October 20, 2020

Review : A Separation


“What is wrong is wrong, no matter who said it or where it’s written.” – Nader 

Sungguh disayangkan, pihak Cinema 21 tergolong telat memasukkan A Separation ke bioskop-bioskop Indonesia. Andaikata film dari Iran ini menyambangi penonton 6 bulan kemudian sesudah menggondol piala Oscar untuk kategori ‘Best Foreign Language Film’, bisa jadi gegap gempitanya akan sangat terasa. Kala itu, jejaring sosial ramai membicarakan film ini. Saya dengan sangat terpaksa menyaksikan film besutan Asghar Farhadi ini melalui layar laptop karena pesimis A Separation akan menyambangi Indonesia. Jika Anda membaca postingan saya yang bertajuk 20 Film Terbaik 2011 Versi Cinetariz, tentu mengetahui bahwa film ini nangkring di urutan pertama. Ketika beberapa hari kemudian diumumkan bahwa A Separation naik tayang, saya pun rela menempuh perjalanan darat selama berjam-jam demi mencicipi kembali pengalaman sinematik yang memuaskan selama 2 jam di layar lebar. Anda mungkin terheran-heran, “kok hingga segitunya demi sebuah film?”, tapi percayalah, film ini sangat layak untuk ditonton lebih dari sekali. Dan kalau Anda menyebut diri Anda sebagai ‘movie buff’, ‘movie freak’, atau apapun itu sebutannya, namun masih belum menyaksikan A Separation hingga detik ini, wah… Apa saja yang telah Anda lakukan hingga melewatkan film seapik ini? Suatu kerugian yang sangat besar. 
Yang menjadi akar dari segala konflik dalam A Separation yaitu perceraian dari Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami). Farhadi pribadi membuka film kelimanya ini dengan tensi yang meninggi lewat perdebatan sengit antara Simin, Nader, dan bunyi hakim yang diwakili kamera subjektif seakan-akan penonton yaitu si hakim, atau tengah duduk di samping si hakim. Kedua tokoh utama menawarkan tatapan tajam. Simin melayangkan permohonan cerai karena Nader ‘emoh’ diajak meninggalkan Iran sementara Simin ingin putri semata wayang mereka, Termeh (Sarina Farhadi), tinggal dalam lingkungan yang sehat. Nader beralasan tidak ingin meninggalkan sang ayah yang mengidap penyakit Alzheimer. Hakim pun menolak untuk mengabulkan seruan Simin. Perpecahan pun terjadi, Simin memboyong barang-barangnya ke rumah orang tuanya sedangkan Nader tinggal bertiga bersama Termeh dan sang ayah. Dengan kepergian istri, maka Nader pun butuh seseorang untuk membantunya mengasuh sang ayah. Atas saran Simin, Nader memekerjakan Razieh (Sareh Bayat). Belum genap tiga hari bekerja, Razieh telah menciptakan masalah. Razieh pergi berobat ke dokter dan meninggalkan ayah Nader di kamarnya dalam keadaan terikat. Nader mengetahui hal ini, ia berang. Kemarahannya kian tak terbendung ketika mengetahui uangnya di laci kamar turut raib. 
Asghar Farhadi menerangkan melalui A Separation, tidak perlu mengangkat tema yang besar, ambisius, dan berbelit-belit untuk menghasilkan sebuah film yang bisa meninggalkan kesan mendalam di hati penonton. Isu yang dikupas oleh Farhadi di sini tidak bergerak jauh dari permasalahan umum yang dihadapi oleh masyarakat Teheran yang mungkin saja terjadi pula di pecahan dunia lain. Dengan citra riil semacam ini, penonton jadi lebih gampang terkoneksi dengan apa yang hendak dipaparkan oleh Farhadi. Persoalan utama dari belasan lapis problem yang disoroti melalui A Separation berakar kepada keegoisan manusia. Bagaimana sebuah perceraian ternyata memberi pengaruh yang cukup signifikan ke dalam aneka macam lini kehidupan sebuah keluarga, atau dalam hal ini dua keluarga. Termeh bukan menjadi satu-satunya korban dari perceraian Simin dan Nader. Perceraian seakan menjadi kunci pembuka dari sebuah pintu yang menyimpan setumpuk problematika kehidupan. Simin, Nader, dan Termeh kolam sudah jatuh masih tertimpa tangga pula. Berbagai cobaan hidup tiba silih berganti tak henti-hentinya paska Simin tetapkan untuk berpisah dengan suaminya. Apakah ini semacam hadiah dari Tuhan untuk makhluk-Nya yang melaksanakan perbuatan yang dibenci-Nya? 

Naskah hasil racikan Farhadi luar biasa rapat. Penonton dibiarkan ngos-ngosan mengikuti alur dongeng yang membentang sepanjang 123 menit tanpa dibiarkan barang sedetik pun untuk menghela nafas. Melelahkan memang, tapi mengasyikkan. Terlebih, penonton dituntut untuk berpartisipasi selama film berlangsung. Farhadi bukan tipe sutradara yang menawarkan tanggapan kepada penonton atas setiap kasus yang dihadapi oleh setiap tokohnya. Kita diminta untuk memecahkannya sendiri. Layaknya sebuah persidangan, penonton berada dalam posisi hakim atau juri. Nader dan Razieh yaitu pengacara pembela dan penuntut, untuk diri mereka sendiri. Simin, Termeh, serta Hodjat (Shahab Hosseini), suami Razieh yang temperamen, sebagai saksi. Setiap tokoh berada dalam posisi abu-abu, Farhadi tidak membela salah satu dari mereka, dan menyerahkan sepenuhnya kepada kita untuk menentukan, siapakah yang bersalah? 
Ketika konflik antara Nader dan Razieh pertama kali mencuat, saya cukup yakin Razieh patut disalahkan. Dia teledor dalam menunaikan kewajibannya sebagai perawat. Namun seiring berjalannya film, terutama sesudah mengetahui bahwa Razieh tengah hamil, peliknya kehidupan rumah tangganya dengan Hodjat, dan ia yaitu seorang yang relijius, maka saya tidak tahu lagi kepada siapa saya harus berpihak. Keragu-raguan saya hadir bersamaan dengan keragu-raguan yang muncul dari setiap tokoh. Apakah saya harus menyalahkan Hodjat dan Simin yang secara tidak pribadi mempunyai andil besar dari semua permasalahan ini? Bukti demi bukti bermunculan melalui percakapan yang intens antara para tokoh. Penonton kudu konsentrasi demi memeroleh tanggapan yang diinginkan. Pada tahapan ini, saya pun harus mengakui kehebatan seorang Asghar Farhadi. Bukan sesuatu yang mengherankan juri Oscar memberi nominasi ‘Best Original Screenplay’ untuk film ini. Bayangkan, hanya dengan bermodalkan konflik yang boleh dibilang klise dan obrolan yang ceriwis, A Separation bisa menciptakan saya duduk anggun dan tegang sepanjang film. Fuh, sungguh brilian.

Outstanding