July 2, 2020

Review : Aladdin (2019)


“I made you look like a prince on the outside, but I didn’t change anything on the inside.”

Saat pertama kali menengok barisan promosi yang ditebar untuk Aladdin, dahi ini tiba-tiba mengernyit dan perilaku skeptis lantas merasuki diri. Yakin nih Disney menciptakan ulang salah satu film animasi tersakral mereka dalam tampilan yang lebih layak untuk dirilis di Disney Channel alih-alih bioskop ibarat ini? Ya, tidak hanya penuh keraguan, saya pun julid dan suudzon. Padahal belum melihat secara eksklusif hasil kinerja Guy Ritchie yang sebelumnya menggarap Sherlock Holmes (2009) beserta King Arthur: Legend of the Sword (2017) tersebut. Disamping trailer yang sama sekali tidak menggairahkan, tiga faktor lain yang memantapkan keraguan adalah: 1) perusahaan film berlogo tikus ini gres saja melepas interpretasi gres untuk Dumbo yang luar biasa hambarnya, 2) jejak rekam sang sutradara yang berjibaku di genre laga tak ramah keluarga, dan 3) jajaran pemainnya tak nampak menjanjikan. Jadi, apa yang bisa diperlukan dari versi live action untuk film animasi rilisan tahun 1992 ini? Tanpa membawa bekal berwujud ekspektasi tinggi, saya pun tetapkan untuk menyaksikan Aladdin di studio terbesar yang telah disokong oleh teknologi bunyi Dolby Atmos. Keyakinan saya bahwa apa yang akan tersaji di layar yakni parade kekonyolan secara perlahan tapi niscaya mulai tergerus seiring berjalannya durasi. Saya yang tadinya kemrungsung (baca: hati tidak tenang) karena membaca berita-berita buruk, tiba-tiba mencicipi sensasi rasa yang tidak pernah diperkirakan bakal muncul sehabis menonton Aladdin yakni bahagia. Pepatah bijak yang berbunyi “jangan menilai buku dari tampilan luarnya” ternyata memang benar adanya dan saya gres saja ditampar keras-keras olehnya.

Karakter utama dalam film ini tetaplah seorang pencuri berhati emas berjulukan Aladdin (Mena Massoud) yang mendiami sebuah kota fiktif di daerah Timur Tengah, Agrabah. Ditengah pelariannya selepas melaksanakan aksi, Aladdin berjumpa dengan putri Sultan, Jasmine (Naomi Scott), yang sedang blusukan. Bertahun-tahun tinggal di istana tanpa mengetahui situasi kondisi dunia luar, Jasmine bertindak keliru yang seketika membangkitkan amarah seorang pedagang di pasar. Saat Jasmine terpojok, Aladdin tiba menyelamatkan. Dia membawanya ke gubuk bersahaja miliknya yang terbuat dari puing-puing rumah yang ditinggalkan. Dari sini, Jasmine melihat sisi lain Agrabah yang sebelumnya tak pernah disaksikannya dan beliau pun jatuh hati kepada Aladdin. Kebersamaan keduanya ini sayangnya berlangsung singkat karena seorang pangeran dari Eropa hendak menyambangi istana demi meminang Jasmine. Seperti kita ketahui bersama, pinangan tersebut tak digubris oleh tuan putri. Dia masih mendamba Aladdin yang lantas menyusup ke istana demi mengembalikan gelang Jasmine yang dicuri oleh monyet peliharaannya, Abu. Belum sempat mereka bermesraan, Aladdin ditangkap Perdana Menteri sekaligus hebat sihir kerajaan, Jafar (Marwan Kenzari), yang kemudian memanfaatkan sang protagonis untuk mencuri lampu aneh dari sebuah gua – Cave of Wonders – yang konon kabarnya bisa mengabulkan segala permintaan. Benar saja, ada jin biru dengan pembawaan ceria berjulukan Genie (Will Smith) bersemayam di dalamnya yang menciptakan kisah percintaan beda kasta Aladdin-Jasmine serta kisah ambisi Jafar untuk menduduki tahta kerajaan menjadi kian menarik untuk diikuti.


Narasi yang diusung Aladdin sebetulnya sederhana dan mereka yang telah menonton versi animasinya yang disadur dari kumpulan dongeng bertajuk One Thousand and One Nights tentu sudah mengetahui seluk beluknya. Jadi, apa yang menarik dari film ini sampai-sampai saya menyesal telah menanamkan pemikiran jelek kepadanya dan balasannya malah berujar “I love it!” selepas menonton? Bagi saya, satu hal paling menarik dari Aladdin yakni si pembuat film berhasil memindahkan daya magis yang dipunyai oleh versi animasinya ke dalam format live action. Memunculkan sense of wonder yang kembali mengingatkan penonton mengenai alasan utama sinema diciptakan: memberi penghiburan kepada pikiran penat beserta hati yang tengah berduka dengan kisah-kisah imajinatif. Guy Ritchie yang meninggalkan zona nyamannya berupaya memenuhi tujuan tersebut dan mesti diakui upayanya ini berbuah manis. Selama durasi mengalun yang merentang sepanjang 128 menit, saya ibarat dibawa kembali ke masa kanak-kanak yang jauh dari perilaku sinis. Ada banyak kemeriahan, ada banyak kekaguman, dan ada banyak kebahagiaan di aneka macam sudut film. Saking seringnya, saya hingga kelupaan buat menghitung berapa kali diri ini dibentuk tersenyum, terpingkal-pingkal, serta terperangah. Sedari tembang “Arabian Nights” yang menghantarkan kita memasuki dunia seribu satu malam yang divisualisasikan dengan penuh warna, kemudian berlanjut pada momen musikal “One Jump Ahead” yang aransemen barunya membawa ingatan ini melayang ke trilogi High School Musical, saya sudah terpikat kepada Aladdin. Perasaan ini lantas bermetamorfosis jatuh hati sehabis film menghadirkan nomor “Friend Like Me” beserta “Prince Ali” yang gegap gempita dan kembali dikonfirmasi melalui “A Whole New World” yang sekalipun tak seindah bahan aslinya tetapi sanggup bikin hati terasa nyesss. Jangan juga dilupakan yakni tembang emosional “Speechless” yang bisa jadi akan meneruskan kedigdayaan “Let It Go” dari Frozen (2014).

Selain disebabkan oleh momen musikal yang rancak, Aladdin bisa tampil menjulang berkat guliran penceritaan Aladdin yang mengena sekaligus mengandung pesan sangat baik. Dari segala tindak tanduk para huruf inti, penonton bisa berguru mengenai keberanian, kepedulian, bersikap apa adanya tanpa kepalsuan, maupun persahabatan. Disamping itu, Disney turut memperlihatkan sedikit pelintiran pada kisah yang menjadikannya bukan penyesuaian plek ketiplek melainkan interpretasi baru. Disini, sosok Jasmine didesain lebih besar lengan berkuasa sehingga sanggup menginspirasi para wanita untuk bersuara ketimbang pasrah pada keadaan yang menyulitkannya dan sosok Jafar yang serakah diperlukan sanggup memberi peringatan kepada para pemburu kekuasaan. Seperti kata Genie, “uang dan kekuasaan tidak akan pernah cukup. Kamu akan selalu menginginkan lebih.” Deep, guys, deep! Kegemilangan narasi sederhana tapi sangat efektif dalam memberikan pesan-pesannya ini beserta elemen musikal yang visualisasinya amat membuai mata turut ditunjang oleh jajaran pemain yang ternyata oh ternyata… berlakon dengan sangat cemerlang (!). Oke, Marwan Kenzari memang kurang culas sebagai Jafar yang memendam serentetan jadwal masif, terstruktur, dan sistematis dalam upayanya menggulingkan Sultan (Navid Negahban) dari tampuk kepemimpinan. Namun, film masih memiliki duo Mena Massoud-Naomi Scott yang berkemas-kemas menjadi idola masa depan dan Will Smith yang balik lagi ke tugas komikal usai sejumlah tugas serius yang dijabaninya.


Mereka memperlihatkan nyawa terhadap huruf Aladdin, Jasmine, maupun Genie yang memegang peranan krusial terhadap pergerakan narasi. Mena Massoud memancarkan karisma seorang pahlawan yang membuatnya gampang untuk disemati simpati, Naomi Scott memperlihatkan keanggunan seorang putri sekaligus ketangguhan seorang pemimpin, sementara Will Smith tampak bersenang-senang dengan tugas yang diembannya tanpa berusaha untuk mengimitasi gaya mendiang Robin Williams yang ikonik di film animasinya.  Momen-momen terbaik yang dipunyai Smith yakni tatkala beliau berinteraksi dengan Massoud yang mengambarkan adanya chemistry besar lengan berkuasa diantara mereka. Chemistry yang sama juga terdeteksi dalam korelasi percintaan Massoud dengan Scott. Dari sejumlah adegan, setidaknya ada dua adegan kesukaan saya secara pribadi yang melibatkan duo Genie-Aladdin yaitu: 1) ketika mereka menghadap ke Kerajaan Agrabah untuk pertama kali dimana Aladdin yang gugup meracau kemana-mana, dan 2) ketika Genie berbincang-bincang dengan Aladdin di tengah gurun. Keduanya sangat kocak, keduanya juga hangat. Kita bisa dibentuk percaya bahwa mereka saling peduli antara satu dengan lain sehingga sukar untuk tak berkaca-kaca begitu si huruf tituler mengucap usul terakhirnya. Kece sekali!

Outstanding (4/5)