July 14, 2020

Review : Ananta


“Kita dipertemukan alasannya ialah ikatan jodoh yang kuat.” 

Para pembaca blog yang budiman, izinkanlah aku untuk memberikan satu kabar bangga sebelum mengulas Ananta keluaran MD Pictures. Kabar bangga tersebut ialah (jreng-jreng) Michelle Ziudith sudah terlepas dari film-film romantis picisan garapan Screenplay Films, saudara-saudara!… meski kemungkinan hanya untuk sementara sih. Tapi jangan pribadi bersedih alasannya ialah paling tidak, untuk sesaat kita tidak melihatnya memerankan wanita tajir melintir yang hobi merajuk, sampaumur yang mengemis-ngemis cinta seolah beliau akan tewas kalau terlalu usang menjomblo, atau gadis yang gemar bersabda dengan kata-kata mutiara di setiap hembusan nafasnya. Ini tetap patut dirayakan. Kenapa? Karena aku selalu percaya bahwa Michelle Ziudith mempunyai talenta dalam berakting (apalagi kalau sudah akting banjir air mata, tentangan deh sama Acha Septriasa!) dan beliau sangat perlu kesempatan untuk membuktikannya. Melalui Ananta yang didasarkan pada novel bukan horor bertajuk Ananta Prahadi rekaan Risa Saraswati (seri Danur), aktris yang bersahabat disapa Miziu ini mendapatkan kesempatan tersebut. Memang sih kalau ditengok dari segi genre, Ananta masih bermain-main di jalur andalan Miziu yakni drama percintaan yang sekali ini membawa muatan komedi cukup pekat. Hanya saja yang menciptakan film ini berbeda dan boleh jadi merupakan tiket emas baginya ialah Ananta mempunyai penggarapan beserta performa pemain yang baik sehingga menempatkannya berada di level lebih tinggi dibanding film-film Miziu terdahulu. 

Dalam Ananta, Michelle Ziudith berperan sebagai Tania yang dideskripsikan sebagai sampaumur Sekolah Menengan Atas yang kesulitan dalam berinteraksi secara sosial sehingga beliau menentukan untuk membenamkan diri dengan dunianya sendiri: lukis melukis. Akibat sikapnya yang jauh dari kata bersahabat, Tania hidup dalam kesendirian. Dia tidak mempunyai satupun teman bermain di sekolah, beliau juga tidak mempunyai satupun teman berbicara di rumah. Satu-satunya orang yang dipersilahkan Tania memasuki kehidupannya ialah Bik Eha (Asri Welas) – itupun sebatas berurusan dengan makanan. Kehidupan Tania yang terbilang sunyi dan monoton ini lantas mengalami perubahan dikala Ananta Prahadi (Fero Walandouw), murid pindahan asal Subang yang mempunyai logat Sunda kental, hadir di sisinya. Ini bisa diartikan secara harfiah alasannya ialah Ananta duduk sebangku dengan Tania. Karakteristiknya yang periang terang bertolak belakang dengan Tania yang muram. Pun begitu, Ananta berupaya memahami rekan sebangkunya ini termasuk memasakannya nasi kerak yang merupakan kuliner favorit Tania dan membantunya menjual lukisan-lukisannya. Tania yang semula apatis perlahan tapi niscaya bersedia membuka diri pada Ananta sehingga korelasi persahabatan sekaligus korelasi bisnis pun terbentuk. Kesedihan yang selama ini menggelayuti diri Tania pun memudar tergantikan oleh kebahagiaan hingga kemudian Ananta tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan Tania menyambut datangnya laki-laki lain dalam kehidupannya, Pierre (Nino Fernandez). 

Seperti halnya jutaan umat insan di luar sana, aku pun gotong royong menganggap sepele Ananta. Satu-satunya yang berkontribusi terhadap tergeraknya hati dan kaki ke bioskop untuk menjajalnya ialah sang sutradara, Rizki Balki, yang memulai debutnya dengan apik melalui Aku, Benci, dan Cinta (2017). Michelle Ziudith? Kepercayaan aku sudah mulai meluntur. Membawa perilaku skeptis ke dalam ruang pemutaran, diri ini merasa tertampar dikala tanpa disangka-sangka Ananta ternyata bisa tersaji sebagai tontonan yang jenaka (ya, film ini lucu sekali!) sekaligus hangat, manis, dan menyentuh di waktu bersamaan. Rizki yang gaya penuturannya terasa sekali terpengaruh dari film-film romantis asal Korea Selatan menunjukan bahwa debutnya tersebut bukanlah suatu kebetulan pemula belaka dan Michelle Ziudith memberikan bahwa beliau memang layak untuk diberikan kesempatan. Lanjutkan, Miziu! Michelle Ziudith berhasil melebur dengan baik ke dalam sosok Tania yang ajaib, sengak, dan temperamental. Berada di pengarahan maupun interpretasi pemain kurang tepat, Tania berpotensi menjadi abjad yang sukar diberi simpati. Namun performa Michelle Ziudith ditunjang chemistry padu bersama Fero Walandouw sebagai abjad tituler menciptakan aku cukup bisa memafhumi karakteristiknya yang kian meletup-letup tak terkontrol alasannya ialah faktor duka. Adegan Tania terpuruk kemudian menangis di bahu Ananta usai melempar lukisan-lukisannya ke luar jendela menjadi momen terbaik di film ini yang sekaligus menandai pertama kalinya simpati sanggup disematkan secara resmi pada kedua abjad utama tersebut khususnya Ananta yang kebaikan dan kepolosannya menciptakan diri ini ingin memberinya pelukan hangat.  

Tidak hanya Michelle Ziudith yang menunjukan bahwa beliau sanggup memberikan atraksi akting yang kejut konkret tatkala memperoleh tugas beserta pengarahan yang tepat, tetapi juga Fero Walandouw. Merupakan kejutan terbesar dari Ananta, Fero ialah rekanan akting yang sesuai bagi Miziu. Chemistry yang dibina Miziu bersama Fero jauh lebih meyakinkan ketimbang dikala beliau beradu akting dengan Dimas Anggara maupun Rizky Nazar. Berkat performa keduanya, kita bisa mendapatkan kenyataan bahwa Tania kelewat ngeselin dan Ananta kelewat mulia, kemudian menikmati setiap momen kebersamaan mereka yang sebagian besar diantaranya mengundang gelak tawa – menyerupai berlari-larian di bawah guyuran ‘air hujan’ – dan menggoreskan rasa hangat di hati. Keberadaan Asri Welas yang kentara difungsikan sebagai comic relief terang membantu meningkatkan level kelucuan yang sejatinya telah cukup berpengaruh hanya dari interaksi Fero bersama Miziu. Sayangnya, segala kenikmatan menyaksikan Ananta yang ditimbulkan di satu jam pertama ini tak benar-benar bertahan hingga ujung durasi. Memang di separuh final masih ada sekelumit rasa elok dari benih-benih asmara antara Tania dengan Pierre atau terenyuh melihat kepedulian Ananta yang amat besar pada Tania, tapi upaya untuk menghadirkan kejutan yang membawa film ke ranah melodrama pada titik puncak justru menurunkan greget. Andai si pembuat film (dan Risa sebagai pemilik materi sumber) tidak menjerumuskan Ananta pada tangis-tangisan klasik – plus misi Ananta tidak dipaksakan melibatkan perasaan – maka bukan mustahil momen ‘perpisahan dan pertemuan’ di ujung film akan terasa lebih menohok. Andai ya…


Exceeds Expectations (3,5/5)