July 2, 2020

Review : Antologi Rasa


“Kalau ia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Tapi kalau ia bikin lo nangis itu artinya lo cinta sama dia”

Sebelum dihidangkan menjadi sajian layar lebar, Antologi Rasa lebih dulu dikenal sebagai novel metropop (fiksi wacana masyarakat urban kelas menengah) rekaan Ika Natassa yang juga menulis Critical Eleven dan Twitvortiare. Ada banyak sekali pengagumnya di luar sana, bahkan tak sedikit diantaranya yang berani menyematkan label “salah satu novel percintaan sampaumur terbaik buatan penulis tanah air” sampai-sampai saya turut dibentuk penasaran. Memang, sebagus apa sih novel ini? Seusai membuktikannya sendiri, saya pun bisa mengangguk-angguk baiklah ketika ada seseorang menyinggung Antologi Rasa dalam sebuah percakapan kemudian melontarkan puja puji untuknya. Dari segi premis sebetulnya tidak ada yang mencengangkan, yakni seputar empat sahabat baik yang terjebak dalam friendzone tatkala mereka menentukan untuk memendam perasaan karena tak ingin merusak tali persahabatan. Yang lantas membuatnya istimewa ialah bagaimana si penulis menyajikan kisah sederhana ini; ada aneka macam sudut pandang dalam novel sehingga memungkinkan pembaca untuk mengetahui isi kepala dari setiap aksara inti, dan barisan aksara yang menggerakkan roda penceritaan pun dideskripsikan dengan sangat menarik. Kita bisa memahami mereka, kita bisa pula jatuh hati pada mereka. Kalau boleh jujur, prosa ini sejatinya mempunyai tingkat kesulitan cukup tinggi untuk diekranisasi karena beresiko terjerembab menjadi tontonan membosankan apabila memperoleh penanganan yang keliru. Itulah mengapa saya memutuskan untuk tidak menaruh ekspektasi apapun ketika mendapati Antologi Rasa diboyong ke layar lebar terlebih jajaran kru dan pemain yang dilibatkan pun (mohon maaf) tak terdengar menjanjikan.

Dalam versi layar lebar, Antologi Rasa masih menempatkan Keara (pendatang gres Carissa Perusset), Harris (Herjunot Ali), serta Ruly (Refal Hady) di poros utama penceritaan. Mereka bertiga ialah bankir di BorderBank Jakarta yang lantas menjalin tali persahabatan selepas mencicipi pahit manisnya menjalani penempatan di suatu kawasan yang jauh dari ibukota bersama-sama. Saking akrabnya manusia-manusia ini, Keara hampir selalu mengajak serta Harris untuk melepas penat dan terkadang Ruly yang cenderung pendiam pun turut bergabung. Ditengok secara sekilas lalu, ketiganya tak menunjukkan adanya rasa berbeda dibalik topeng persahabatan yang mereka kenakan. Tapi kalau kita bersedia untuk mengamati lebih jauh, kita bisa mendeteksi bahwa mereka menyimpan kegundahan yang sama karena tak sanggup mengutarakan satu rasa yang disebut cinta. Keara belakang layar menyayangi Ruly yang digambarkannya sebagai lelaki santun dan perhatian, kemudian Harris yang playboy ternyata menaruh rasa kepada Keara yang sebatas menganggapnya sebagai partner in crime buat gila-gilaan, sementara Ruly yang dicintai Keara dengan sepenuh hati malah kesengsem dengan sahabat mereka yang lain, Denise (Atikah Suhaime), yang sudah berumah tangga. Rumit, bukan? Kerumitan “zona pertemanan” yang hadir ditengah-tengah persahabatan mereka bertiga ini menjadi semakin runyam usai Keara dan Harris bertolak ke Singapura untuk menyaksikan pertandingan Formula 1. Sebuah ‘kecelakaan’ yang dipicu rasa kesal Keara terhadap ketidakpekaan Ruly menjadikan korelasi Harris dengan Keara merenggang yang seketika tidak hanya mengancam ikatan persahabatan keduanya tetapi juga kemungkinan bagi Harris dan Keara untuk bersatu sebagai pasangan.


Selepas menonton Antologi Rasa beberapa hari lalu, saya terpaku sejenak di dingklik bioskop karena tidak mengetahui harus berkata apa mengenai film yang gres saja disaksikan. Apakah semestinya berkomentar “rasanya tidak sabar ingin menunggu filmnya usai”? Tentu terkesan garang meski itulah yang saya rasakan selama tontonan berlangsung. Atau melontarkan komentar “rasanya ingin sekali memejamkan mata usai setengah jam berjalan”? Ini juga tak kalah garang meski (lagi-lagi) itulah yang saya rasakan. Bagaimana ya, yang terang Antologi Rasa mewujudkan kemungkinan paling jelek yang sempat diri ini khawatirkan sebelum melangkahkan kaki ke bioskop: membosankan. Alih-alih dibentuk baper menyaksikan kisah cinta segirumit yang terjalin diantara Keara-Harris-Ruly, saya justru tidak mencicipi apa-apa. Rasanya, benar-benar hambar. Tidak ada keterikatan emosi dengan para karakternya, tidak ada pula kepedulian terhadap nasib mereka. Apakah hati ini telah mati karena tidak sedikitpun tersentuh oleh gundah gulana mereka? Bisa jadi memang demikian. Tapi bagaimana kalau kesalahannya ternyata bukan terletak pada hati masbodoh saya melainkan karena Rizal Mantovani (Kuntilanak, Eiffel… I’m in Love 2) selaku sutradara mengalami kesulitan untuk mengejawantahkan novel gubahan Ika Natassa ke dalam bahasa gambar? Bagaimana kalau ini ternyata disebabkan oleh Ferry Lesmana dan Donny Dhirgantoro yang tak sanggup memindahkan prosa ke dalam bentuk skenario? Dan bagaimana kalau ini ternyata karena jajaran pemainnya yang mengalami kebingungan kala menginterpretasikan aksara yang mereka mainkan? Berhubung saya tidak ingin menyalahkan diri sendiri, maka saya terang menganggap faktor-faktor inilah yang bertanggung jawab atas ketidakmampuan Antologi Rasa dalam menghadirkan rasa yang seharusnya ada.

Sungguh, saya tidak sanggup mencicipi apapun ketika menyaksikan Antologi Rasa yang mengalun dengan begitu perlahan ini. Saya tidak bisa berempati kepada Keara, Harris, maupun Ruly yang lebih sering terlihat canggung antara satu dengan lain ketimbang terlihat bersahabat kolam sobat karib maupun malu-malu tapi mau ibarat seseorang yang tengah kasmaran. Ya, percikan ‘unsur kimia’ Carissa Perusset bersama Herjunot Ali dan Refal Hady (apalagi Atikah Suhaime yang akan hilang begitu kau berkedip, mak cling!) seringkali berada di mode off sehingga menciptakan saya urung percaya bahwa mereka ialah sahabat karib. Atau jangan-jangan, mereka ini bahwasanya terpaksa untuk menjalin tali pertemanan karena tidak ada pilihan lain? Biar terlihat keren gitu? Kalau demikian, tentu lebih masuk nalar karena saya terus meraba-raba letak keguyuban trio bankir ini disamping berusaha keras untuk memahami alasan Keara cinta mati kepada Ruly, atau alasan Harris kepincut Keara, maupun alasan Ruly bisa terobsesi dengan Denise. Dalam versi novel, saya bisa mendapatkan pembagian terstruktur mengenai Ika Natassa yang cukup detil dalam menjelaskan kompleksitas korelasi empat sekawan ini. Tapi dalam film, alasan-alasan tersebut diutarakan sekenanya saja cenderung menyederhanakan – melalui beberapa baris obrolan dan satu dua montase – sehingga memicu reaksi, “hah masa gitu doang?” yang bisa jadi turut dilontarkan oleh para awam yang belum pernah membaca materi sumbernya. Saya masih bisa mendapatkan alasan Keara, tetapi untuk Harris dan Ruly? Well, ini membingungkan dan mereka pun seringkali sebatas terlihat layaknya pria sialan yang hobi mencari-cari kesempatan ditengah murung seorang wanita (khususnya Harris dalam adegan ‘pemerkosaan’). Kalau ditelusuri lebih jauh, problem ini sebetulnya tiba akhir sosok Denise ditampilkan kelewat sedikit, interaksi antara Ruly dengan aksara lain khususnya Keara yang terbatas, dan Keara mempunyai perangai berbeda dari deskripsi.


Oleh Ruly, ia disebut “tidak terduga” dan oleh Harris, ia disebut “fun serta berbeda”. Dalam kenyataan, Keara lebih terlihat ibarat wanita masbodoh nan arogan yang lebih suka membicarakan hal-hal krusial berkaitan dengan pekerjaan ketimbang seseorang yang menaruh minat pada fotografi (yang tak juga dijelaskan!) serta kerap meluangkan waktu untuk dugem. Carissa Perusset sebetulnya mempunyai potensi sebagai aktris elok yang dibuktikan melalui adegan perpisahan di bandara, tapi pengarahan beserta naskah menciptakan ia seringkali tampak kebingungan untuk menampilkan sosok Keara. Apakah ia semestinya kalem di luar tapi liar di dalam, atau semestinya liar di luar tapi kalem di dalam, atau bagaimana? Karena ia tidak terlihat sedikitpun memenuhi syarat atas deskripsi yang diucapkan oleh aksara lain. Keputusan untuk memangkas porsi tampil Dinda (Angel Pieters), sahabat curhat Keara, dan kebersamaan Ruly dengan Keara tentu mempunyai andil atas gagal terjelaskannya satu pertanyaan penting: siapa bahwasanya Keara? Antologi Rasa berusaha terlalu keras untuk semirip mungkin demi versi novelnya – termasuk mengaplikasikan voice over untuk bernarasi yang tak efektif dan linimasa yang terkadang acak mengikuti ingatan aksara – hingga melupakan fakta bahwa keduanya berada di medium berbeda. Tak semuanya bisa dikreasi sama persis, terkadang butuh pula penyesuaian. Rizal Mantovani beserta tim pun seolah lupa bahwa Antologi Rasa tidak hanya akan ditonton oleh para penggemar berat materi sumbernya tetapi juga oleh penonton yang belum pernah mengenal versi novelnya. Memang betul bahwa alurnya masih bisa dipahami oleh siapapun – dan mungkin masih relate pula bagi para pejuang friendzone – hanya saja film ini tidak bisa menangkap poin-poin yang sanggup menciptakan novelnya amat digandrungi khususnya mengenai kompleksitas aksara dan dinamika korelasi mereka.

Alhasil, Antologi Rasa pun berubah menjadi tak ubahnya film percintaan generik yang hanya mengandalkan tampang rupawan pemain beserta lokasi-lokasi mahal sebagai jualannya. Adanya barisan lagu pengiring yang mengganggu (duh, penempatannya seringkali dipaksakan sekali!), performa pemain yang lempeng-lempeng saja termasuk Herjunot Ali yang ketengilannya kelewat ngoyo hingga berada di ambang berlebihan, serta tangkapan gambar yang tidak sedikitpun membangkitkan hasrat untuk memesan tiket pesawat ke Singapura atau Bali terlebih beberapa diantaranya hadir dalam resolusi rendah, terang hanya memperburuk keadaan. Andai saja Antologi Rasa memperoleh penanganan yang tepat, bukan mustahil akhirnya akan ciamik mengingat materi asalnya yang apik. Kalau sudah begini, saya pun hanya bisa berkata, “sungguh sangat disayangkan”.

Poor (2/5)