July 15, 2020

Review : Asih


“Aku mengenalnya sebagai Kuntilanak, kalian mengenalnya sebagai Asih.” 

Apakah kau masih ingat dengan sesosok hantu wanita yang meneror Risa Saraswati (Prilly Latuconsina) di Danur jilid pertama (2017)? Jika kau lupa-lupa ingat – atau malah tidak tahu menahu – saya bantu menyegarkan ingatanmu. Dalam film tersebut, Risa berhadapan dengan sesosok wanita berjulukan Asih (Shareefa Daanish) yang mulanya dianggap sebagai pengasuh biasa. Tak usang semenjak kehadiran Asih di sekitarnya, serentetan tragedi ganjil mulai bermunculan satu demi satu sampai puncaknya Risa mesti menjelajah dunia astral demi menyelamatkan adiknya yang diculik oleh Asih. Kamu mungkin bertanya-tanya, siapa sih pengasuh mistik ini? Apa motif yang melatari tindakannya? Penonton telah diberi sekelumit masa lalunya yang tragis sebagai fallen woman. Dia hamil di luar nikah, dicampakkan oleh keluarga beserta tetangganya, kemudian tetapkan untuk mengakhiri hidup di bawah pohon besar selepas membunuh bayinya. Penjelasan lebih lanjut mengenai kehidupannya sebelum berbadan dua tak dijabarkan seolah disimpan untuk mengisi bahan bagi spin-off. Ya, disamping dongeng induk, bahan sumbernya turut mempunyai beberapa dongeng cabang yang menyoroti kisah para hantu yang mewarnai hidup Risa termasuk Asih. Sebuah bahan yang memungkinkan bagi MD Pictures untuk mengkreasi Danur universe dalam rangkaian film mereka sebagai bentuk ‘perlawanan’ bagi The Conjuring universe

Melalui film bertajuk Asih, Awi Suryadi (dwilogi Danur) yang kembali dipercaya untuk menempati bangku penyutradaraan melemparkan kita ke 37 tahun silam dan mempertemukan kita dengan sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia. Keluarga kecil tersebut terdiri dari sepasang suami istri, Puspita (Citra Kirana) beserta Andi (Darius Sinathrya), dan sang mertua (Marini Soerjosoemarno) yang merupakan ibunda dari Andi. Mereka tengah menanti kelahiran putra pertama – plus cucu perdana – dari Puspita yang tengah hamil besar. Diperkirakan akan menjalani persalinan dalam waktu satu bulan sedari perbincangan di awal film, tak disangka-sangka Puspita justru melahirkan lebih cepat. Ada suka cita dalam menyambut datangnya anggota keluarga gres ini, ada pula kerisauan yang menghantui sang ibu. Selepas mendengar dongeng dari bidannya, Sekar (Djenar Maesa Ayu), mengenai mitos terkait bayi maupun keberadaan arwah dilanjut rumor mengenai wanita yang gres saja mati bunuh diri di kampung sebelah, Puspita senantiasa was-was. Lebih-lebih, mertuanya kerap mencicipi adanya sosok lain di rumah mereka begitu pula dengan Puspita. Andi yang tak pernah mempercayai hal-hal berbau supranatural, mulai mempertimbangkan ulang kebenaran dibalik kisah sang istri dan sang ibu sesudah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa salah satu mitos mengenai bunyi ciap-ciap ayam ternyata benar adanya. Keluarga kecil ini pun seketika menyadari, ada kekuatan jahat yang tengah memburu mereka. 


Apabila kau berharap Asih akan mengulik lebih jauh masa lampau dari si aksara tituler, bersiaplah untuk mendengus kecewa. Kenyataannya, apa yang dijabarkan di sini tak lebih mendalam ketimbang apa yang telah kita peroleh dari Danur. Satu-satunya alasan yang melandasi mengapa nama Asih disematkan ke judul yaitu alasannya yaitu ia menjadi hantu tunggal di sini. Satu-satunya peneror yang wara-wiri sepanjang durasi tanpa pernah terdistraksi oleh kemunculan makhluk mistik lain. Sosoknya dalam film ini pun tak ubahnya ibarat dalam Danur yakni sesosok hantu penuh amarah yang menghantui sebuah keluarga. Anehnya, sebagai film yang memakai judul Asih, penonton tak pernah benar-benar mengenal siapa sesungguhnya dia. Kita tidak tahu kehidupannya semasa menekuni dunia didik mengasuh, kita tidak tahu siapa laki-laki yang bertanggung jawab dibalik kehamilannya, kita tidak tahu ibarat apa keluarganya kecuali mereka jahat karena mengusirnya usai kedapatan mempunyai anak haram, dan kita pun tidak tahu mengapa si pembuat film harus menyebut “namanya Kasih, tapi entah semenjak kapan ia dipanggil Asih” melalui lisan salah satu aksara alasannya yaitu fakta kecil ini tak menambah apapun kecuali kita ikutan bertanya-tanya: kenapa ya? Ya, ada banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai si hantu termasuk motivasinya dalam meneror keluarga Puspita yang hanya dijabarkan sekelebat saja. Mengingat masa lalunya hanya memperoleh jatah waktu tidak lebih dari 10 menit (itupun masih diambil jatahnya untuk menjelaskan korelasinya ke film terdahulu), saya tak benar-benar sanggup memahami tindakannya. 

Seperti halnya dua film induk, Asih abai terhadap naskah. Disamping tak memberi penokohan yang layak bagi si hantu, para aksara insan di sini juga sebatas stock character. Mereka ada hanya untuk dijadikan sebagai target serangan si hantu alih-alih mempunyai bantuan signifikan pada pergerakan kisah. Satu hal yang sering khalayak lupakan, dwilogi The Conjuring berhasil memainkan terornya bukan semata-mata alasannya yaitu trik menakut-nakutinya yang sempurna guna tetapi juga berkat barisan aksara yang memungkinkan kita untuk peduli. Mereka tampak hidup, mereka tampak nyata, mereka ibarat kita. Dalam Asih, kita tidak menjumpai karakter-karakter utuh ibarat itu jadi agak sulit bagi penonton untuk bersimpati kepada para aksara di film ini sementara kita tidak mengenal siapa mereka. Kita hanya mengetahui bahwa Puspita memercayai ada kekuatan jahat mengintai mereka, Andi skeptis terhadap perkara gaib, dan ibu mertua sudah mulai pikun. Tak ada dimensi dalam karakteristik mereka. Kepedulian Asih hanyalah sanggup membuat penonton terlonjak dari bangku bioskop, sekalipun alasannya yaitu kaget alih-alih takut. Saya tentu tak sanggup menyalahkan si pembuat film alasannya yaitu tontonan ibarat itulah yang dicari oleh sebagian besar penonton horor di Indonesia. Mereka tiba ke bioskop berharap sanggup berteriak-teriak (lalu tertawa-tawa untuk melepas stres) bersama teman-temannya tanpa pernah peduli soal penceritaan dan trik menakut-nakuti. Jika patokannya sesederhana itu, Asih sanggup dikategorikan berhasil. Film ini mempunyai beberapa momen yang membuat kehebohan di dalam bioskop. 


Yang saya apresiasi dari Asih yaitu upaya Awi Suryadi untuk tak mengandalkan penampakan ngasal maupun iringan musik berisik guna membuat teror. Dia bermain-main dengan atmosfer yang mengusik kenyamanan ibarat lorong-lorong dalam rumah yang temaram atau suasana di sekitar rumah yang senantiasa sunyi. Tak ketinggalan, disisipkan pula kisah mistis dibalik mitos-mitos tertentu demi menguarkan kesan creepy lebih kuat. Tak sepenuhnya berjalan mulus memang karena contoh teror senada membuatnya terasa repetitif begitu menginjak pertengahan durasi. Pengulangan demi pengulangan ini sempat membuat diri ini mencicipi kejenuhan yang untungnya tak berlangsung usang soalnya durasinya pendek berkat kemunculan satu dua momen yang mesti diakui sanggup membangkitkan bulu kuduk. Momen yang saya maksud melibatkan Ayat Kursi, bunyi ciap-ciap ayam, serta bangku goyang melayang. Ketiga adegan tersebut sebetulnya terbilang umum di film horor, tapi terbantu oleh ketepatan Awi dalam mengeksekusinya, permainan kamera, tata suara, beserta Shareefa Daanish yang memang seram sebagai Asih, sehingga teriak dan tawa penonton sanggup pecah secara serempak.

Acceptable (3/5)