October 24, 2020

Review : 99% Muhrim – Get Married 5


Usai disodori jilid ketiga yang mengalami kemerosotan signifikan dari sisi kualitas, tidak ada lagi gairah menantikan seri terbaru dalam rangkaian seri Get Married. Hanya berharap Starvision segera mengakhiri franchise ini dengan hormat. Akan tetapi, dikala kepercayaan mulai luntur, Monty Tiwa dan Cassandra Massardi yang memanggul tanggung jawab atas buruknya Get Married 3 menebus kesalahan mereka dengan menawarkan Get M4rried yang tiada dinyana-nyana begitu mengasyikkan buat dilahap. Menyentil-nyentil fenomena sosial secara centil seraya membuat ledakan tawa disana sini. Dengan banyaknya kesenangan diperoleh tatkala menyimak seri keempat, maka pengharapan terhadap seri kelima sedikit banyak meningkat terlebih film berjudul lengkap 99% Muhrim – Get Married 5 ini dimaksudkan sebagai instalmen puncak. Dalam penanganan tepat, sanggup berubah menjadi sebagai ‘gong’ bagi franchise masyhur ini yang sayangnya tidak benar-benar terjadi. Memberi porsi kelewat besar untuk elemen reliji nampaknya menjadi pedang bermata dua bagi 99% Muhrim – Get Married 5

Kehidupan ijab kabul Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Nino Fernandez) yang telah berlangsung menahun sanggup dikata sempurna. Tidak ada lagi kekurangan, bahkan semakin mapan usai Rendy memperoleh proposal kerja di Amerika Serikat. Problematika yang telah usang menjauh mendadak mendekat dikala kendaraan beroda empat yang ditumpangi Bu Mardi (Meriam Bellina), Pak Mardi (Jaja Mihardja), serta ketiga buah hati Mae, dibegal. Mae stress berat mendapati kondisi kesehatan sang ibu kritis dan menjadi semakin terhenyak melihat putra-putri kesayangannya lancar merapal doa untuk kesembuhan Bu Mardi sementara ia sendiri sama sekali tidak fasih membaca kitab suci. Tersentil, Mae perlahan tapi niscaya mulai meninggalkan gaya hidupnya yang berorientasi duniawi dan mencoba mendalami agama. Perubahan ekstrim dalam diri Mae mengusik Rendy yang sanggup dibilang hanya mempergunakan agama sebagai identitas belaka. Mae berharap sang suami mengikuti langkahnya dalam merangkul iman, sementara Rendy merasa cita-cita sang istri terlalu menyudutkannya. Gelombang raksasa pun seketika menghantam perahu rumah tangga Mae-Rendy. 

Terdengar terlalu serius? Tidak perlu risau. Dalam jilid kelima yang dipunggawai oleh Fajar Bustomi, kau masih akan menjumpai tawa canda dalam dosis mencukupi. Ya, tingkat kebodorannya memang tidak setinggi film sebelumnya yang menghidupkan kembali semangat chaos comedy dalam franchise yang sempat meredup, tapi setidaknya penonton tidak ditelentarkan dalam kondisi humor kering kerontang. Sentilan sentilun terhadap fenomena sosial di sekitaran – sasarannya sekali ini masyarakat modern yang mendadak serba relijius termasuk pergeseran fungsi hijab dan loba lobi berkedok pengajian bersama – tersampaikan cukup mengena. Ada kalanya dihantarkan dalam balutan komedi konyol yang dibumbui olok-olok ibarat Mami Rendy (Ira Wibowo) khawatir putrinya, Sophie (Anggika Borsterli), bergabung dengan kelompok ekstrimis (baca: ISIS) sehabis pakaiannya yang semula tidak lebih lebar dari selembar serbet tiba-tiba menutup seluruh aurat, atau menyentuh emosi di suasana dramatis yang ditunjukkan lewat perdebatan sengit Mae-Rendy karena hidayah masih enggan menyambangi Rendy yang lantas berujung pada introspeksi diri masing-masing untuk memaknai kembali arti dari ‘kebahagiaan dalam pernikahan’. 
Masalahnya, ketimbang bernakal-nakal ria mengkiritisi sikap masyarakat – ibarat dilakukan oleh Hijab di awal tahun ini – 99% Muhrim (dari kata mahram) malah cenderung menentukan jalur kondusif dengan memainkan kartu relijinya. Keceriwisan dalam berkomentar sosial dialihkan ke keceriwisan dalam berbagi tuntunan serba baik sehingga ada kalanya penonton tengah merasa mendengarkan ceramah agama di sebuah pengajian alih-alih menonton film di layar lebar. Akibatnya, level kesenangan pada film turut tergerus, sempat memunculkan rasa lelah yang untungnya tidak mendorong film terjerumus ke jurang kolam Get Married 3. Phew. Kuncinya terletak pada masih berhasilnya si pembuat film dalam memantik derai tawa sekaligus memancing hati untuk ikut terenyuh. Selain itu, para pelakonnya pun saling bersinergi dengan membuat chemistry meyakinkan, ibarat Nirina Zubir dengan Nino Fernandez, Meriam Bellina dengan Jaja Mihardja yang (lagi-lagi) mencuri perhatian, serta Ricky Harun sebagai Jali dengan Anggika Borsterli yang penuh kesungguhan menjalankan amanat melanjutkan tugas Tatjana Saphira. Lalu bagaimana dengan trio sobat Mae? Sayang beribu sayang, hanya Amink yang menyanggupi buat kembali (itupun dalam tugas minor!) padahal sebagai jilid pamungkas alangkah asyiknya jikalau pemain inti hadir dalam konfigurasi lengkap.

Acceptable