October 29, 2020

Review : Assassination

 

Berlatar tahun 1930-an ketika Jepang menduduki Korea, Assassination menyoroti kiprah satu pasukan pejuang kemerdekaan yang dititahkan untuk membunuh Kawaguchi Mamoru (Shim Cheol-jong), Gubernur garnisun Jepang di Gyeongseong, dan Kang In-gook (Lee Geung-young), pebisnis Korea yang menjadi antek Jepang. Pasukan ini terdiri atas tiga orang yang masing-masing mempunyai catatan kriminal, yakni penembak jitu Ahn Ok-yun (Jun Ji-hyun), lulusan sekolah militer Chu Sang-ok (Cho Jin-woong), dan seorang andal materi peledak Hwang Deok-sam (Choi Deok-moon). Ketiganya dipersatukan oleh seorang biro dari Pemerintahan Korea sementara, Yeom Seok-jin (Lee Jung-jae), di Shanghai. Dengan kemampuan mumpuni ditambah taktik terancang matang, misi yang dilakoni Ahn Ok-yun dan rekan-rekan ini seharusnya gampang untuk dieksekusi. Namun segalanya berbalik menjadi kekacauan besar tatkala terungkap bahwa salah satu diantara mereka ternyata intel Jepang dan ia telah menyewa duo pembunuh bayaran kenamaan, Hawaii Pistol (Ha Jung-woo) dan Old Man (Oh Dal-su), guna menghabisi setiap anggota dari pasukan kecil ini. 

Mulanya rasa kepenasaran untuk merasakan Assassination di layar perak muncul dilandasi oleh setidaknya tiga alasan; 1) dinahkodai oleh Choi Dong-hoon, pembesut gelaran tabrak blockbuster The Thieves, 2) Jun Ji-hyun, aktris elok yang dikenal lewat My Sassy Girl dan Windstruck, ditampilkan di garda terdepan, dan 3) dipirsa lebih dari 12 juta penonton yang menempatkan Assassination sebagai film terlaris di Korea Selatan pada tahun ini. Mengingat kerja sama sebelumnya dari sang sutradara dan si aktris utama – ya, keduanya pernah berjumpa dalam The Thieves – menghasilkan sajian seru yang memperoleh sambutan hangat dari bermacam-macam pihak, maka ada pengharapan reuni ini melahirkan karya yang sama gregetnya (atau malah melampaui) terlebih topik pembahasannya terbilang cukup seksi menyoal bantuan para antihero dalam kemerdekaan Korea. Dan untungnya, tidak ada pengkhianatan terhadap tingginya ekspektasi yang ditanamkan untuk Assassination. Apabila ada padanan kata yang cocok untuk mendeskripsikan Assassination, maka itu yaitu menghibur dan memuaskan. Choi Dong-hoon did it again! 

Hanya saja, untuk memperoleh kepuasan itu membutuhkan sedikit usaha serta, well, kesabaran. Dalam tiga puluh menit pertama penonton akan dijejali perkenalan kepada seabrek tokoh (sebagian besar mempunyai dampak besar ke pergerakan cerita) dan latar belakang duduk kasus yang tergolong cukup njelimet. Menuntut konsentrasi lebih – terutama kalau dirimu menyerupai aku yang mengalami kesusahan menghafal nama plus wajah orang Korea – biar nantinya tidak tersesat di padatnya guliran pengisahan. Tergolong melelahkan, memang, namun kalau kau selamat melaluinya, ada kado manis siap menanti di menit-menit berikutnya. Si pembuat film pun tidak menunggu usang untuk mentraktir penonton yang otaknya mulai keriting. Terhitung sejak Ahn Ok-yun dan tim menjejakkan kaki kembali di Korea, tensi perlahan-lahan mulai dinaikkan. Nafsu melahap Assassination terpantik dari pertemuan Chu Sang-ok dengan Hawaii Pistol, kemudian berlanjut pada misi yang berlangsung kacau di pom bensin. Enerjiknya pergerakan kamera disambut penyuntingan gambar yang dinamis menlahirkan momen penahan nafas terlebih ada kejutan besar menanti Ahn Ok-yun! 

Dan ya, usai kegagalan Ahn Ok-yun dan tim dalam menunaikan misi yang berdampak Kawaguchi Mamoru mengetahui ada rencana pembunuhan ditujukan kepadanya, Assassination tidak pernah lagi santai dalam melantunkan tuturannya. Adrenalin dipacu sedemikian rupa melalui tempo penceritaan yang bergerak kencang dan berkelak-kelok sehingga penonton sulit untuk mengenyahkan pandangan dari layar bioskop walau hanya sedetik saja. Menyadari bahwa penonton akan lemas tak berdaya apabila dihapuskannya ruang guna menghela nafas penuh kelegaan, maka Choi Dong-hoon pun memberi taburan humor disana sini biar ketegangan sedikit tercairkan dengan kiprah diembankan ke Cho Jin-woong, Choi Deok-moon Ha Jung-woo, dan Oh Dal-su. Berkat mereka, kita bisa tergelak di tengah-tengah suasana serba genting. Pergantian emosi secara silih berganti dari tegang menuju murka beralih ke terbahak kemudian murung untuk kemudian kembali tegang yang berlangsung selama menyimak Assassination merupakan bentuk kenikmatan menonton. Walaupun durasi mengalun panjang mencapai 140 menit, tidak sekalipun ada rasa jenuh menghampiri. Malah, keasyikkan semakin menjadi-jadi dari menit ke menit yang menciptakan Assassination layak dilabeli sebagai tontonan hiburan kelas wahid. Luar biasa seru!

Outstanding