October 19, 2020

Review : Ada Apa Dengan Cinta? 2


“Rangga, yang kau lakukan ke saya itu… jahat.” 

Empat belas tahun silam, Cinta (Dian Sastrowardoyo) melepas kepergian sang kekasih hati, Rangga (Nicholas Saputra), yang bertolak ke New York di bandara. Diabadikan dalam sebuah adegan yang ikonis, perpisahan dramatis tersebut berujung kecupan pertama. Rangga pun meninggalkan secarik kertas berisi puisi berlarik manis untuk Cinta yang dalam salah satu baitnya berbunyi, “aku akan kembali dalam satu purnama untuk mempertanyakan kembali cintanya.” Tersisip kesepakatan besar yang meredakan kegundahan hati Cinta karena ditinggal Rangga melintasi benua lain. Paling tidak, ada sedikit kejelasan dari sang pujangga untuk Cinta – serta penonton – bahwa dirinya tidak akan membiarkan api asmara tersebut padam begitu saja hanya sebab jarak. Happily ever after? Dalam cita-cita kita sebagai pengamat kisah percintaan Cinta dan Rangga selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta?, tentu saja demikian. Namun kita perlu mengingat, realita tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi terlebih tidak sedikit pula dongeng pedih dibalik sebuah long distance relationship. Kemungkinan demi kemungkinan dalam perjalanan asmara keduanya pun terbuka lebar. Apakah benar mereka karenanya bersatu? 
Bagi Miles Films – atau dalam hal ini, Mira Lesmana dan Prima Rusdi sebagai otak di belakang naskah – kemungkinan paling masuk nalar untuk diangkat di Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2) yaitu hubungan antara Cinta dengan Rangga tidak berjalan semestinya. Indikasi kegagalan mereka dalam membina hubungan jarak jauh memang telah terendus sejak film pendek LINE dua tahun silam dan karenanya melalui AADC2, dikonfirmasi secara resmi. Saya tidak perlu menjabarkan detil sabab musabab retaknya tali cinta diantara mereka sebab akan sangat kuat terhadap kesenanganmu dalam menonton AADC2. Dua hal yang bisa ditegaskan, mereka tidak lagi bersama dan tidak lagi berkomunikasi. Masing-masing menentukan untuk menjalani hidupnya di Jakarta dan New York seraya berusaha keras menekan memori-memori yang masih terus menerus menyeruak ke permukaan. Ya, sejatinya masih tersisa rasa sekalipun hubungan asmara tersebut telah dinyatakan kandas. Ketidaksanggupan Cinta dan Rangga untuk berdamai dengan masa kemudian sebab ada duduk kasus yang belum tuntas diantara mereka merupakan pemicu utama bergulirnya konflik di AADC2

Mengapa kisah cinta mereka tidak berjalan semestinya? Adakah orang ketiga diantara Cinta dan Rangga? Lalu, apapun balasan untuk pertanyaan kedua, kenapa keduanya masih terjebak nostalgia serta enggan move on? Bagaimana juga kehidupan pula kepribadian mereka sehabis empat belas tahun berlalu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkecamuk andal di benak sejak AADC2 membuka gelarannya yang sekaligus menandakan kekuatan huruf Cinta maupun Rangga sampai-sampai kepenasaran kita pun ikut terusik. Dengan bahasa gambar mengalir begitu lancar yang menyebabkan setiap menitnya terasa renyah buat dinikmati, Riri Riza menjlentrehkan satu demi satu balasan atas segala pertanyaan yang mungkin kau pertanyakan sebelum menyimak AADC2. Jawaban-jawaban tersebut mempunyai landasan motif kuat dan dilontarkan secara masuk akal, termasuk alasan setiap huruf menginjakkan kaki di Jogja dan pemanfaatan Jogja sebagai latar utama film. Dalam AADC2, Jogja tidak semata-mata dimanfaatkan sebagai embel-embel – untuk mendapat tangkapan gambar cantik, contohnya – melainkan mempunyai bantuan untuk mempertajam konflik. Menguatkan karakter. Menilik betapa besar kecintaan dua huruf utama terhadap seni, maka adakah kota lain lebih sempurna sebagai ajang pertemuan kembali Cinta dengan Rangga selain Jogja yang notabene yaitu kota budaya? Rasa-rasanya kok tidak ada. 

AADC2 merupakan upaya Miles Films mendefinisikan kembali genre ‘film romantis’ yang belakangan ini bersinonim erat dengan “untaian dialog-dialog indah, puitis, nan berima” maupun “mendayu-dayu nggak ketulungan”. Tentu bahasa-bahasa puitis masih menghiasi, tapi masih sesuai konteks dongeng menyelidiki kegemaran Rangga dalam merangkai puisi dan tidak pula diaplikasikan menyeluruh ke percakapan-percakapan antar karakter. Apa yang diobrolkan oleh Cinta dan Rangga kala mengitari Jogja semalaman, ada kalanya ngalor ngidul tak jelas. Mulanya bersitegang demi mengonfirmasi alasan kepergian tanpa pamit salah satu dari mereka, kemudian sehabis masing-masing berdamai kisaran materi pembicaraan tidak jauh-jauh dari “bagaimana kehidupanmu dikala ini?” dengan sesekali usil semacam “kamu pilih siapa dikala pemilu?.” Terkesan remeh temeh, memang, tapi terang sangat natural menyerupai layaknya percakapan dua orang yang pernah mempunyai dongeng istimewa dan tidak berjumpa selama ratusan purnama. Tidak pernah terasa membosankan untuk didengarkan sebab pergerakannya yang dinamis, sangat hidup, dewasa, penuh kejenakaan, dan tidak jarang menyentuh yang akan membawamu memasuki fase ‘baper’. Romantis? Jelas. 

Chemistry andal Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra yaitu kunci dari AADC2. Seperti halnya jajaran pemain lini utama lain – menyerupai Adinia Wirasti (Karmen), Titi Kamal (Maura), dan Sissy Priscillia (Milly) – jiwa keduanya telah menyatu dengan huruf yang mereka mainkan seperti mereka memang Cinta dan Rangga di kehidupan nyata. Keromantisan film bersumber dari chemistry bernyawa antar dua huruf utamanya. Interaksi keduanya dengan segala kecanggungan mereka, yaitu hal paling menarik, bagi saya, untuk disimak dari AADC2. Perhatikan baik-baik verbal Cinta yang kerap salah tingkah atau Rangga yang menyerupai ada percampuran antara gundah dengan aib kala mereka saling bertukar dialog. Sebuah interpretasi sempurna target untuk dua jiwa yang belakang layar masih menyimpan rasa satu sama lain. Laju pengisahan pun sengaja dilambatkan demi memberi kesempatan lebih bagi penonton untuk mengobservasi pasangan yang telah tumbuh cukup umur ini. Penonton pun dibuai, ikut merayakan nostalgia manis diantara mereka sehingga keinginan melihat keduanya rujuk kembali mengangkasa. Perasaan yang persis menyerupai dikala menyaksikan Jesse dan Celine bertemu kembali sehabis terpisah hampir satu dekade di Before Sunset. Dengan demikian, bukankah AADC2 sudah bisa dikatakan sukses sebagai sebuah film romansa sebab kemampuannya untuk menciptakan para penontonnya terhubung ke dua huruf utamanya? 

Penonton gampang terhubung selain sebab bangunan huruf kokoh, AADC2 mengusung pula problematika yang bersahabat dengan realita menyerupai sulitnya melupakan mantan yang menggoreskan banyak dongeng indah dalam kenangan, peliknya berkata jujur kepada pasangan sebab terhalang tingginya ego, hingga susahnya berdamai dengan masa kemudian yang telah melukai hati. Menariknya, mengingat duduk kasus utama seserius ini, si pembuat film tidak lantas membenamkan AADC2 ke dalam kemuraman durja melainkan menentukan nada cenderung lebih cerah dibanding sang pendahulu diikuti bejibunnya sempalan humor-humor yang kebanyakan diserahkan kepada Milly sekalipun hampir setiap tokoh utama mendapat kesempatan untuk ngelaba di hadapan penonton mengikuti suasana persahabatan Genk Cinta yang terasa lebih lekat dan lebih hangat. Dan kehangatan persahabatan Genk Cinta inilah yang memperlihatkan greget untuk AADC2 disamping tentunya kisah percintaan Cinta dengan Rangga yang membuai. Kombinasi keduanya – masih ditambah satu dua subplot – menghantarkan penonton mencicipi banyak sekali macam emosi selama menyaksikan AADC2 sehingga penantian panjang untuk sekuel ini terbayar memuaskan. Jika ada dua kata paling pas untuk mendeskripsikan AADC2, maka itu yaitu “juarak!” dan “ngangenin” sebab sehabis menontonnya ada rasa rindu besar untuk ingin kembali menontonnya lagi, dan lagi.

Outstanding (4,5/5)