October 20, 2020

Review : At Cafe 6


“Everyone has a similar youth, but a different life.” 

Popularitas menjulang You are the Apple of My Eye di kalangan pecinta film seantero Asia berkat guliran pengisahannya yang legit-legit nyelekit pula sangat mewakili banyak jiwa-jiwa muda yang resah gulana jawaban cinta, membuat sebuah tren di kalangan sineas setempat (baca: Taiwan) maupun seberangnya (baca: Cina daratan) berupa film-film romansa yang mengetengahkan tema nostalgia masa muda dengan latar masa 1990-an. Beberapa judul yang tergolong berhasil mengikuti jejak dari You are the Apple of My Eye antara lain So Young, Cafe Waiting Love dan film kesukaan saya, Our Times, yang mengamini untaian lirik dari Yuni Shara, “memang benar apa kata pepatah, kalau jodoh tak lari kemanaaa…” Dengan Our Times menorehkan pundi-pundi yang ajegile selama masa penayangannya di bioskop, tentu sanggup diterka tren ini pun tak akan lari kemana-mana. Benar saja, pertengahan tahun lalu, Cina daratan bersama Taiwan tandem untuk melahirkan film dewasa unyu-unyu lainnya yang materinya bersumber dari novel si pembuat film, Neal Wu. Tajuk dari film tersebut yakni At Cafe 6

Di permulaan film, penonton dipertemukan dengan seorang wanita yang tengah berjibaku dengan kendaraan beroda empat mogoknya di tengah derasnya hujan. Tak berselang lama, seorang laki-laki menghampirinya, menawarinya bantuan, kemudian mengajaknya menyeruput secangkir kopi hangat di kedai miliknya seraya mengeringkan badan. Guna membunuh waktu, keduanya berbincang-bincang yang topik obrolannya dipantik dari pertikaian si wanita dengan kekasihnya nun jauh disana. Si pemilik kedai kopi kemudian terkenang ke masa mudanya bersama sahabat-sahabatnya dan cinta sejatinya. At Cafe 6 lantas melempar alur dongeng bertahun-tahun ke belakang kala si narator masih duduk di kursi SMA. Ada empat huruf yang memegang peranan penting pada titik ini; duo sobat yang kerjaannya setiap hari hanya bikin ulah, Min Lu (Dong Zijian) dan Bo Zhi (Lin Bo Hong), serta dua wanita yang mereka taksir, Xin Rui (Cherry Ngan) dan Xin Yi (Ouyang Nini). Seperti halnya judul-judul diatas, terjalinnya dongeng asmara diantara mereka pun terdengar tidak mungkin pada mulanya memeriksa adanya kesenjangan contoh pikir dan kepribadian. 

Tapi tentu saja kita mengetahui bahwa mereka akan bersatu dan tidak butuh waktu usang bagi Neal Wu untuk mengonfirmasinya lantaran memang bukan disitu poin utama dari At Cafe 6. Selepas masing-masing memproklamirkan korelasi asmara mereka ke dunia, film mendorong kita menapaki fase kuliah yang merupakan titik balik kehidupan keempat dewasa ini. Baik Min Lu dengan Xin Rui maupun Bo Zhi dengan Xin Yi menjalani korelasi jarak jauh yang sepertinya baik-baik saja di beberapa bulan awal, namun perlahan tapi niscaya mulai terbuka boroknya terlebih dikala pedoman telah berbeda jalan. Dengan diapungkannya pertanyaan, “kala long distance relationship tidak berjalan secara semestinya, apakah jarak yakni satu-satunya yang sanggup dipersalahkan?,” nada film seketika beralih rupa dari semula cerah ceria penuh suka cita kolam semangat dewasa yang menggelora menjadi menyayat-nyayat kalbu. Konflik demi konflik lantas menyembul yang sekaligus menghadiahi penonton berupa kursus singkat mengenai ‘membina korelasi jarak jauh’ dengan dongeng asmara Min Lu dengan Xin Rui sebagai studi kasus. Lebih dari itu, At Cafe 6 juga berbincang soal persahabatan, prioritas, pengorbanan sampai berguru dari kesalahan. 

Yang kemudian membedakan At Cafe 6 dengan, katakanlah Our Times, yakni film ini justru lebih besar lengan berkuasa kala menempatkan fokusnya pada korelasi perkawanan Min Lu bersama Bo Zhi ketimbang dikala berkutat dengan dongeng kasih sang tokoh utama. Ya, At Cafe 6 memang lebih condong ke coming of age drama daripada romance drama yang tidak pernah benar-benar sanggup menguarkan sisi charm-nya disebabkan dua faktor. Pertama, chemistry Dong Zijian dengan Cherry Ngan tidak sehidup ketika Zijian disandingkan bersama Lin Bo Hong semacam masih ada sekat, dan kedua, sosok Xin Rui cenderung berjarak sehingga cukup sulit untuk sanggup menyukainya apalagi memahami motivasinya (…and she’s annoying!). Menilik apa yang terhampar di klimaks, boleh jadi begitulah intensi dari pembuatnya lantaran kalau mau bahwasanya korelasi percintaan unik antara Bo Zhi dengan Xin Yi lebih menyenangkan untuk diberi panggung lebih luas apalagi Xin Yi pun lebih gampang disukai. Walau pada jadinya kadar manisnya jauh dibawah You are the Apple of My Eye serta Our Times plus penambahan sisi gloomy menjelang tutup durasi sangat salah tempat, At Cafe 6 masih menunjukkan tontonan mengikat dan cukup bernutrisi bagi otak maupun hati dengan muatan filosofisnya khususnya bagi mereka yang tengah menjalani korelasi percintaan jarak jauh.

Note : Jangan lewatkan post-credits scene dari film ini di penghujung yang memberi sekelumit info mengenai kehidupan masa kini dari salah satu karakter. 

Exceeds Expectations (3,5/5)