panjang seolah tiada berkesudahan, melelahkan, dan juga… menyeramkan. Sebagai sebuah appetizer, segmen ini membuat saya bersemangat untuk segera merasakan bagaimana cita rasa dari main course dan dessert. Apa yang digulirkan di sini memang bukan sesuatu yang gres terlebih untuk ‘twist’ di penghujung kisahnya yang tidak lagi mengejutkan khususnya bagi para pecinta film yang menggemari horor maupun thriller namun kepiawaian duo sutradara dalam membangun nuansa yang cukup angker melalui suasana malam hari yang sunyi senyap di dalam sebuah ruangan yang sempit tanpa perlu menggeber scoring secara berlebihan sehingga muncul rasa was-was terhadap apa yang akan terjadi berikutnya menjadi penyelamat. Cukup disayangkan ketegangan terasa sedikit mengendur di paruh final film tatkala sesosok makhlus halus mulai ‘percaya diri’ menampakkan mukanya kepada penonton. Apakah ini perlu? Rasa-rasanya, Insomnights akan berjalan lebih baik apabila Witra dan Andri lebih menentukan untuk menarik hati penonton ketimbang memberi penampakan secara gamblang yang justru merubuhkan mood yang sejatinya telah terbangun dengan baik. 

Berlanjut ke segmen kedua, penonton diajak untuk menjelajah waktu menuju tahun 1980 demi menyambangi Ayin (Aline Adita) dan Welly (Natalius Chendana) dalam Rawa Kucing. Ayin digambarkan sebagai seorang perempuan hedonis dimana kesehariannya dihabiskan untuk berpesta pora dan mabuk-mabukkan bersama teman-temannya, sementara Welly ialah cowok bisu yang terpaksa menekuni profesi pemuas nafsu para perempuan alasannya ialah pilihan pekerjaan yang serba terbatas bagi dirinya. Di hari ulang tahun Ayin, keduanya berjumpa untuk pertama kalinya, dan ya… benih-benih cinta pun bersemi. Dikemas dengan tampilan yang sangat ‘vintage’, Rawa Kucing menjadi penyegaran sehabis segmen sebelumnya yang depresif. Manis, jenaka, dan menyentuh, ialah tiga kata yang sanggup menggambarkan segmen yang emosional ini. Tetesan air mata muncul menyusul sirnanya deraian tawa yang perlahan mengabur sehabis jalinan dongeng memasuki masa-masa suram. Andri Cung yang telah terlatih melalui film-film pendek (salah satunya ialah Payung Merah), berhasil mempertemukan naskah olahannya yang apik dengan sinematografi dan tata artistik yang cantik. Tetapi yang benar-benar bisa membuat segmen ini tampil lebih unggul ketimbang dua segmen lainnya ialah jajaran pemainnya yang rata-rata bermain kuat. Tidak hanya Aline Adita dan Natalius Chendana, Rawa Kucing juga mempunyai scene stealers macam Ronny P. Tjandra, Novita Savitri sampai Royanah. 
And, last but not least, Impromptu. Atau saya akan mengatakan, save the best for last, untuk segmen yang digarap oleh William Chandra ini. Di dalam Impromptu, kita akan berjumpa dengan dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al Rashid), yang tengah dalam misi menghabisi nyawa Ali Ferzat (Joko Anwar), seorang politikus yang mempunyai tekad untuk membongkar skandal korupsi yang terjadi di sebuah kota megapolitan. Di tengah perjalanan menuju lokasi dimana sang politikus berada, Amin dan Lina dihadang oleh sekelompok polisi gadungan. Dan apa yang dinanti-nantikan oleh penonton pun hadir di depan mata, adegan baku hantam yang stylish! Gelaran aksinya yang keras dan brutal berhasil disodorkan oleh William Chandra dengan cukup baik lengkap dengan hiasan muncratan darah yang tentunya akan membuat penonton yang menggemari tontonan semacam ini bergembira. Memang, Impromptu masih meninggalkan catatan di sana-sini utamanya ihwal editing dan tata kamera yang kurang lincah dalam menangkap setiap koreografi laga yang dihadirkan sementara ini ialah salah satu yang kudu dikedepankan kala membesut film laga penuh adegan kolam bik buk. Akan tetapi Impromptu tetap sanggup hadir secara memuaskan di tengah segala keterbatasan yang melingkupinya. Bahkan sehabis film berakhir saya dan rekan-rekan pun serempak meneriakkan, “we want more! we want more! we want more!.” Ya, kami berharap Impromptu mengikuti jejak Dara yang lantas dikembangkan menjadi film panjang oleh The Mo Brothers menjadi Rumah Dara. Bersedia untuk mempertimbangkan seruan penonton, Mas William Chandra? 
Baiklah, sehabis membaca ulasan untuk setiap segmen dalam 3SUM, apakah Anda sudah menemukan tanggapan dari pertanyaan yang saya apungkan di paragraf pembuka? Sudah? Belum? Saya cukup yakin, tentu saja sudah. Dan ya, saya meninggalkan gedung bioskop dengan senyum mengembang di bibir. Ada secercah rasa optimis terhadap perkembangan perfilman Indonesia ke depan sehabis melihat apa yang telah dilakukan oleh ketiga sineas pendatang gres berbakat ini di 3SUM. Memang, mereka tidak membuat sebuah karya yang mulus sempurna. Permasalahan utama yang dihadapi ialah terbentur oleh sisi teknis yang kurang cihuy. Ditilik dari segi penceritaan, masing-masing dari setiap segmen mempunyai keunggulan dengan Rawa Kucing muncul sebagai yang terbaik. Segmen milik Andri Cung ini ialah yang terkuat di dalam film omnibus ini terlebih untuk urusan ‘production value’, meski saya akan lebih menentukan Impromptu sebagai segmen favorit. Pun demikian, mengesampingkan segala duduk kasus teknis yang sedikit banyak besar lengan berkuasa kepada laju film yang menjadi agak terseok-seok, perjuangan yang telah dilakukan oleh ketiga sutradara anyar ini layak mendapat apresiasi lebih. Setidaknya, meski telah dihalang-halangi oleh (ya saya sebut sekali lagi) teknis, 3SUM tetap tampil lebih baik ketimbang film sebelah yang menjual nama Phuket. Berkali-kali lipat lebih bagus malah. Tiga varian sajian berbeda yang terdiri dari thriller yang cukup berhasil membuat penonton mengalami fase deg-degan, drama yang manis menyentuh dengan sisipan obrolan yang jenaka, serta agresi yang mempunyai adegan baku hatam yang apik, berhasil dihidangkan dalam satu paket berjulukan 3SUM. Silahkan dicoba.

Exceeds Expectations