October 20, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Act Of Valour

“Oh, Amerika. Tentara kalian sangat perkasa, jumawa, tak terkalahkan”. Demikianlah ekspresi kekaguman yang dibutuhkan meluncur dari verbal penonton usai menyaksikan agresi heroik para tentara Amerika Serikat dalam sebuah film. Saat Hollywood menampilkan tentara Amerika Serikat dalam film buatan mereka, hampir sanggup dipastikan Anda telah bisa menebak apa yang akan digulirkan beberapa jam ke depan. Aksi terorisme disulut oleh seseorang (atau sekelompok orang) dari musuh awet Amerika – negara-negara di daerah Timur Tengah, Eropa Timur, Kuba, Vietnam, Korea Utara -, sang pahlawan dengan pakaian seragam kebangaannya pun memerlihatkan batang hidungnya, kedua belah pihak saling bertarung dengan sengit, dan voilaaaa… sang pahlawan memenangkan pertarungan, dunia pun berhasil diselamatkan. Yang lebih unik lagi, para pembela keamanan negeri adikuasa ini pun kerap digambarkan melawan makhluk ajaib yang dilengkapi dengan persenjataan maha canggih serta kemampuan intelegensia yang maju tanpa kesulitan berarti. Yah, jangankan Alien yang nyata-nyata yaitu reka imajinasi penulis naskah belaka, Hollywood saja berani ‘memalsukan’ sejarah dengan memenangkan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam. Intinya sih, siapapun lawannya, pemenangnya tetap Amerika Serikat. 
Duo Mike McCoy dan Scott Waugh mencoba memamerkan kekuatan tentara mereka melalui Act of Valour yang selama proses pembuatannya mendapat derma penuh dari pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat. Bahkan, bintang film utamanya merupakan anggota aktif dari pasukan ini dengan nama orisinil mereka dirahasiakan dari khalayak ramai. Belum apa-apa, Act of Valour telah tercium sebagai alat propaganda pemerintah Amerika Serikat untuk menjustifikasi tindakan brutal yang mereka lakukan terhadap negara atau masyarakat dari negara lain. Sesuatu yang tidak mengherankan memang mengingat secara umum dikuasai film bertema kepahlawanan buatan Hollywood dimaksudkan menjadi demikian. Yang sedikit membedakan Act of Valour dengan film sejenis yaitu usahanya untuk tampil realistis dengan menggunakan pelaku orisinil serta kisah yang ‘denger-denger sih’ diangkat dari insiden nyata. Akan tetapi, sehabis sejumlah penyelewengan yang dilakukan oleh mereka (baca: Hollywood) selama ini, apakah Anda masih percaya bahwa film ini sepenuhnya patuh kepada insiden asli? 
Act of Valour mengikuti sepak terjang dari pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat dalam upaya mereka untuk meringkus dua penjahat kelas kakap yang telah usang menjadi buronan, Mikhail ‘Christo’ Troykovich (Alex Veadov) dan Abu Shabal (Jason Cottle). Christo yang merupakan penyulundup obat-obat terlarang dari Rusia memerintahkan bawahannya untuk menghabisi dua distributor CIA yang telah usang mengikutinya. Salah satu distributor yang dibiarkan hidup, Morales (Roselyn Sanchez), diculik dan disiksa habis-habisan. Peristiwa inilah yang kemudian menciptakan pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat turun tangan. Misi mereka yaitu menyelamatkan Morales. Mike McCoy dan Scott Waugh tentu tak membiarkan para pahlawan pujian negara ini menjalankan misi dengan mudah. Setelah Morales berhasil diselamatkan, pasukan ini dihadapkan pada permasalahan lain. Christo rupanya telah menjalin kerjasama dengan Abu Shabal, pemimpin kelompok teroris yang tengah merencanakan untuk menebar teror di banyak sekali kota besar di Amerika Serikat. Keamanan dan stabilitas negara pun terancam. 
Yang menciptakan Act of Valour cukup layak untuk ditonton yaitu cara presentasi McCoy dan Waugh yang unik. Pergerakan kameranya dinamis. Sejumlah adegan diwujudkan layaknya sebuah permainan video game. Cerdik, seru, tetapi juga memusingkan. Apabila Anda menonton film ini memang hanya untuk sekadar mencari hiburan, agaknya cita-cita Anda akan terpenuhi. Adegan aksinya, sekalipun tidak spektakuler, bisa memompa adrenalin. Tidak mengherankan alasannya yaitu memang ini menjadi jualan utamanya sekaligus untuk menutupi naskahnya yang teramat dangkal. Kedangkalan naskahnya menciptakan penonton kesulitan untuk berempati kepada apa yang menimpa sejumlah tokoh terlebih semenjak awal informasi mengenai latar belakang para tokoh utama hanya dibeberkan selewat saja. Hingga film berakhir, saya tidak mengenal satu pun dari para pahlawan, dan saya pun tidak peduli. Agaknya tujuan McCoy dan Waugh untuk mengakibatkan ini sebagai promosi tersebulung Angkatan Laut Amerika Serikat menciptakan mereka merasa tidak perlu untuk bersusah payah menggarap naskah alasannya yaitu toh pada kesudahannya Act of Valour hanya dijadikan sebagai video rekrutmen militer. Apabila alur kisah kelewat kompleks, maka tujuan awal bisa jadi gagal terpenuhi. McCoy dan Waugh hanya ingin Anda terhibur seraya memuji kehebatan agresi Pasukan Pengamanan Negara di simpulan film. Sesederhana itu. 
Poor