July 3, 2020

Review : Asal Kamu Bahagia

“Jadi selama ini kau menderita ya akal-akalan cinta sama aku? Kenapa kau nggak jujur aja kalau kau nggak senang sama aku?” 

Apabila kau cukup rutin mengikuti perkembangan musik tanah air, rasa-rasanya tidak mungkin tidak mengenali tembang Asal Kau Bahagia yang dibawakan oleh Armada. Betapa tidak, ini ialah salah satu tembang paling terkenal sepanjang tahun 2017 lalu. Liriknya yang memperbincangkan ihwal ketidaksetiaan dalam korelasi asmara menempatkannya sebagai anthem gundah bagi kawula muda. Kamu akan mendapati lagu ini diperdengarkan di banyak sekali tempat: radio, kafe, hingga sentra perbelanjaan. Bahkan, official lyric video dari Asal Kau Bahagia telah ditonton lebih dari 200 juta kali semenjak pertama kali diunggah di Youtube pada bulan Februari setahun silam (!). Sebuah pencapaian yang tergolong fantastis untuk ukuran lagu Indonesia. Tidak mengherankan bila kemudian rumah produksi Falcon Pictures bergerak cepat untuk memboyongnya ke dalam format film layar lebar – mengikuti jejak Surat Cinta Untuk Starla (2017) yang versi lagunya meledak di waktu bersamaan – dengan menempatkan Rako Prijanto (3 Nafas Likas, Teman Tapi Menikah) di dingklik penyutradaraan. Yang kemudian menarik perhatian ialah interpretasi terhadap lirik lagu tersebut dikembangkan menjadi tontonan percintaan berselimutkan elemen fantasi yang mengulik soal out-of-body experience. Satu plot yang sejatinya sudah cukup umum dalam genre drama romantis sehingga tak salah kalau kau mendadak teringat kepada Just Like Heaven (2005), Langit ke 7 (2012), atau If I Stay (2014). 

Dalam versi layar lebar Asal Kau Bahagia, korelasi asmara yang tengah dirundung ujian ialah korelasi asmara yang dijalin oleh Aliando (Aliando Syarief) dengan Aurora (Aurora Ribero). Ditengok sekilas atau ditengok dari permukaan, kedua sejoli ini tampak mesra. Kisah kasih mereka yang telah terjalin selama dua tahun terlihat baik-baik saja meski Aliando bolak-balik melontarkan pertanyaan kepada Aurora mengenai alasan sang kekasih memilihnya sebagai pasangan. Alih-alih sebal, Aurora selalu menanggapi pertanyaan rutin tersebut dengan penuh kesabaran dan senyuman. Bahkan pada satu kesempatan beliau menegaskan, “aku cinta kau selamanya.” Sebuah jawaban sederhana – cenderung klise malah – yang sudah cukup untuk menenangkan hati Aliando yang acapkali merasa insecure mengenai status hubungannya dengan Aurora. Berkat jawaban tersebut, Aliando merasa bahwa beliau memang layak bersanding dengan Aurora, begitu pula sebaliknya… hingga kemudian sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Aliando tidak meninggal, tapi beliau terbujur koma di rumah sakit. Sekalipun jiwanya bisa berkelana sesuai impian hati, beliau tidak sanggup berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya orang yang sanggup melihat dan berkomunikasi dengannya ialah teman baiknya, Dewa (Dewa Dayana). Oleh Aliando, Dewa dimanfaatkan sebagai mediator untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Aurora terlebih sehabis beliau mengetahui satu fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh sang kekasih.

Tidak menyerupai Surat Cinta Untuk Starla yang bikin istighfar plus gagal pula dalam mengejawantahkan lirik gubahan Virgoun ke bahasa gambar, Asal Kau Bahagia diluar dugaan ternyata berhasil tampil sebagai film percintaan yang mengikat, mengharu biru, sekaligus memberi nyawa gres bagi versi lagunya. Guliran pengisahannya memang tidak memperlihatkan sesuatu yang betul-betul baru, malah ada kalanya cukup mengalami hambatan dalam penyampaian menyerupai karakterisasi untuk beberapa tokoh krusial yang kurang mendalam dan bagaimana konsep out-of-body experience ini bekerja tidak pernah terjabarkan dengan baik. Ini termasuk soal Dewa sebagai satu-satunya orang yang bisa melihat Aliando, badan insan yang tidak bisa disentuh oleh Aliando, atau pantangan-pantangan apa saja yang dihentikan dilanggar yang semestinya bisa dimunculkan demi memberi pertaruhan lebih tinggi bagi si protagonis dalam mencapai misinya. Akan tetapi, kelemahan di sektor naskah ini bisa dikompensasi oleh pengarahan dari Rako Prijanto yang sangat baik, performa jajaran pemainnya yang apik, serta elemen teknis yang ciamik. Dibawah penanganan Rako, Asal Kau Bahagia tak pernah terjerembab menjadi tontonan percintaan menye-menye yang berusaha keras untuk mengundang air mata penonton. Film ini pun tak mencoba berpuitis-puitis ria pada untaian obrolan demi menguarkan aroma romantis. Yang dilakukannya hanyalah memberikan dongeng secara sederhana seraya mengandalkan kekuatan lakon dari para pemain, penempatan lagu pengiring, serta tata kamera membius untuk membantu menumbuhkan emosi yang diperlukan oleh film. 
Asal Kau Bahagia beruntung mempunyai barisan pemain yang sanggup mengerahkan kemampuan berlakon secara solid, khususnya Aliando Syarief dan pendatang gres Dewa Dayana yang bertindak sebagai sumber gelak tawa. Melalui film ini, Aliando yang sekali lagi memperlihatkan karismanya sebagai lead actor (secara personal, saya berharap bisa melihatnya lebih banyak bermain film), balasannya mempunyai kesempatan untuk unjuk gigi dalam berolah tugas usai tersia-siakan potensinya dalam Janji Hati (2015) dan Pertaruhan (2017). Dalam interpretasinya, aksara Ali hadir sebagai sosok yang likeable, sedikit misterius, serta rapuh. Kita bisa bersimpati kepadanya, kita bisa pula memaklumi mengapa Aurora kepincut dengannya sekalipun tanpa dipaparkan alasannya. Bersama dengan Aurora Ribero yang memberi tampang sendu hampir sepanjang waktu, mereka menjalin interaksi yang dingin. Bagi sebagian penonton, ini seolah pertanda ketiadaan chemistry diantara dua bintang ini. Tapi bukankah memang menyerupai itu tujuannya? Guna menyiratkan bahwa percikan asmara yang dulu ada telah memudar dengan cepat seraya menegaskan bahwa ada sesuatu yang salah dalam korelasi mereka. Atau jangan-jangan, bahwasanya mereka tidak pernah benar-benar jatuh cinta? Who knows. Yang jelas, adanya iringan lagu Asal Kau Bahagia yang dibawakan ulang oleh Wizzy bersama sinematografi manis bernuansa syahdu yang kesemuanya ditempatkan secara efektif, saya ikut dibentuk hanyut ke dalam pusaran konflik. Saya ikut tersentuh, saya ikut baper, dan saya pun ikut kecanduan tembang Asal Kau Bahagia yang tadinya tak saya mengerti dimana letak pesonanya. Sesuatu yang tak bisa dihindari mengingat film ini bisa mengutarakan makna dibalik lirik lagu secara jitu.

Exceeds Expectations (3,5/5)