October 20, 2020

Review : Abraham Lincoln: Vampire Hunter

“There is darkness everywhere! You are not the only one who has lost everything!” – Henry 

Jangan tertukar dengan Abraham Lincoln versi Steven Spielberg yang gres akan dirilis di penghujung tahun ini. Abraham Lincoln milik Timur Bekmambetov ini, sekalipun menjumput tokoh yang sama, tidak beranjak dari buku biografi dari presiden ke-16 Amerika Serikat tersebut. Malahan, jalan ceritanya sama sekali fiktif. Well, tidak sepenuhnya fiktif sih, Abraham Lincoln: Vampire Hunter lebih sempurna disebut sebagai film fiksi yang mengambil latar belakang sejarah. Ada beberapa peristiwa, dan tokoh tentunya, yang memang ada dalam kehidupan nyata. Timur Bekmambetov mengambil dasar film terbarunya ini dari novel fiksi berjudul sama karangan Seth Grahame-Smith yang turut didapuk menjadi penulis naskah film ini. Dalam imajinasi Grahame-Smith, Abraham Lincoln tidak hanya digambarkan sebagai presiden yang vokal dalam menyerukan pembatalan perbudakan, tetapi juga mempunyai belakang layar gelap yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Rahasia gelap dari Lincoln inilah yang menjadi inti dongeng dari film agresi isu terkini panas yang menciptakan aku menguap lebar beberapa kali ini. 


Sebagai negara liberal yang menjunjung tinggi asas “freedom of speech and expression”, tak mengherankan sebuah karya sastra fiktif yang mencatut tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa bisa beredar bebas nyaris tanpa kendala di Amerika Serikat. Lincoln yang merupakan presiden Amerika Serikat dengan jasa yang luar biasa besar bisa-bisanya dikisahkan mempunyai ‘pekerjaan sampingan’ sebagai pemburu vampir. Andaikan sang tokoh utama ini yakni Soekarno atau Soeharto, apa yang akan terjadi? Abraham Lincoln: Vampire Hunter tak mempunyai jalan dongeng yang provokatif, selama Anda menontonnya dengan pikiran terbuka, tentu saja. Malahan bisa dikatakan sangat sederhana dan cenderung datar. Lincoln (Benjamin Walker) berniat menuntut balas dendam kepada Jack Barts (Marton Csokas), seorang vampir yang menimbulkan sang ibu meninggal dunia. Dalam perjalanannya mencari keberadaan Barts, Lincoln bertemu dengan Henry (Dominic Cooper) yang menyelamatkan nyawa Lincoln sehabis diserang secara brutal oleh seorang vampir. Mengetahui planning Lincoln, Henry memperlihatkan bantuan. 

Bantuan yang diberikan oleh Henry berupa training bagaimana cara menghancurkan vampir. Henry pun meminta Lincoln untuk mengubah rencananya dari sekadar balas dendam memuaskan emosi menjadi peperangan dalam rangka kemanusiaan. Target yang menjadi incaran pun meluas tidak hanya Barts, tetapi juga vampir-vampir kejam lainnya termasuk sang pemimpin kaum vampir, Adam (Rufus Sewell). Di ketika menjalankan ‘tugas’ sebagai pemburu vampir inilah, Lincoln berjumpa dengan Mary Todd (Mary Elizabeth Winstead) yang berjasa mengantarkannya terjun ke dunia politik sekaligus menjadi pendamping hidup yang setia di kemudian hari. Di paruh awal film, Bekmambetov mengajak penonton untuk menyelami kehidupan dari sang presiden di kala remaja. Dengan minimnya konflik yang ditebar, fase ini cukup membosankan untuk diikuti. Pembantaian terhadap sejumlah vampir tak berhasil meningkatkan gairah aku untuk tetap memandangi layar bioskop dengan cerah ceria penuh semangat yang menggelora. Saya mulai terkantuk-kantuk. Apa bedanya Lincoln si pemburu vampir dengan Blade selain Lincoln yakni seorang presiden kurang kerjaan yang mau-maunya melayani para penghisap darah ini? Blade masih tetap terlihat lebih keren di mata saya, begitu pula dengan Van Helsing. 

Setelah menit demi menit yang menjemukan, Bekmambetov mulai mengeluarkan jurus andalannya yang telah ia asuh sebelumnya dalam Wanted. Sajian berupa visualisasi yang penuh gaya ini bahwasanya bukan lagi sebuah penemuan yang mencengangkan, apalagi kita gres saja disuguhi sajian yang serupa dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows tempo hari. Adegan agresi dikemas dalam slow-motion dengan pergerakan kamera yang dinamis, editing cepat plus sinematografi yang manis. Memang bukan lagi sesuatu yang segar, akan tetapi masih tetap menyenangkan untuk ditonton. Film mulai tidak mengecewakan menarik untuk diikuti ketika memasuki Act III, khususnya titik puncak di kereta yang tengah melaju kencang. Sedikit banyak mengingatkan pada Wanted memang, namun aku tak peduli selama tiket yang telah aku bayar mahal tak terlalu sia-sia. Setelah selama satu jam lebih dininabobokan, kesudahannya ada sesuatu yang bisa menciptakan mata aku sedikit melek. Gerombolan vampir di Abraham Lincoln: Vampire Hunter ini tak terlalu berbeda jauh dengan para vampir di The Twilight Saga. Ompong, tak bertaring. Begitu pula dengan filmnya secara keseluruhan yang nyaris tak mempunyai tenaga meskipun telah dihadirkan pemandangan menyerupai darah muncrat kesana kemari dan belahan badan bergelimpangan dimana-mana. Adegan aksinya kurang greget, naskahnya buruk, dan CGI-nya pun kasar. Abraham Lincoln: Vampire Hunter bukanlah sebuah film isu terkini panas yang memuaskan. NEXT!

2D atau 3D? Mari berhemat dengan menonton versi 2D-nya saja. 

Poor