October 31, 2020

Review : Ae Dil Hai Mushkil


“We can’t choose when to fall in love, but we can choose when to walk away.” 

Sudah cukup lama diri ini tidak mendapati nama Karan Johar mengemban kredit sebagai sutradara. Selepas meluncurkan Student of the Year (2012), putra dari sutradara legendaris, Yash Johar, yang kini mengelola rumah produksi Dharma Productions ini lebih asyik menempati dingklik produser. Baru menjelang perayaan Diwali (hari raya bagi umat Hindu di India) di tahun 2016, Karan yang memulai karir penyutradaraannya dengan menggarap film fenomenal Kuch-Kuch Hota Hai kembali menyapa para penikmat tontonan Bollywood. Lewat kreasi termutakhirnya bertajuk Ae Dil Hai Mushkil, atau memiliki makna this heart is complicated, sekali lagi Karan bermain-main di zona yang membesarkannya, disayanginya, serta dikuasainya betul-betul. Itu berarti, film tersusun atas elemen-elemen berikut ini: 1) pelakon utama bertampang rupawan, 2) lokasi pengambilan gambar mengagumkan yang kebanyakan berada di luar India, 3) plot terkait kekerabatan percintaan rumit, 4) nomor-nomor musikal renyah di telinga, 5) melodrama penguras air mata, 6) tata produksi diatas rata-rata, dan 7) durasi melampaui 2,5 jam. Pengecualian untuk My Name is Khan, kau bisa mendapati adanya tujuh unsur tersebut di film-film Karan termasuk Ae Dil Hai Mushkil

Seperti hasil dari ijab kabul antara Kuch-Kuch Hota Hai dengan Kal Ho Naa Ho (skripnya ditulis Karan dan Niranjan Iyengar yang juga meracik film ini), Ae Dil Hai Mushkil bertutur mengenai rumitnya kekerabatan dua sahabat, Ayan (Ranbir Kapoor) dan Alizeh (Anushka Sharma). Bermula dari kegagalan mereka bercumbu mesra karena ciuman Ayan dianggap gila bagi Alizeh, keduanya lantas menentukan menghabiskan waktu bersama dengan ngobrol sana-sini soal kehidupan percintaan hingga kegemaran masing-masing. Dipersatukan oleh kecintaan terhadap Bollywood di periode 80’an, Ayan dan Alizeh risikonya tetapkan untuk lebih sering nongkrong bareng terlebih keduanya tidak memiliki kesibukan berarti. Keriaan demi keriaan yang dilewati bersama mencapai ujungnya kala mereka bertandang ke Paris demi mengobati lara di hati Ayan sehabis putus dari sang kekasih. Siapa menyangka di sana Alizeh justru berjumpa dengan seseorang dari masa kemudian yang seketika merenggangkan persahabatannya dengan Ayan. Dibuat kecewa oleh keputusan Alizeh yang sejatinya dicintainya, Ayan tetapkan menjauhi sahabatnya tersebut dan mencoba menjalin kekerabatan bersama Saba (Aishwarya Rai Bachchan). Saat sepertinya masing-masing telah melanjutkan hidup, sebuah reuni kecil meruntuhkan segalanya. 
Ae Dil Hai Mushkil yaitu kesempatan paling sempurna bagi kita untuk mengucap, “selamat tiba kembali, Karan Johar!.” Memang sih ini bukan tergolong film terbaik yang pernah diproduksi Karan bersama Dharma – bagaimanapun juga, Kuch-Kuch Hota Hai dan Kabhi Khushi Kabhie Gham yaitu karyanya paling juara hingga kini – namun tetap sebuah comeback memuaskan apalagi seusai Student of the Year yang kurang greget itu. Ae Dil Hai Mushkil yang jelas-jelas berada di ranah kekuasaan Karan merupakan bukti bahwa sutradara ini masih cakap dalam menghantarkan cerita. Tengok saja, sepintas muatan kisah dari film keenamnya ini terdengar lama mengingat plot “teman tapi mesra” atau friendzone sudah berulang kali dijamah. Yang kemudian membuatnya berasa segar sekaligus enak untuk disantap yaitu kepiawaiannya mengemas berikut menyampaikannya ke khalayak ramai. Ini tidak semata-mata gelaran melodrama picisan wacana cinta bertepuk sebelah tangan menyerupai pernah dikuliknya melalui Kuch-Kuch Hota Hai atau Kal Ho Naa Ho, tapi ia mencoba menggalinya lebih mendalam dengan memberi pembacaan sarat dialog-dialog menggugah fatwa terhadap beberapa jenis cinta lain yakni cinta berlandaskan nafsu dan cinta platonik, yang akan membawamu pada perenungan soal ‘relationship’
Berat? Sama sekali tidak. Dibalik kupasan cenderung filosofisnya, di permukaan Ae Dil Hai Mushkil masihlah tontonan meriah ala Karan Johar yang memuat tujuh unsur menyerupai dikemukakan pada paragraf pembuka. Mula-mula film disajikan energik mengenalkan kita ke sosok Ayan dan Alizeh. Selama setidaknya satu jam pertama ini, film bergerak semau-mau gue mengikuti jiwa penuh kebebasan – kalau tak mau juga dibilang agak kekanakan – dari kedua tokoh utamanya. Antisipasi munculnya tembang-tembang menghentak bernafaskan EDM disertai koreografi heboh, tumpuan cerdas ke dunia Bollywood periode 80’an, hingga riuh tawa bersumber dari tingkah laris konyol Ayan maupun ledekan terhadap keklisean film-film Bollywood (contoh: adegan tari hanya berbalut kain sari di pegunungan bersalju), di paruh ini. Lalu, terhitung sedari dilantunkannya nomor sendu berjudul Channa Mereya yang menandai pertama kalinya Ayan bisa memaknai patah hati, nada film berkelok ke arah melodrama. Tanpa pernah tersandung menjadi kelewat menye-menye, dari sisi muram, Ae Dil Hai Mushkil pun memiliki satu dua momen merobek hati yang berkesan ditambah nomor-nomor balada cakep (favorit ada di Ae Dil Hai Mushkil dan Bulleya) yang turut memosisikannya sebagai film India dengan soundtrack paling ciamik tahun ini. Bagi saya, gugurnya air mata paling hebat terjadi di adegan melatari mengalunnya Channa Mereya dan makan malam yang mempertemukan Ayan, Alizeh, serta Saba untuk pertama kali. Tanpa banyak dilontari kata-kata, hanya mengandalkan air muka dari ketiga pemain utama, momen ini menyuarakan kekecewaan dan sakit hati secara lantang. 

Kunci terletak di akting jempolan barisan pemainnya. Ae Dil Hai Mushkil sangat diberkahi memiliki bintang film aktris sekaliber Ranbir Kapoor, Anushka Sharma, dan Aishwarya Rai Bachchan di lini terdepan kemudian penampil singkat menyerupai Fawad Khan, Lisa Hayden, serta Shah Rukh Khan yang mencuri perhatian di kemunculan masing-masing. Ranbir mencurahkan segenap kemampuannya demi menghidupkan abjad Ayan yang labil pula sedikit childish. Ada kalanya berasa menyebalkan, namun seringkali ia terlihat sebagai sosok adorable yang sulit dibenci. Interaksi hidupnya bersama Anusha Sharma – sekali lagi menunjukkan bahwa ia salah satu aktris Bollywood masa kini yang bagus – menggerakkan roda film. Kita meyakini mereka yaitu sahabat sejati dan ketika salah satu tetapkan berpisah, tertinggal luka di hati penonton. Aishwarya Rai Bachchan yang ternyata oh ternyata mendapat jatah porsi tampil sekelumit (damn!) juga jauh dari kata mengecewakan. Malah, ia tampil sangat menghipnotis. Di tangannya, Saba bermetamorfosis sebagai sosok ‘mematikan’ yang mencuat dari hasil kombinasi cantik, cerdas, seksi, dan elegan. Tambahkan dengan pengarahan jempolan dari Karan, skrip cukup berisi, dan tembang-tembang musikal gubahan Pritam yang easy listening, Ae Dil Hai Mushkil yaitu salah satu persembahan paling menawan dari Bollywood tahun ini.

Exceeds Expectations (3,5/5)