July 4, 2020

Review : Alpha


“Life is for the strong. It is earned, not given.”  

Apakah kau pernah bertanya-tanya mengenai awal mula terbentuknya persahabatan antara insan dengan anjing? Seperti, apakah insan di zaman purba telah mempunyai keterikatan emosi dengan binatang berkaki empat ini, atau, apakah korelasi unik tersebut gres terbentuk beberapa kurun silam? Dokumentasi sejarah di penggalan dunia manapun (sangat) mungkin tidak mencakup ‘persahabatan pertama insan dengan anjing’ mengingat cakupan sumber terlampau luas dan signifikansinya pun kurang nyata, sehingga bila kau pernah (atau masih) dibayangi oleh pertanyaan tersebut, berterimakasihlah kepada Tuhan alasannya sudah membuat Hollywood. Ya, kau bukanlah satu-satunya orang yang mempertanyakan perihal sejarah pertemanan lintas spesies ini karena Albert Hughes – bersama dengan saudara kembarnya, Allen Hughes, ia mengkreasi From Hell (2001) dan The Book of Eli (2010) – mengajukannya sebagai premis untuk film perdananya sebagai sutradara tunggal, yakni Alpha. Dijual sebagai “incredible story of how mankind discovered man’s best friend,” Alpha mencoba memperlihatkan jawaban mengenai asal muasal dongeng persahabatan tersebut dengan melontarkan kita ke daratan Eropa di 20 ribu tahun silam atau era Paleolitik Hulu yang berlangsung pada detik-detik terakhir jelang berakhirnya zaman es. 

Menurut versi Hughes, insan pertama yang bersedia untuk berkomunikasi sekaligus menjalin ikatan bersama seekor anjing yakni Keda (Kodi Smit-McPhee), putra dari seorang kepala suku berjulukan Tau (Johannes Haukur Johannesson), yang tengah menjalani perburuan pertamanya bersama kelompok sukunya. Mengingat usianya yang masih sangat muda dan belum adanya pengalaman menjelajah alam liar, tak pelak ada ketakutan serta keragu-raguan yang tersimpan di dalam diri Keda. Ketidaksiapannya untuk mengikuti perburuan ini terpampang konkret tatkala Keda tak sanggup membunuh babi celeng yang telah ditangkap oleh anggota suku yang lain. Meski memperlihatkan kekecewaan, Tau bisa memakluminya dan berkenan memberinya nasehat secara terpola termasuk menjelaskan posisi alpha dalam kawanan serigala. Perburuan kelompok suku ini lantas berlanjut lebih jauh karena mereka sejatinya mengincar binatang lebih besar sebagai persediaan untuk bertahan hidup selama demam isu dingin, yakni bison. Upaya mereka dalam menaklukkan bison ini, sayangnya berujung musibah tatkala salah seekor bison menyeruduk Keda dan melemparkannya ke tebing. Posisi Keda yang sulit dijangkau, ditambah lagi tak ada tanda bahwa ia masih hidup, membuat Tau beserta kelompoknya menganggap Keda telah bergabung dengan para leluhur dan meninggalkannya. 

Sedari Keda ditinggalkan oleh kelompoknya seorang diri di padang gurun inilah, Alpha mulai terasa menggeliat sedikit demi sedikit. Yang terjadi selanjutnya usai ia melepaskan diri dari tebing yakni pertemuan dengan kawanan serigala, termasuk Alpha (dimainkan oleh seekor anjing serigala Cekoslowakia berjulukan Ralph) yang ditinggalkan oleh kawanannya karena terluka parah. Kedua spesies ini mulanya tak akur satu sama lain mengingat Alpha terluka karena tertusuk senjata Keda yang berusaha mempertahankan diri dari serangan kawanan Alpha. Keda yang masih belum bisa memercayai si serigala pun kerap membuat jarak, bahkan memperlihatkan bahwa ia berada di posisi lebih banyak didominasi terkait makanan. Alpha yang tadinya menggeram tiap kali didekati oleh Keda, perlahan tapi niscaya mulai melembut hingga balasannya bersedia untuk dipeluk kala kobaran api unggun telah padam. Interaksi keduanya yang meluluhkan hati, apalagi di adegan terjerembab ke dalam sungai es yang menjadi titik balik bagi korelasi Alpha dengan Keda, membuat diri ini yang tadinya sempat terjangkit jenuh akhir guliran pengisahan yang cenderung mengalun lambat nan sunyi pun balasannya melek dan terpikat. Hamparan visualnya boleh saja serba putih dipenuhi tumpukan salju dan kedua protagonis kita terus menggigil menyusul datangnya demam isu dingin, tapi diri ini justru mencicipi kehangatan menyaksikan persahabatan Alpha-Keda yang terus berkembang. 

Chemistry yang terbentuk diantara Kodi Smit-McPhee dengan Ralph sebagai dua sahabat yang saling menaruh respek satu sama lain ditengah kerasnya hidup di alam liar menjadi kunci keberhasilan dari Alpha. Kita melihat keduanya saling membenci di permulaan yang tak bisa disalahkan mengingat situasinya, kemudian secara perlahan muncul percikan rasa sayang diantara mereka. Keda menaruh kepedulian pada ‘hewan peliharaannya’ yang ditunjukkan dari caranya merawat luka serta memberinya makanan, dan Alpha membalas kepeduliannya dengan melindunginya dari serangan kawanannya serta membantunya berburu materi makanan. Mereka saling melengkapi satu sama lain sehingga saya pun berharap mereka akan bertahan hingga ujung durasi. Menilik pendekatannya sebagai survival story sekaligus coming of age, kita tolong-menolong sudah bisa menerka muara dari narasi di film ini. Perjalanan bertahan hidup yang dilalui sang protagonis difungsikan untuk mendewasakan Keda sehingga ia sanggup menerangkan kepada sang ayah dan kelompok sukunya bahwa ia mempunyai jiwa alpha di dalam dirinya. Yang kemudian membuat saya berkenan bertahan sekalipun narasinya amat familiar (well, kau bisa menjumpainya pula di Life of Pi, The Grey, hingga Eight Below) disamping chemistry meyakinkan kedua pelakonnya yakni sinematografinya yang mencengangkan dan nyaris secantik Life of Pi. Aurora, bintang-bintang bercahaya di langit, lanskap pegunungan, hingga air sungai yang jernih membuat Alpha tampak ibarat lukisan yang betah kau pandangi lama-lama karena kecantikannya. Ada kekaguman menyeruak, dan ada pula kelegaan karena berkesempatan menyaksikannya di layar bioskop terbesar yang bisa saya temukan. Memang tak ada cara lebih baik dalam menonton Alpha disamping menontonnya di bioskop – kalau perlu, malah dalam format IMAX!

Exceeds Expectations (3,5/5)