October 26, 2020

Review : Ant-Man


“Pick on someone your own size!” 

Ketika versi layar lebar dari Guardians of the Galaxy diluncurkan tahun kemudian ke pasaran, banyak pihak memandangnya sebelah mata alasannya ialah well, mudah hanya pengikut setia komik Marvel yang benar-benar mengetahui mengenai gerombolan kriminal yang berubah menjadi superhero ini. Tapi lalu, puja puji kritikus dan perolehan dollar yang tinggi seketika membungkam para penyinyir. Marvel Studios mengambarkan bahwa mereka sanggup membangun tambang emas dari koleksi superhero mereka yang mana saja sekalipun kurang dikenal oleh khalayak luas. Kesuksesan tak terduga petualangan Star-Lord dan konco-konco ini lantas memberi keyakinan pada sesama ‘tokoh terabaikan’ Ant-Man yang dibandingkan para personil lain dalam The Avengers, popularitasnya terbilang paling rendah untuk merasakan kejayaan serupa. Telah dipersiapkan semenjak tahun 1980-an, proyek film Ant-Man ini seperti berjalan di tempat, kemudian mengalami perombakan skrip dan sutradara, sampai risikonya dilepas juga sebagai pecahan dari fase kedua Marvel Cinematic Universe pada 2015 ini. 

Sosok dibalik kostum Ant-Man ialah Scott Lang (Paul Rudd), seorang mantan narapidana yang mencoba menebus kesalahannya kepada sang buah hati dengan meninggalkan kehidupan lamanya sebagai pencuri profesional. Memiliki catatan kriminal, tidak gampang bagi Scott untuk memperoleh sumber penghasilan dari pekerjaan halal sehingga tatkala sahabatnya selama mendekam di balik jeruji, Luis (Michael Pena), menawarinya pekerjaan membobol brankas seorang kaya, Scott tak kuasa menolak. Dengan keahliannya yang mumpuni, Scott berhasil memasuki rumah Hank Pym (Michael Douglas) tanpa kesulitan berarti… atau setidaknya itu yang ia kira. Brankas incarannya, ternyata tak berisi harta-harta bergelimangan ibarat dugaannya melainkan hanya sebuah kostum asing berbentuk jaket pengendara motor lengkap dengan helm. Tak ingin aksinya berakhir sia-sia, Scott pun mau tak mau membawa kabur kostum tersebut. Alangkah terkejutnya Scott dikala menjajal kostum ‘Ant-Man’ tubuhnya tiba-tiba menciut sampai seukuran semut! 

Saat ada seseorang menyerukan “in Marvel we trust,” rasa-rasanya itu bukan sesuatu yang berlebihan. Ant-Man ialah bukti lain bahwa Marvel Studios memang sangat sanggup diandalkan dalam hal mengolah produk-produknya. Seperti halnya Guardians of the Galaxy – notabene kurang dikenal, bahkan diprediksi akan merasakan kegagalan – Ant-Man pun tanpa disangka-sangka memperlihatkan suatu pengalaman sinematik yang sungguh mengasyikkan. Kamu tidak harus mengetahui terlebih dahulu seluk beluk sang superhero untuk sanggup menikmati film alasannya ialah Peyton Reed (Bring It On, Yes Man) akan membantumu mengenal baik Scott Lang dan alter egonya mempergunakan metode penceritaan yang begitu menyenangkan buat disimak. Ya, selayaknya jilid pembuka dari semua superhero movies, khususnya kepunyaan Marvel, maka paruh pertama dipergunakan untuk menjlentrehkan latar belakang dari si tokoh utama: siapa dia, apa pekerjaannya, bagaimana keluarganya, mengapa ia meninggalkan kehidupan normalnya. Sedikit disisipi gelaran laga, babak awal ini sepenuhnya dihidupkan oleh interaksi hangat antar tokohnya dan kekocakan lontaran obrolan (maupun tingkah laris tokoh). 
Dengan sosok Scott Lang yang gampang dicintai dibawakan secara menawan penuh karisma oleh Paul Rudd, kemudian ada pula putri Hank yang tangguh, Hope (Evangeline Lilly memainkannya dengan baik), Hank yang memperoleh kewibawaan serta kerapuhan dari Michael Douglas, dan paling mencuri perhatian, Luis yang dihidupkan sangat lucu oleh Michael Pena, menciptakan kita tak pernah merasakan kebosanan terlebih plot mengikat hasil bentukan Edgar Wright dan Joe Cornish yang menjelmakan Ant-Man selayaknya ‘heist movie’ berkembang semakin menarik untuk diikuti dari menit ke menit. Perlahan tapi niscaya tingkat keasyikkan mengalami eskalasi terlebih dikala Hank mulai mementori Scott untuk merasakan jiwa ‘Ant-Man’ dengan bubuhan kehangatan sisi dramanya yang memperlihatkan korelasi antara ayah dengan anak perempuannya (baik itu Hope dan Hank, maupun Scott dan sang buah hati). Saat penonton berhasil melalui kesemua ini dengan hati riang, Peyton memberimu suguhan tabrak yang dinanti-nanti di penghujung film. 
Well, levelnya memang tidak segegap gempita gugusan film Marvel Cinematic Universe lain – apalagi Avengers: Age of Ultron yang adegan klimaksnya sempat disinggung di salah satu obrolan – tapi terkemas begitu unik sekaligus tetap mempunyai sensasi seru, menegangkan, dan menyenangkan mengingatkan sedikit banyak pada film masa kecil Honey, I Shrunk the Kids. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benak bahwa mainan Thomas & Friends akan mempunyai peranan penting dalam pertarungan puncak di sebuah film superhero… dan itu terjadi di Ant-Man. Minimnya adegan tabrak pada babak awal dibayar lunas pula memuaskan oleh Peyton Reed di 30 menit terakhir yang akan membuatmu menghela nafas berulang kali sekalipun lawan dari pahlawan kita ini, Yellowjacket (Corey Stoll), bukanlah sosok yang kelewat tangguh untuk dikalahkan. Dan pada akhirnya, Ant-Man memperlihatkan bahwa mempunyai ukuran kecil bukanlah penghalang buat hadirkan petualangan mengasyikkan penuh keseruan dan humor yang akan menciptakan penonton betah duduk elok di dingklik bioskop. Yes, Marvel did it again! 

Note : Ada dua adegan bonus yang tersimpan di pertengahan dan penghujung credit title yang menjadi penghubung penting ke fase ketiga dalam Marvel Cinematic Universe. Petunjuknya sendiri telah ditebar di pertengahan film. Falcon, anyone?

Exceeds Expectations