October 29, 2020

Review : Aisyah Biarkan Kami Bersaudara

“Sebaik-baiknya sarjana yaitu yang mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Sementara sarjana yang sekedar bekerja itu sarjana kelas dua.”

Walau sejatinya secara personal telah mengalami kejenuhan teramat sangat menyaksikan film berembel-embel reliji, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mempunyai dua daya tarik cukup besar lengan berkuasa yang menciptakan saya tak kuasa memberi penolakan. Pertama, keterlibatan Laudya Cynthia Bella yang permainan lakonnya tengah menguat, dan kedua, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mengusung isu agak berbahaya di bawah penanganan salah kaprah mengenai toleransi antar umat beragama. Sempat ketar ketir film ini akan berakhir menyerupai selayaknya sederet film religi buatan sineas tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang guliran penceritaannya kelewat tendensius serta penyampaian pesan moral serba verbalnya justru bikin indera pendengaran panas alih-alih bikin hati adem, kenyataannya Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (baiklah, agar tidak terlalu panjang, sebut saja Aisyah BKB) justru tidak demikian. Dihantarkan elegan tanpa terlihat kelewat bergairah untuk mengkhotbahi penonton menyebabkan Aisyah BKB terasa begitu indah, hangat, menyentuh sekaligus penting. Mungkin masih terlalu dini, namun saya mempunyai kepercayaan besar lengan berkuasa Aisyah BKB akan menjadi salah satu kandidat besar lengan berkuasa peraih kategori Film Terbaik di aneka macam ajang penghargaan film pada simpulan tahun ini. 

Bersama Aisyah (Laudya Cynthia Bella), kita memasuki sebuah perkampungan berjulukan Dusun Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang sangat terpencil. Tujuan Aisyah sendiri merantau jauh dari Jawa Barat ke perkampungan ini yaitu untuk mengajar. Yayasan daerah ia mendaftarkan diri menugaskannya ke NTT. Walau sempat ditentang keras oleh sang ibu (Lydia Kandou) karena khawatir putrinya tersebut kesulitan menyesuaikan diri mengingat lingkungan yang sama sekali berbeda, Aisyah tetap teguh pada pendiriannya alasannya yaitu ingin mewujudkan harapan almarhum ayah: menjadi insan yang berkhasiat bagi sesama. Tidak gampang bagi Aisyah melewati hari demi hari di Dusun Derok. Selain kanal ke dunia luar terhitung ribet yang jangankan memperoleh sinyal seluler, kampung ini bahkan tidak menerima aliran listrik sampai-sampai untuk mengisi baterai ponsel genggamnya Aisyah harus menitipkannya terlebih dahulu ke pedagang sayur keliling, Aisyah juga menerima penolakan keras dari salah satu muridnya, Lordis Defam (Agung Isya Almasie Benu), hanya alasannya yaitu berbeda agama. Beruntung Aisyah memperoleh santunan dari Pedro (Arie Kriting) dan para warga sehingga perlahan tapi niscaya cita-citanya sanggup terwujud. 

Aisyah BKB yaitu film reliji. Itu betul. Tapi ia bukanlah film reliji konvensional yang hanya mempergunjingkan isu personal satu agama saja melainkan cenderung universal seakan-akan ingin mengingatkan bahwa Indonesia bukan cuma ada Islam. Topik pembahasan utama di film kode Herwin Novianto (Tanah Surga… katanya, Jagad x Code) ini mengenai toleransi antar umat beragama. Si pembuat film mencoba memperlihatkan bahwa tidak ada yang lebih indah ketimbang cinta dan kasih. Salah satu bahan promosi film, yakni trailer, memang seolah mengindikasikan masyarakat Dusun Derok yang notabene beragama Kristen memperlihatkan ketidaksukaan atas keberadaan guru beragama Islam di kampung halaman mereka. Entah telah menonton filmnya atau belum, beberapa netizen menyalahpahami Aisyah BKB sebagai bentuk propaganda agama tertentu untuk membenci agama tertentu. Kenyataannya, bukan wajah-wajah penuh amarah yang ingin ditunjukkan oleh film ini, melainkan keharmonisan. Bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk bersosialisasi dan paling penting, saling membantu satu sama lain. Bagusnya, konsep soal pluralisme agama tersebut tak didefinisikan kebablasan oleh Herwin maupun sang peracik skenario, Jujur Prananto. 

Tidak ada adegan Aisyah mengikuti perayaan Natal meski ia diperlihatkan membantu murid-muridnya menyusun pohon Natal atau Aisyah terpaksa menyantap daging babi untuk makan malamnya sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah mengingat tidak ada pilihan lain (well, kecuali mi instan) sementara ia juga mempunyai kasus pencernaan. Tidak ada. Sikap toleran yang ditunjukkan Aisyah, begitu pula murid yang bersahabat dengannya, Siku Tafares (Dionisius Rivaldo Moruk), dan penduduk kampung masih sebatas sesuai porsi. Demi menyesuaikan diri dengan lingkungan gres yang mendadak menempatkannya sebagai minoritas, Aisyah tidak lantas menanggalkan ajaran-ajaran agama yang diyakininya. Penduduk kampung juga tidak memperlihatkan pelarangan atau menyusahkannya. Satu-satunya kebencian yang diterima oleh Aisyah berasal dari Lordis Defam. Itupun dilandasi alasan besar lengan berkuasa dan masuk akal. Tumbuh bersama seorang paman yang pemarah, Lordis dicekoki pemikiran bahwa Aisyah akan menghancurkan gereja-gereja di sekitar mereka. Mengingat informasi mengenai penghancuran gereja oleh ormas Islam tengah merebak kemudian Lordis plus beberapa kawan, pada mulanya, sanggup jadi belum pernah mengenal berkawan eksklusif dengan seseorang beragama Islam, ketakutan berbuah kebencian ini sanggup dipahami. 

Pun begitu, Aisyah BKB tidak menghabiskan waktunya untuk sekadar membahas duduk masalah tersebut. Si pembuat film lebih asyik memotret momen-momen kebersamaan Aisyah bersama para muridnya beserta warga kampung yang seringkali menyentuh hati. Kita melihat Aisyah yang aura meneduhkannya berhasil dipancarkan oleh Laudya Cynthia Bella menerapkan sistem pengajaran menyenangkan kemudian sesekali mengajak murid-muridnya berjalan-jalan ke kota, membantu Bu Dusun mengambil air, hingga memperlihatkan solusi atas kurangnya air higienis di desa. Adanya chemistry manis antara Bella dengan para pelakon lain khususnya Dionisius Rivaldo Moruk dan Arie Kriting (dalam lakon terbaiknya!) semakin memberi kepercayaan bahwa setiap penduduk mempunyai korelasi bersahabat yang sangat baik satu sama lain. Maka ketika ada satu momen penuh kebaikan muncul – Roger Ebert selalu berkata, kebaikan lebih sering membuatnya emosional ketimbang kesedihan – diiringi musik grande dari Tya Subiakto, sulit menahan aliran air mata. Adegan mendekati penghujung film yang melibatkan ibu-ibu perkampungan ini berpotensi menceramahi, namun skrip, akting, musik, dan pengarahan cermat membawanya sebagai salah satu highlight bagi film yang inspiratif ini. Inspiratif? Ya, alasannya yaitu saya juga mempunyai kepercayaan para penonton akan tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu yang berkhasiat bagi sesama selepas menyaksikan Aisyah BKB. What a lovely movie!

Adegan favorit : Ada tiga. Pertama, dikala Aisyah makan malam bersama para penduduk desa untuk pertama kalinya. Kedua, kala ibu-ibu kampung menemui Aisyah. Dan terakhir, adegan ‘serah terima’ sajadah. Bikin hati berdesir saking indahnya.

Outstanding (4/5)