October 17, 2020

Review : A Dog’s Purpose


“I tried to make sense out of all the things I’d seen. Was there a point to this journey of life, and how did bacon fit in?” 

Banyak yang mengatakan, “anjing ialah sobat terbaik manusia.” Mengingat aku lebih menentukan kucing ketimbang anjing untuk dijadikan binatang peliharaan – alasannya ialah satu dan lain hal, kebenarannya tidak bisa aku verifikasi. Tapi satu yang terperinci ditengok dari kacamata awam saya, film mengenai anjing utamanya bila mengupas tuntas korelasi antara si binatang dengan majikannya, jarang sekali berakhir mengecewakan. Beberapa judul yang menjadi kesukaan secara personal, antara lain Air Bud (jilid pertama, bukan sekuel-sekuelnya), My Dog Skip, Marley & Me, serta paling sering dibicarakan oleh khalayak ramai, Hachi: A Dog’s Tale. Nah, sutradara dari judul terakhir disebut, Lasse Hallstrom, baru-baru ini melepas sebuah film anyar yang juga menempatkan anjing sebagai tokoh sentral dan didasarkan pada novel laris, A Dog’s Purpose. Sedikit membedakannya dengan beberapa film anjing yang telah disebut, ada elemen fantasi dicelupkan ke dalam A Dog’s Purpose. Kita bisa mendengar isi pikiran dari si anjing dan sosoknya pun diceritakan bisa bereinkarnasi berulang kali demi memenuhi satu tujuan hidup: membawa sang pemilik menemukan kebahagiannya. 


Merentangkan latar penceritaan dari masa 1950-an sampai 2000-an, A Dog’s Purpose memperkenalkan kita kepada seekor anjing Golden Retriever berjulukan Bailey (disuarakan oleh si Olaf dari Frozen, Josh Gad). Persentuhan Bailey dengan dunia insan dimulai secara resmi dikala Ethan Montgomery (K.J. Apa) menyelamatkannya dari kehilangan cairan tubuh dan memutuskan untuk memeliharanya. Tidak butuh waktu usang bagi Bailey untuk mengikuti keadaan hidup ditengah-tengah keluarga Montgomery yang serasi dan kepribadiannya yang periang memperlihatkan warna tersendiri bagi setiap anggota keluarga, khususnya Ethan. Keduanya memiliki korelasi yang sangat dekat dan satu yang tidak dipahami oleh Bailey, insan berubah seiring berjalannya waktu. Tiba-tiba hadir Hannah (Britt Robertson) di pelukan Ethan, ayah Ethan menjelma alkoholik yang pemarah, kemudian Ethan harus meninggalkan kampung halamannya demi mengenyam kursi kuliah. Belum sempat Bailey mencerna semua kegilaan ini serta tujuan hidupnya sebagai seekor anjing, selesai hidup menjemputnya… dan semuanya kembali dari awal dengan majikan, ras, plus dekade berbeda! 

Gagasan A Dog’s Purpose terperinci menggelitik. Perihal seekor anjing yang mampu bereinkarnasi berkali-kali guna menguak makna dari eksistensinya. Terdengar sangat filosofis dan deep deep gimanaaa gitu, yah? Mempertanyakan tujuan kehidupan. Meski sepintas terkesan akan sedikit berat, Lasse Hallstrom tak lantas membebani penonton dengan lontaran dialog-dialog yang memerlukan perenungan mendalam untuk ditemukan maknanya mengingat bagaimanapun juga, A Dog’s Purpose ialah film keluarga yang ditujukan ke aneka macam lapisan usia. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan Bailey pun sederhana saja ibarat kata-kata penghias kartu motivasi. Terlepas dari elemen fantasinya dimana si anjing berkelana ke beberapa dekade, sejatinya contoh penceritaan A Dog’s Purpose tidak jauh berbeda dengan dog movies lainnya: dimulai oleh perjumpaan yang hangat, dilanjut ke fase persahabatan yang penuh dinamika timbul, dan ditutup oleh perpisahan merobek hati. Generik? Sebut apapun sesukamu, namun contoh yang kemudian agak dibelokkan oleh si pembuat film guna mengakomodir tema reinkarnasinya ini masih tergolong efektif kala diaplikasikan dalam A Dog’s Purpose

Well, tema reinkarnasinya sendiri sekalipun menarik di satu sisi, nyatanya cukup mendistraksi di sisi lain. Melompat-lompat secara cepat – kecuali segmen Ethan di awal mula, menciptakan emosi penonton tak pernah terbentuk dengan sempurna. Buyar begitu saja karena film telah mengalihkan fokusnya. Ya, majikan Bailey yang lain; polisi duda, mahasiswi jomblo, serta pasangan miskin yang abusive, memang tak diberi porsi tampil memadai. Mereka ada sekadar untuk menguatkan keyakinan Bailey mengenai tujuan hidupnya di penghujung film sehingga selain Ethan, barisan karakter-karakter di film ini berbentuk satu dimensi. Tidak pernah lebih. Pun demikian, terlepas dari ketidakseimbangan ini, A Dog’s Purpose masih bekerja ibarat seharusnya sebagai sebuah dog movies. Paling tidak, A Dog’s Purpose berhasil hadirkan tawa renyah akhir melihat tingkah enerjik Bailey yang kerap memicu kejadian-kejadian konyol, berikan rasa hangat yang muncul usai menyimak korelasi dekat antara Bailey bersama majikan kesayangannya, Ethan – khususnya di paruh selesai yang sayang beribu sayang telah dibocorkan momen emasnya melalui trailer, dan pada balasannya menyebarkan senyum begitu melangkahkan kaki ke luar bioskop. It’s a decent feel-good movie.

Acceptable (3/5)