October 31, 2020

Review : Architecture 101


“We were all someone’s first love at one time.”

Seung-Min (Uhm Tae-Woong), seorang arsitek berusia 35 tahun, terbangun di kantornya dalam keadaan kacau balau sesudah lembur selama dua hari berturut-turut. Sang atasan memergokinya tengah tertidur pulas di atas meja. Untuk mengembalikan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, Seung-Min menghisap rokok seraya bertengkar kecil-kecilan dengan Koo (Park Soo-Young), atasannya. Saat hendak membasuh diri untuk menghilangkan kedaluwarsa tidak sedap yang melekat di tubuhnya, beliau kedatangan tamu seorang perempuan cantik. Sementara Seung-Min sama sekali lupa dengan sosok manis di depan matanya, si tamu yang memerkenalkan dirinya sebagai Seo-Yeon (Han Ga-In) malah pribadi menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang umum dilayangkan ketika dua orang yang menahun tidak berjumpa bereuni. Butuh beberapa menit serta sedikit klarifikasi bagi Seung-Min untuk menyadari siapa Seo-Yeon sebenarnya. Penonton dibiarkan untuk menerka-nerka identitas diri Seo-Yeon sekaligus menemukan mata rantai yang menjadi penghubung antara si arsitek dengan si perempuan misterius. Apabila Anda sudah dekat dengan film melodrama, maka tidak susah untuk menjawab pertanyaan yang mengemuka di pembuka film. 
Setelah sesi dialog singkat bersama kedua tokoh utama Architecture 101 plus tunangan Seung-Min, Eun-chae (Go Joon-hee), kita hasilnya mengetahui maksud kedatangan Seo-Yeon. Dia ingin Seung-Min mendesain ulang rumah keluarga Seo-Yeon yang telah berusia 30 tahun sesuai dengan keinginannya. Demi memeroleh wujud yang menggambarkan keinginan sang klien, Seung-Min menghabiskan waktu bersama Seo-Yeon. Lee Yong-Ju pun lantas melempar Anda ke 15 tahun kemudian guna menelusuri masa kemudian untuk menyaksikan awal mula perjumpaan mereka berdua di dingklik kuliah. Seung-Min sampaumur (Lee Je-Hoon) digambarkan sebagai perjaka yang lugu dan pemalu, sangat bertolak belakang dengan penampilannya sekarang. Titik balik dari kehidupannya dimulai ketika beliau rahasia menaruh hati kepada Seo-Yeon (Bae Suzy), mahasiswi Musik yang mengikuti mata kuliah ‘Introduction to Architecture’ hanya untuk mendekati Jae-Wook (Yoo Yeon-Seok). Seung-Min dan Seo-Yeon menjadi dekat sesudah mereka mengerjakan sebuah kiprah bersama. Jika di setting masa kini Lee Yong-Ju fokus kepada kehidupan pribadi Seo-Yeon, maka untuk setting masa kemudian ini kita diajak untuk menyelami cerita melalui sudut pandang Seung-Min. 

Architecture 101 terasa istimewa karena sang sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, Lee Yong-Ju, mengajak kita untuk memasuki dunianya, arsitektur. Sesuatu yang terbilang segar mengingat selama ini film percintaan tak jauh-jauh dari musik, tari, dan makanan. Lee Yong-Ju pun menempatkannya dalam batasan wajar, tak menyesaki film dengan istilah-istilah rumit dari bidang yang dikuasainya itu, dan bisa menopang plot utama film dengan baik. Uniknya lagi, kendati mengusung genre ‘melodrama’, Architecture 101 tidak cengeng. Sesekali melihat para tokoh menangis atau marah, itu hal yang lumrah. Tidak ada deraian air mata dan ratapan tak berkesudahan yang umumnya kita jumpai dalam film sejenis. Konflik percintaan antara Seung-Min dan Seo-Yeon mengalir masuk akal dan realistis, namun tetap terasa romantis. Bisa jadi, Anda pun pernah mengalami hal yang serupa. Lee Je-Hoon bisa mengekspresikan rasa kecewa, amarah, dan cemburu yang bercampur menjadi satu dalam salah satu adegan secara natural. Tidak perlu ditampilkan dengan tangisan meraung-raung semoga penonton sanggup mencicipi sakitnya perasaan Seung-Min kala itu. Kecakapan Lee Yong-Ju dalam membangun konflik lah yang menciptakan penonton peduli dengan apa yang dihadapi oleh setiap tokoh dalam film ini. Architecture 101 pun mempunyai elemen pendukung yang sama kuatnya dengan sinematografi serta tata artistik yang cantik, lagu pengiring yang indah, serta sisipan referensi-referensi budaya terkenal di Korea Selatan pada tahun 1990’an. Maka bukan sesuatu yang mengherankan bila film ini bisa meraih 4,1 juta penonton selama peredarannya di Korea Selatan.

Exceeds Expectations