October 22, 2020

Review : A Good Day To Die Hard


“I’m on fucking vacation!” – John McClane

Dalam perayaan tahun perak, franchise Die Hard yang mulai menghibur para penikmat film pada tahun 1988 melempar jilid kelimanya yang diberi tajuk A Good Day to Die Hard. Ini sekaligus menjadi ajang kembalinya franchise ini ke layar lebar sehabis terakhir kali menyambangi penonton 6 tahun silam. Jika segala bentuk kekacauan yang terjadi pada keempat seri sebelumnya berlangsung di Amerika Serikat, maka kali ini John McClane (Bruce Willis) terbang ribuan mil ke belahan dunia lain untuk mengobrak abrik Rusia. Ya, konsep wajib ‘the wrong man in a wrong place at the wrong time’ masih diterapkan di sini. Rencana untuk sedikit bersantai, menggelar ‘family time’ bersama sang putra yang tengah terlibat duduk kasus pelik, dan menikmati keindahan Negeri Beruang Merah ini terusik karena, ya, ia yakni seorang laki-laki yang senantiasa berada di daerah dan waktu yang salah. Itulah John McClane. Tidak peduli kemanapun ia pergi, jikalau itu berarti yakni sekuel dari Die Hard, maka berkah tersebut akan selalu berada di sisinya.  

Di dalam seri kelima ini, John McClane melanglang ke Moskow, Rusia, usai mendapati anak laki-lakinya, Jack McClane (Jai Courtney), sedang mengalami masalah. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan dan belum sempat untuk menikmati secangkir teh hangat, meregangkan otot kaki, atau berendam air panas, John pribadi disambut oleh serangkaian kekacauan dikala menjejakkan kaki di ibu kota Rusia tersebut. Pertemuannya dengan sang putra berlangsung dalam situasi yang salah dan tidak mengenakkan. Jack, yang ternyata yakni seorang distributor CIA, tengah dalam misi menyelamatkan seorang tahanan politik berjulukan Yuri Komarov (Sebastian Koch) yang terlibat dalam sebuah kasus kebocoran radiasi nuklir di Chernobyl pada tahun 1986. Mantan rekannya yang sekaligus seorang pejabat tinggi di pemerintahan Rusia, Chagarin (Sergei Kolesnikov), mengkhianatinya dan berencana untuk melenyapkan Komarov dari muka bumi sehabis mengetahui bahwa Komarov mempunyai dokumen penting yang membongkar keterlibatan Chagarin dalam insiden Chernobyl. John yang semula tidak tahu menahu mengenai kasus ini pun akibatnya ikut terseret ke dalamnya sehabis ia memutuskan untuk ikut campur demi menolong sang anak sekaligus memperbaiki relasi yang retak diantara mereka. 

John Moore yang bertindak selaku sutradara tak banyak berbasa-basi dalam membuka film. Penonton yang telah duduk cantik di dalam gedung bioskop seraya ngemil berondong jagung dan menyeruput segelas soda pribadi disuguhi dengan adegan kejar-kejaran kendaraan beroda empat yang masif di tengah kemudian lintas Moskow yang sangat padat. Bang bang, boom boom! Berlangsung dalam durasi yang terbilang panjang, gelaran agresi yang dihadirkan ini terang merupakan sebuah pembuka yang seru dan menyenangkan. Apabila Anda menggemari tontonan dimana sejumlah kendaraan beroda empat mengalami nasib naas melalui aneka macam penghancuran yang tidak manusiawi, maka apa yang tersaji di layar akan membuat Anda bersemangat. Dan selayaknya jilid lain dari franchise ini dimana ledakan demi ledakan menjadi pemandangan yang umum, maka Moore pun membawanya ke level lebih tinggi di sini. Segalanya menjadi semakin besar. Adegan aksinya tersaji nyaris tanpa putus dimulai dari jalanan Moskow yang padat hingga berakhir di Chernobyl melalui konfrontasi tamat yang melibatkan helikopter. Benar-benar hancur-hancuran dan sangat berisik. 
Ini terang menjadi sebuah suguhan yang mengasyikkan bagi siapapun yang tiba ke bioskop mengharapkan sebuah tontonan agresi yang tidak membutuhkan ajaran serius dan hanya diisi dengan serangkaian ledakan, tendangan, dan tembakan yang tiada berkesudahan. Bukan sesuatu yang salah, tentu saja. Akan tetapi hal ini tidak lantas mengizinkan sang penulis skenario, Skip Woods, untuk bermalas-malasan dalam merajut skrip. Memunculkan adegan langgar yang berkepanjangan demi menutupi lubang demi lubang yang menganga lebar dalam hal penceritaan. Terlalu fokus untuk membuat sebuah penemuan anyar dalam hal adegan langgar sehingga bisa membuat lisan penonton menganga, Woods lupa bahwa bagaimanapun A Good Day to Die Hard tetaplah sebuah film yang membutuhkan naskah. Kisah yang disampaikan seolah hanya tempelan belaka dan dihadirkan demi menggugurkan kewajiban bahwa sebuah film kudu mempunyai cerita. Nyaris kosong tak berisi. Hubungan antara John dan Jack ditampilkan sekenanya serta tidak pernah tergali lebih mendalam sehingga penonton pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menaruh simpati ke kedua tokoh ini. Dingin dan hambar. Yang terlihat justru lebih mirip relasi antara seorang ‘hero’ dengan ‘sidekick’-nya ketimbang ayah dan anak. Apabila ini masih bisa dimaafkan, maka bagaimana dengan sang villain yang sama sekali tidak meninggalkan greget, terkesan lemah dan terang kalah telak dengan para penjahat di jilid-jilid sebelumnya? Penggemar berat Die Hard pun akan mendengus kesal. Upaya untuk membuat twist di paruh tamat pun berakhir pada kegagalan karena sama sekali tidak istimewa dan telah usang, tentu saja. Sangat gampang untuk ditebak. 
Dengan naskah yang bahkan lebih ringan dari bulu tersebut, apakah A Good Day to Die Hard lantas berubah menjadi menjadi sebuah film yang buruk? Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Untuk saya pribadi, A Good Day to Die Hard tidak sepenuhnya gagal. Menyenangkan untuk disaksikan, walaupun sangat gampang untuk dilupakan. Meski mengalami kemorosotan kualitas yang cukup signifikan dari Live Free or Die Hard, akan tetapi segala bentuk adegan agresi pemacu adrenalin yang ditampilkan di sini setidaknya sedikit banyak bisa menyelamatkan muka franchise Die Hard. Harus diakui, gelaran aksinya terang sangat ‘wow’ dan menghibur walaupun ini masih belum bisa mengobati kekecewaan sebagian penggemar berat yang tentunya mengharapkan jilid ini hadir bukan hanya untuk merayakan peringatan ulang tahun ke-25 dengan sajian agresi kosong tak berotak namun lebih dari itu. Meski demikian, A Good Day to Die Hard tetaplah sebuah film yang mengasyikkan terlebih jikalau niatan Anda untuk menyaksikan film ini hanyalah untuk melepas penat dan bersenang-senang dengan melihat seribu satu jenis ledakan. Yippee-ki-yay, motherfucker!

Acceptable