October 27, 2020

Review : 9 Summers 10 Autumns


“Aku tak bisa menentukan masa kecilku, tapi masa depan itu kita sendiri yang melukiskannya.” – Iwan 

Hingga saya menulis ulasan ini, Ifa Isfansyah belum pernah menciptakan saya mendengus kesal dipenuhi perasaan kecewa sehabis menyaksikan film-film garapannya. Dimulai semenjak sejumlah film pendek yang sederhana tapi membekas hingga serangkaian film panjang yang masing-masing dikerjakan dengan cermat, Ifa telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sutradara terbaik di perfilman Indonesia pada ketika ini. Film terbarunya, 9 Summers 10 Autumns, yang diangkat dari sebuah novel laku berjudul sama hasil olahan Iwan Setyawan, semakin memantapkan posisinya. Film ini menciptakan saya ingin segera meluncur ke rumah, menunjukkan pelukan dekat nan hangat kepada orang bau tanah serta saudara-saudara dan tak lupa sebuah ciuman yang manis turut disertakan. Kisah inspiratif ‘from zero to hero’ yang sejatinya mempunyai jalinan penceritaan yang klise, berhasil disuguhkan menjadi sebuah sajian yang bersahaja, penuh kehangatan, dan luar biasa cantik. Ini yakni sebuah tontonan yang akan dengan gampang mempermainkan emosi Anda sepanjang film, terutama kalau Anda yakni seseorang yang mengasihi keluarga lebih dari apapun. 

Saya mengerti sepenuhnya bagaimana perasaan dari Iwan atau Bayek (diperankan Shafil Hamdi Nawara kala masih bocah dan Ihsan Tarore ketika beranjak dewasa). Menjadi anak pria satu-satunya di keluarga dengan kedua abang wanita – dalam perkara Iwan, juga adik wanita – itu sama sekali tidak gampang alasannya ekspektasi orang tua, terutama ayah, membumbung tinggi. Sang ayah tentu berharap anak lanangnya bisa jauh lebih andal dan lebih tangguh ketimbang dirinya. Ada perasaan bersalah yang teramat mendalam ketika impian dari orang bau tanah tidak bisa benar-benar diwujudkan dengan sempurna. Saya merasa bersalah kepada ayah. Dan saya tahu, Iwan pun niscaya merasa bersalah kepada Bapak (Alex Komang). Kedua pemimpin keluarga ini sama-sama berwatak keras yang merupakan hasil bentukan dari pengalaman hidup menahun di jalanan yang kejam. Bapak merasa kecewa kepada Ibuk (Dewi Irawan) yang dianggap terlalu memanjakan Iwan sehingga beliau tumbuh menjadi pria yang lembek dan penakut, jauh dari impian Bapak. 
Tapi Anda semua tentu tahu, film tidak akan bergerak kemana-mana kalau sosok dengan panggilan sayang Bayek ini sama sekali tidak mengalami perubahan. Bermodalkan otak yang encer dalam hal hitung menghitung serta pinjaman penuh dari Ibuk, Iwan nekat menantang diri sendiri dengan menimba ilmu di IPB yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah. Meski awalnya dilanda keraguan untuk melepas sang anak, Bapak alhasil memberi restu yang dibuktikan melalui dijualnya angkot yang menjadi sumber penghasilan utama demi ditukar dengan segepok uang untuk menjadi biaya hidup Iwan selama di Bogor. Sebungkus plastik hitam menjadi langkah awal bagi Iwan menuju gerbang kesuksesan. IPB menjadi kesempatannya untuk mengangkat harkat keluarganya. Dia tidak menyia-nyiakan amanat dari orang bau tanah begitu saja terlebih beliau pernah berkata bahwa beliau bosan hidup miskin. Dengan memadukan kecerdasan bersama kerja keras, ketekunan, harapan, serta perilaku ‘nrimo’, Iwan perlahan tapi niscaya mulai memetik hasil. Bocah polos dari Kota Apel ini bisa menduduki posisi terhormat di sebuah perusahaan besar di Big Apple, New York. 
Sesungguhnya, skrip yang dikerjakan secara bersama-sama oleh Ifa Isfansyah, Fajar Nugros, dan Iwan Setyawan senantiasa melaju dalam kecepatan yang konstan, tidak pernah benar-benar menunjukkan lonjakan konflik yang berarti, dan mengambil jalur penceritaan yang non-linear. Ini berpotensi menjadi sesuatu yang menjemukan apabila tidak memperoleh penanganan yang tepat. Beruntung, Ifa Isfansyah menyadari sepenuhnya hal itu. Di bawah penanganan sutradara peraih Piala Citra di FFI 2011 tersebut, 9 Summers 10 Autumns tumbuh sebagai tontonan yang bersahaja dan sungguh mengagumkan. Dia bisa memaksimalkan kinerja setiap departemen sehingga masing-masing bisa menunjukkan sumbangsih untuk mengangkat kualitas film secara keseluruhan. Departemen akting yakni yang paling menonjol dan mencuri perhatian. Penonton disuguhi performa yang teramat menakjubkan dari Alex Komang, Dewi Irawan, dan (secara mengejutkan) Ihsan Tarore. Berkat kelihaian mereka dalam berolah peran, penonton sanggup merasa terhubung dengan tokoh Bapak, Ibuk, serta Iwan. Kita merasa peduli dan turut menaruh tenggang rasa kepada mereka seperti ketiganya yakni orang-orang yang telah usang kita kenal. 
9 Summers 10 Autumns menjadi sebuah film yang sangat ‘personal’ bagi saya, dan saya yakin… bagi kebanyakan penonton lain. Saya ibarat tengah melihat kilasan balik dari kehidupan saya semasa kecil, serta sedikit kehidupan ketika ini. Bukan hanya perihal ‘from zero to hero’, tapi ini yakni ‘everybody’s story’. Tidak hanya terenyuh dan merasa pedih, tetapi sesekali juga tertampar. Salah satu adegan yang menjadi favorit saya yakni ketika Ibuk menyesali kegagalannya memainkan peranannya sebagai seorang ibu di dapur dan Iwan yang gres saja pulang dari ‘kencan’, lantas mendekapnya, menenangkannya. Sebuah momen yang sangat emosional bagi saya. Air mata yang telah ditahan sedemikian rupa, perlahan-lahan mulai turun membasahi pipi. Hal yang sama juga terjadi kala Bapak menggadaikan angkotnya. Tanpa dihujani obrolan berpanjang-panjang, hanya dengan satu ucapan saja, di dalam kesunyian, Anda akan tertusuk menyaksikan momen ini. Bapak merelakan aset paling berharganya demi mewujudkan mimpi si anak lanang. Mbrebes mili… Tak melulu menggambarkan kepedihan, ada masa-masa yang ceria dengan dialog-dialog menggelitik ketika Iwan kuliah di IPB. Anda yang tengah atau telah menjalani masa-masa kuliah, agak tidak mungkin tak tertawa (atau minimal, menyunggingkan senyuman) menyaksikan fase ini. Gambaran riil dari kehidupan mahasiswa anyar dan mahasiswa tingkat akhir.
Beberapa teman – terutama mereka yang tak benar-benar mengenal saya – mungkin akan beranggapan bahwa saya terlalu hiperbolis. Pada kenyatannya, saya memang benar-benar menikmati film ini, hati saya berhasil terhubung. Ini yakni sebuah film yang hangat dan jelas-jelas dibentuk dengan menggunakan hati. Ifa Isfansyah sukses menciptakan emosi saya turut terlibat selama kurang lebih dua jam. Hati saya pun berhasil dicurinya. Naskah yang tidak terlampau istimewa berhasil disulapnya menjadi bahasa gambar yang sanggup berbicara dengan lantang, penuh wibawa, dan terdengar indah. Pesan yang disampaikan mengena tanpa perlu menceramahi. Dukungan dari departemen akting dimana Alex Komang, Dewi Irawan, Ihsan Tarore, serta para pemain film pendukung tampil bersinar dan saling melengkapi semakin menguatkan film. Jangan lupakan pula sinematografi maha anggun hasil bidikan Gandang Warah dan musik menghanyutkan hasil kreasi Elfa Zulham. Tanpa kinerja apik mereka, film tak akan menjadi setangguh ini dan melaju sebagai salah satu film terbaik hasil olahan anak bangsa di tahun 2013, sejauh ini. Salam!

Outstanding