October 23, 2020

Review : Ambilkan Bulan

“Kowe meh sholat opo meh padu ?” – Kuncung

Semenjak Petualangan Sherina sukses besar ketika ditayangkan di bioskop 12 tahun lalu, nyaris semua sineas lokal mencampurkan resep yang sama dalam menghasilkan film keluarga yang tayang di masa liburan sekolah. Berikan saja sejumlah anak yang mengalami petualangan seru di alam terbuka ketika sedang liburan ke desa, bernyanyi dan menari dengan riang, kemudian ditutup dengan si tokoh utama menceritakan pengalamannya ini di depan kelas. Resep yang ditemukan oleh Riri Riza dan Jujur Prananto ini pun lantas dianut oleh sejumlah sineas lokal. Bukan berarti mereka menguntit alur Petualangan Sherina secara mentah-mentah, hanya mereka menjadikannya sebagai pijakan utama. Riri Riza, Mira Lesmana dan Jujur Prananto patut besar hati karya mereka dijadikan sebagai inspirasi. 12 tahun sesudah film yang disebut-sebut sebagai salah satu penyelamat perfilman lokal tersebut rilis, Jujur Prananto kembali menyusun naskah film keluarga dengan resep yang ditemukannya, dan kali ini bekerja sama dengan Ifa Isfanyah yang gres saja menelurkan film apik, Sang Penari. Diberi judul Ambilkan Bulan, film dari Ifa Isfanyah ini khusus dibentuk untuk mengatakan penghormatan terakhir kepada almarhum A.T. Mahmud, pencipta lagu belum dewasa legendaris yang konon telah menggubah sekitar 500 lagu, yang meninggal pada 6 Juli 2010 silam. Dan apabila Anda selama ini selalu mengeluh Indonesia tidak mempunyai film atau program yang mendidik, maka Ambilkan Bulan mengatakan sebuah solusi. Bukan yang terbaik dari seorang Ifa Isfansyah memang, akan tetapi sangat sayang jikalau Anda melewatkannya. 

Ambilkan Bulan berkisah perihal petualangan Amelia (Lana Nitibaskara) yang gres saja ditinggal mati ayahnya (Agus Kuncoro) selama liburan sekolah. Semenjak sang ayah tiada, hidup Amelia terasa hampa. Ibunya, Ratna (Astri Nurdin), ialah seorang perempuan karir yang sangat sibuk hingga tidak mempunyai waktu untuk mengurus putri semata wayangnya itu. Kesepian tiada teman, apalagi Amelia tinggal di apartemen glamor dengan lingkungan pertemanan yang terbatas, Amelia menyebabkan situs jejaring sosial sebagai daerah pelarian. Melalui Facebook, Amelia berkenalan dengan gadis sebayanya berjulukan Ambar (Berlianda AN) yang usut punya usut rupanya masih mempunyai korelasi pertalian darah dengan Amelia. Terpesona dengan foto-foto keindahan alam di daerah Ambar tinggal yang diunggah ke Facebook, Amelia berencana menghabiskan masa liburan di kampung halaman Ambar. Sayangnya, Ratna tidak dapat ikut karena ada pekerjaan di Bali. Alhasil, Amelia pun berangkat bersama sang paman. Tak membutuhkan waktu usang bagi Amelia untuk dekat dengan teman-teman Ambar, menyerupai Pandu (Hemas Nata), Kuncung (Bramantyo Suryo), dan Hendra (Jhosua Ivan Kurniawan). Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari untuk menjelajahi desa. Petualangan dimulai ketika Amelia mengabaikan larangan Ambar untuk memasuki wilayah hutan yang menakutkan dan dihuni oleh Mbah Gondrong yang konon katanya berteman dengan jin serta suka memangsa anak-anak. 

Sebagai sebuah film yang disajikan untuk keluarga, Ambilkan Bulan sukses merampungkan misinya dalam menghibur. Penonton cilik akan menyukainya, penonton remaja dan cukup umur pun masih dapat menikmatinya. Tak hanya berkisah mengenai petualangan Amelia dan kawan-kawannya yang seru, Jujur pun mengupas duduk kasus seputar penebangan hutan secara liar, politik kekuasaan hingga dysfunctional family akhir kurangnya komunikasi. Naskah buatan Jujur Prananto mengalir dengan lancar, renyah, sempurna target dan berbicara jujur apa adanya. Tak berhenti hingga di situ saja, Ambilkan Bulan pun dihiasi dengan visual yang bagus berkat polesan CGI dari Kelik Wicaksono yang menawan dan kecekatan Cesa David Lukmansyah dalam mengambil gambar-gambar yang indah. Akting dari para pemainnya, terutama Amelia and the gank, yang natural memberi poin pelengkap bagi film ini. Saya yakin, Anda akan jatuh cinta terhadap Kuncung. Celetukan-celetukannya yang polos kerap menciptakan saya dan para penonton tertawa terpingkal-pingkal, terutama bagi yang paham Bahasa Jawa. Ada lagi yang spesial, yakni kemunculan salah satu grup musik terbaik Indonesia, Sheila on 7, di selesai film. Lumayan mengobati kerinduan saya terhadap grup musik ini. 

Naskah, penggarapan, gambar, dan akting boleh saja cantik, akan tetapi ketiga sektor ini tak akan berjalan dengan baik tanpa proteksi dari lagu-lagu masterpiece karya A.T. Mahmud yang menghiasi sepanjang film. Ada yang dibawakan sesuai versi aslinya, ada pula yang diaransemen ulang. Saya pun bernostalgia ke masa-masa ketika saya masih duduk di dingklik SD dengan rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Bermain bersama teman-teman di sawah, sungai, dan gunung. Udara masih segar sekali kala itu. Hanya sedikit dari generasi muda zaman kini yang tertarik untuk menghabiskan waktu liburannya menikmati indahnya alam ibu pertiwi, kebanyakan lebih menentukan untuk nongkrong di depan komputer atau berjalan-jalan di daerah hiburan yang mewah. Lihat saja bagaimana reaksi teman-teman Amelia ketika Amelia mengutarakan keinginannya untuk berlibur di desa. Bagi mereka, berlibur di desa sangat kuno dan membosankan. Ifa Isfanyah ingin mengajak generasi muda untuk lebih mendekatkan diri kepada alam. Bertamasya ke Gunung Lawu pun sama menyenangkannya dengan bertamasya ke Universal Studio. Liburan semakin menyenangkan ketika ditemani dengan tembang-tembang gubahan A.T. Mahmud. Generasi milenium yang terbiasa mendengarkan lagu-lagu resah perihal jatuh cinta atau patah hati perlu mendengarkan lagu-lagu dari Pak Mahmud. Rasakan magis dibalik kesederhanaannya. Setelah beratus-ratus kata yang telah saya jabarkan di atas, masihkah Anda ragu untuk menyaksikan Ambilkan Bulan di bioskop? Jarang ada lho film Indonesia yang tidak hanya bagus secara kualitas tetapi juga sangat menghibur. Ajaklah teman, sepupu, keponakan, atau anak Anda untuk menyaksikan film keluarga yang sungguh menyenangkan ini.

Exceeds Expectations