October 28, 2020
2019 / Drama / Film / REVIEW / US

Review : Ad Astra


“I’m unsure of the future, but I’m not concerned. I will rely on those closest to me, and I will share their burdens, as they share mine. I will live and love.”

Setelah karirnya sebagai pemeran pengganti dalam Once Upon a Time in Hollywood berakhir, ternyata tak butuh waktu usang bagi Brad Pitt untuk mendapatkan pekerjaan baru. Tak tanggung-tanggung, ia menjajaki profesi astronot yang memungkinkannya untuk berkelana ke luar angkasa dan mengunjungi aneka macam planet diluar bumi. Keren sekali, bukan? Tentu, karir berbeda ini dijalani oleh Bung Pitt dalam film berbeda yang sekali ini berada di ranah fiksi ilmiah, Ad Astra. Lewat film instruksi James Gray (We Own the Night, The Lost City of Z), pemain film kesayangan kita semua ini berperan sebagai Major Roy McBride yang merupakan putra dari seorang astronot kenamaan, H. Clifford McBride (Tommy Lee Jones), yang konon tercatat dalam sejarah sebagai insan pertama yang mencapai planet Neptunus. Mencetak rekor gilang gemilang dalam karir, sayangnya Clifford mendadak raib dalam misi dan diberitakan telah tiada oleh awak media. Guna berdamai dengan sedih akhir kehilangan sang ayah, Roy pun menaruh perhatian sangat tinggi pada pekerjaannya serta enggan mengindahkan hal-hal remeh sehingga tak mengherankan kalau catatan karirnya terhitung impresif. Setelah 16 tahun lamanya mencoba untuk mendapatkan kenyataan bahwa sang ayah memang telah tiada, SpaceCom tiba-tiba memberinya kabar mengejutkan yang menyatakan bahwa Clifford masih hidup. Mereka menyadarinya pasca menilik asal muasal dari gelombang misterius “Gelora” yang menimbulkan kehancuran masif di bumi. Demi menyelamatkan peradaban insan yang terancam oleh kehadiran “Gelora”, SpaceCom pun mengirim Roy dalam suatu misi diam-diam ke angkasa luar untuk berdialog dengan sang ayah.

Berpatokan pada sinopsis di atas maupun materi promosi berupa trailer yang digebernya, gampang untuk mengira Ad Astra sebagai tontonan fiksi ilmiah yang mengedepankan misteri pada narasi maupun gegap gempita pada visual. Mengingat salah satu topik pembicaraan yakni mengenai korelasi antara ayah dan anak, aku pun tak menyalahkan kalau ada yang teringat pada Interstellar (2014) garapan Christopher Nolan yang turut mencekoki penonton dengan pembicaraan kompleks seputar lubang hitam dan teori relativitas. Tapi satu hal yang sanggup aku katakan kepada kalian, Ad Astra tidak mengambil nada penceritaan serupa dengan film bersangkutan yang terhitung grande dan agak sedikit ibarat Gravity (2013) atau First Man (2018) yang sunyi. Memang betul bahwa film ini masih mempunyai adegan-adegan tabrak seru mirip ditunjukkan dalam trailer berupa kejar-kejaran dengan perompak di bulan atau serangan tak terduga di dalam pesawat luar angkasa. Namun James Gray sendiri tidak terlalu berniat untuk menekankan pada aspek keseruan atau misteri mengenai hilangnya ayah Roy atau bahkan perihal “Gelora” yang mengancam umat manusia, alasannya yakni film sejatinya ingin berbicara dalam lingkup personal. Film ingin mengajak penonton untuk mengikuti perjalanan spiritual yang dilalui oleh seorang astronot berjulukan Roy yang digambarkan sebagai eksklusif yang sangat sanggup diandalkan oleh rekan-rekan kerjanya dan atasannya. Mendedah pikiran Roy yang seringkali diperlihatkan tidak pernah sekalipun terdistraksi oleh perkara-perkara kurang signifikan di sekelilingnya dan sangat fokus pada pekerjaannya – malahan sanggup dibilang kelewat fokus hingga berada dalam level tak wajar.


Menilik topik obrolannya yang berkisar pada Roy si astronot, si pembuat film pun menentukan memperbincangkannya dengan nada pengisahan yang kontemplatif. Pelan, sunyi, dan tenang. Sebuah pilihan yang tentunya tidak akan cocok dengan semua penonton – itulah kenapa banyak kritikus menyebutnya sebagai film yang “not for everyone” – terlebih bagi mereka mengharapkan sebuah sajian yang gegap gempita. Hanya ada sesekali momen yang menggenjot adrenalin, dan latar masa depan yang sudah cukup berbeda dimana bulan telah dimanfaatkan sebagai daerah rekreasi untuk melepas penat pun tidak pernah dieksplorasi lebih mendalam. Saya eksklusif sempat mendamba Ad Astra akan memberi lebih banyak ruang guna mengulik bangunan dunianya, tapi aku kemudian sadar, bukan itu harapan Gray. Dia ingin menghadirkan karyanya ini sebagai sebuah sajian filosofis yang meminta penonton untuk merenung. Tanda-tandanya pun telah terperinci sedari awal, yakni penonton diperdengarkan pada voice over dari Brad Pitt yang mengungkap isi hati dan jalan pikiran dari abjad yang dimainkannya. Sesuatu yang hanya sanggup didengar oleh kita, dan bukannya oleh karakter-karakter lain yang berinteraksi dengannya. Kenapa demikian? Ini tentu ada kaitannya dengan harapan Roy untuk menjaga gambaran sebagai seorang astronot yang sanggup diandalkan. Citra laki-laki tangguh. Mengutarakan perasaan sanggup mengungkap kelemahan seseorang, dan sanggup pula mendistraksi seseorang kepada hal-hal remeh. Roy ingin emosinya senantiasa stabil dengan detak jantung tidak pernah melewati angka 80 (bahkan di kala ia berada dalam situasi darurat sekalipun!) sehingga menekan emosi-emosi negatif yakni jalan ninjanya.


Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah ini sehat? Apakah mengenyahkan emosi negatif alih-alih merangkulnya yakni cara terbaik untuk bertahan hidup? Dalam pandangan Roy, ini merupakan solusi. Namun sebagai penonton, kita sanggup mendeteksi bahwa Roy sejatinya tersiksa dengan pilihannya. Brad Pitt memainkan tugas ini secara cemerlang dimana kita sanggup melihat adanya ketidakbahagian melalui sorot matanya.  Dia kesepian, ia menderita, dan ia terperinci depresi. Toxic masculinity yang memaksanya untuk senantiasa bersikap tegar, telah memakannya hidup-hidup. Sebagai pengalih kesedihan, ia menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Berkelana ke luar angkasa menjadi penghiburan baginya alasannya yakni situasi serba kosong serta sunyi di sana beresonansi berpengaruh dengan perasaannya. Melalui pekerjaannya pula, ia merasa telah berkontribusi besar pada kemanusiaan. Roy menginspirasi banyak orang, Roy banyak membantu orang lain. Akan tetapi, apakah ini cara terbaik untuk menjadi seorang manusia? Tentu membantu sesama yakni sebuah kebajikan. Namun kalau ini berarti mengorbankan perasaan diri sendiri yang belum kunjung senang dan melukai hati orang yang paling menyayangi kita mirip pasangan hidup atau keluarga, bukankah tetap saja mengurangi makna kita sebagai seorang manusia? Maksud saya, kita semestinya terlebih dahulu membuat korelasi yang aman dan serasi dengan unit terkecil dan terdekat yakni keluarga, sebelum tetapkan untuk melaksanakan perubahan besar pada dunia. Clifford melupakan hal ini, begitu juga dengan Roy yang kentara mengikuti jejak sang ayah. Dampaknya, Roy menjadi seorang laki-laki yang tidak peka pada perasaan pasangannya (Liv Tyler) yang lantas meninggalkannya, dan Clifford meninggalkan trauma serta luka di hati Roy yang menentukan untuk menutupinya dengan mengagung-agungkan sang ayah.


Terdengar berat? Memang kenyataannya mirip itulah Ad Astra. Dibalik tampilan visualnya yang mengundang decak kagum sehingga membuatnya perlu untuk disaksikan di layar bioskop, dan kemasan luarnya yang seolah mengindikasikan bahwa ini yakni sajian berwujud space adventure dengan sentuhan kisah keluarga mengharu biru, Ad Astra sejatinya merupakan tontonan kontemplatif nan menggigit yang mengajak para penonton untuk merenungi wacana makna dibalik kehidupan dan kemanusiaan, seraya memperbincangkan soal mental health dan toxic masculinity. Memang sangat segmented yang menjadikannya susah menjangkau penonton secara luas. Tapi kalau kau sama sekali tidak keberatan dengan pendekatan beserta topik pembicaraan yang diajukan, maka sanggup jadi kau akan dibentuk oleh jatuh hati kepadanya. Karena ya, Ad Astra adalah sebuah film yang sangat indah baik dari sisi visual maupun rasa.

Outstanding (4/5)