October 20, 2020

Review : A Copy Of My Mind


“Aku sukanya film yang makhluk-makhluk gitu. Kayak buaya sama ikan jadi bukan.” 

Buang jauh-jauh ekspektasimu terkait berpetualang ke dunia antah berantah misterius, penuh teror dari banyak sekali penjuru, dan menyimpan berlapis-lapis misteri, untuk film terbaru Joko Anwar. Dalam A Copy of My Mind, Joko Anwar memutuskan membawa penonton kembali ke satu wilayah di semesta yang benar-benar telah diakrabi: Indonesia. Lebih spesifiknya lagi, Indonesia ini merujuk kepada Jakarta. Bagi yang mengikuti jejak rekam sang sutradara tentu mengetahui bahwa film di permulaan karirnya, Janji Joni, mengambil latar kawasan serupa. Hanya saja, tak ibarat Janji Joni yang dipenuhi absurditas guna menghidupkan elemen komediknya, A Copy of My Mind cenderung lebih membumi dalam berceloteh. Lebih realistis. Disini, Joko mencoba memotret sisi ‘biasa’ dari sebuah kota yang memungkinkan mimpinya mengarungi dunia perfilman tercapai. A Copy of My Mind yaitu semacam bentuk penghormatannya terhadap Jakarta. Segenap unek-uneknya mengenai ibukota tanah air – entah itu rasa cinta, gemas, prihatin, hingga jengkel – dilontarkannya melalui kisah percintaan dua wong cilik yang terhidang begitu manis, intim, sekaligus getir. 

Joko Anwar memperkenalkan kita kepada dua tokoh utama yang menjadi ujung tombak A Copy of My Mind; Sari (Tara Basro) dan Alek (Chicco Jerikho). Sari yang bekerja di sebuah salon kelas rendah berjulukan Yelo digambarkan mempunyai ketertarikan tinggi terhadap film-film monster kelas B dan bermimpi mempunyai home theater untuk memfasilitasi hobinya menonton film. Selepas seharian membanting tulang, Sari kerap terlihat wara-wiri di lapak DVD bajakan sebelum akibatnya menyantap hasil buruannya seraya melahap mie instan di kamar kosnya yang sangat sempit. Suatu ketika, Sari tertimpa sial karena film yang ditontonnya mempunyai kualitas terjemahan jauh dari kata ciamik. Berharap memperoleh DVD pengganti dengan melayangkan komplain, Sari justru dipertemukan dengan si pembuat terjemahan, Alek. Meski pertemuan keduanya semula terasa aneh, benih-benih asmara secara cepat melingkungi keduanya ketika masing-masing mendapati kebahagiaannya setiap kali bersama. Belum juga usang memadu kasih, gres juga kekerabatan mereka kian rekat, cobaan besar menghampiri keduanya hasil dari kecerobohan Sari yang seketika menempatkan hidup mereka dalam ancaman. 

A Copy of My Mind sanggup jadi akan membuat dengusan kesal pada mereka yang berharap Joko Anwar akan menghidangkan sesuatu ‘wah’ maupun revolusioner disini. Ya, nyaris tiada kemewahan dalam film teranyar Joko – kecuali toko elektronik, salon gres kawasan Sari bekerja, serta sel penjara untuk tahanan istimewa – alasannya yaitu lewat A Copy of My Mind, ia ingin melihat Jakarta senyata-nyatanya. Bukan Jakarta yang dipenuhi pesona, keglamoran, maupun janji-janji besar, dimana dibaliknya juga tersimpan banyak kepalsuan, melainkan wajah orisinil Jakarta yang sumpek, kumuh, dan berisik (seperti versi kebalikan dari Arisan! yang skenarionya juga ditulis Joko). Melihat realita, bukan mimpi. Mempergunakan Sari dan Alek, penonton dibiarkan menengok bianglala kehidupan masyarakat kelas bawah yang seringkali jalan di kawasan dan tampak begitu menjemukan pula melelahkan. Saking melelahkannya sampai-sampai mereka masa ndeso dengan segala hiruk pikuk kampanye menjelang Pemilihan Presiden alasannya yaitu tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang bahkan tidak akan memberi bantuan terhadap kehidupan mereka. Beberapa kali melewati keramaian kampanye, Sari terlihat tak memperlihatkan ketertarikan. Obrolannya dengan Alek pun tak pernah menyinggung soal politik. Paling dekat yaitu ketika ia berbincang dengan klien, itu pun sebatas “iya nih bu, berisik banget.” 

Ketidaktertarikan wong cilik terhadap hingar bingar politik menjadi salah satu hal yang disoroti Joko lewat A Copy of My Mind selain tentunya bagaimana mereka menjalani rutinitas tidak jauh-jauh dari metromini, kemacetan, kawasan kerja, warteg, dan kawasan kos dengan sesekali mengunjungi kawasan hiburan. Bagi Sari, itu yaitu lapak DVD bajakan yang menyediakan film-film monster kesukaannya dan toko elektronik yang memungkinkan mimpinya terwujud. Dua lokasi tersebut, sekaligus momen-momen kebersamaan Sari bersama Alek (seperti melekat belahan CD di tembok, misalnya) yaitu cara Joko mendefiniskan “bahagia itu sederhana” ibarat kerap diucap oleh para pengguna sosial media. Ya, Sari memang tidak pernah muluk-muluk dalam menemukan kebahagiaannya. Bahkan ia sendiri sudah sangat senang sanggup menyaksikan film kesukaannya di kamar kos tanpa ada gangguan dari subtitle buruk. 
Sosok Sari sendiri terasa begitu konkret alasannya yaitu selain well, kita sering melihat mbak-mbak Salon ibarat dia, hobinya tersebut tentu merepresentasikan Joko dan para pecinta film ibarat kita. Siapa sih tidak pernah melewati fase bertanya, “ini gambarnya sudah ori belum?,” ke penjual DVD bajakan kemudian mencicipi kejengkelan besar kala terjemahan filmnya kacau balau? Lalu siapa sih tidak pernah berfantasi seakan-akan home theater keluaran terbaru di toko elektronik akan segera mejeng bagus di ruang tamu rumah? Mungkin kau yang berkantong tebal tidak pernah mencicipi pengalaman unik tersebut, tetapi rasa-rasanya penikmat film berkantong pas-pasan telah berulang kali merasakannya. Sedikit banyak persamaan nasib yang ditunjang pula oleh performa membius dari Tara Basro dengan permainan mimik muka meyakinkan (contoh ada di adegan toko elektronik atau ketika ia melayani klien) membuat aku sanggup terhubung dengan mudahnya pada sosok Sari. 

Untuk menambah kesan ‘otentik’, pergerakan kamera dalam A Copy of My Mind pun tak dirancang sophisticated, malah cenderung dibiarkan bergerak-gerak tak karuan seolah dipegang seorang amatir yang uniknya malah justru memperlihatkan kesan intim. Penonton diposisikan sebagai observer, bila perlu malah penguntit, yang mengikuti kemanapun Sari maupun Alek bergerak. Alhasil ada kedekatan dengan para tokoh utama sehingga perlahan tapi niscaya memungkinkan kita untuk peduli pada kisah cinta maupun masalah-masalah mereka tanpa ada kesan dipaksakan. Perasaan berempati itu muncul sendirinya alasannya yaitu selama berhari-hari (atau dalam film, dua jam) kita mengamati gerak gerik keduanya secara intens. Dan tentu saja itu merupakan salah satu hasil kehebatan chemistry Tara Basro-Chicco Jerikho sampai-sampai muncul perasaan harap-harap cemas terhadap kelangsungan kekerabatan percintaan mereka ketika Sari diceritakan telah melaksanakan kesalahan besar dalam hidupnya. Dari semula senyam senyum senang melihat pasangan ini, sesekali tertawa, kemudian ikut dipenuhi peluh (you know what I mean, rite? Ehem), hingga akibatnya kita mencicipi ketegangan yang ditandai degup-degup kencang jantung, disambut ketidakberdayaan, kehampaan, kepiluan, dan kerelaan. Memiliki beraneka ragam rasa pada sisi emosi tanpa harus disuarakan secara lantang, terperinci A Copy of My Mind yaitu salah satu karya terbaik yang pernah dihasilkan oleh Joko Anwar.

Outstanding (4/5)