October 28, 2020

Review : Athirah


Tradisi Miles Films sedikit berubah tahun ini. Jika biasanya mereka hanya mempersembahkan satu karya untuk khalayak ramai, maka sekali ini dua film diluncurkan dengan pendekatan cenderung berbeda; Ada Apa Dengan Cinta? 2 dan Athirah. Adanya perbedaan pun tidak sebatas terhenti pada tradisi maupun bagaimana kedua buah hati diperlakukan, melainkan hingga menyasar ke lantunan kisah. Athirah, film terbaru dari Miles Films yang disarikan dari novel bertajuk sama racikan Alberthiene Endah serta dikomandoi oleh Riri Riza, intinya yaitu sebuah film biografi. Didalamnya, terdapat konflik terkait istri dimadu (atau bahasa kerennya, poligami) dan elemen religi yang melingkungi. Dalam menafsirkan ulang kisah Athirah, ibunda dari Wapres Jusuf Kalla, ke bahasa gambar gerak Riri sebisa mungkin tidak ingin terkungkung pada pakem film biografi, poligami, maupun religi yang jamak diaplikasikan oleh secara umum dikuasai sineas dalam negeri. Biografi condong ke arah glorifikasi, poligami identik dengan isak tangis tak berkesudahan, dan religi sekadar untuk alat hias belaka. Riri mencoba memberi warna lain lewat penuturan lebih puitis nan elegan dalam Athirah sehingga sulit disangkal menawarkan kesejukan tersendiri bagi film yang sejatinya mengusung tema lama ini. 

Perjalanan film dibuka oleh kemunculan sebuah truk yang mengangkut Athirah (Cut Mini) dan suaminya, Haji Kalla (Arman Dewarti). Pasangan suami istri ini mengungsi dari Bone ke Makassar karena situasi kurang aman tengah melanda kampung halaman tanggapan peperangan melawan kelompok separatis pasca kemerdekaan Republik Indonesia sehingga tidak mungkin bagi keduanya memperoleh mata pencaharian yang layak. Setibanya di Makassar, tanpa banyak berbasa basi, film lantas menunjukkan bahwa pelarian mereka membuahkan hasil. Bisnis yang dikelola Haji Kalla bersama istrinya berkembang pesat dan mereka pun dikaruniai putra-putri yang taat, salah satunya yaitu si anak sulung yang berjulukan Ucu (Christoffer Nelwan). Kehidupan keluarga Kalla terhitung sakinah bahkan Athirah tengah mengandung anak keempat, hingga sebuah informasi tak mengenakkan hati membisiki indera pendengaran Athirah yang seketika menggoyahkan perahu rumah tangga mereka. Ternyata oh ternyata, Haji Kalla telah mempersunting wanita lain tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan pada sang istri. Mengetahui dirinya telah dimadu, hati Athirah tentu nelangsa. Hanya saja alih-alih menyesali nasib pilunya, Athirah justru menentukan mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membangun bisnisnya sendiri. 

Ya, Athirah memang tidak dilantunkan kolam melodrama yang sedikit-sedikit terdengar teriakan histeris, sedikit-sedikit bercucuran air mata, sekalipun kisah hidup sang subjek yaitu materi bagus untuk menciptakan penonton terisak hebat. Riri menentukan menuturkannya secara elegan, dipenuhi ketenangan ketimbang letupan-letupan emosi, seraya mempersilahkan penonton memberi pembacaannya sendiri atas suatu adegan karena obrolan memang bukan sesuatu yang lazim ditemukan dalam Athirah. Bukannya tak ada, hanya saja diminimalisir betul-betul dan lebih bergantung kepada permainan mimik wajah barisan karakternya untuk menjabarkan suatu keadaan. Kesunyian semacam ini boleh jadi berasa janggal bagi penonton yang mendamba drama eksplosif – kalau kau berekspektasi demikian, hempaskan sesegera mungkin – akan tetapi dikala kau sanggup mendapatkan gaya tutur sang sutradara, kesan puitis dan anggun sanggup dirasakan. Pemilihan gaya tutur tenang-tenang menghanyutkan sendiri, bagi saya, efektif menebalkan karakteristik dari sang tokoh utama yang digambarkan sebagai wanita besar lengan berkuasa dan tegar. Hanya sesekali Athirah terlihat menangis di depan abjad lain pasca dipoligami, selebihnya air mata kekecewaan ditumpahkan kala ia tengah sendirian atau membaca kitab suci. Pun tanpa ledakan tangis, Athirah tetap sanggup menusuk hati penontonnya sedemikian rupa. 

Athirah berupaya menahan-nahan emosinya demi keutuhan keluarga. Dia tidak ingin anak-anaknya menyadari bahwa hubungannya dengan sang suami telah jauh merenggang – walau tercium juga oleh Ucu – dan tetangga sekitar yang pastinya gemar bergunjing mengetahui kian dalam malu keluarga bercitra terhormat ini. Tidak ingin terlarut dalam kesedihan, pula upayanya untuk tidak membebani Haji Kalla yang telah memiliki keluarga lain untuk dihidupi, Athirah pun membangun perjuangan sarung tenun sutera. Perjuangan andal Athirah guna bangun dari terjangan angin kencang besar yang nyaris menenggelamkannya inilah yang menginspirasi Ucu di kemudian hari. Bukan hanya Ucu, penonton pun memperoleh inspirasinya seusai menonton film ini malahan turut disertai respek kepada sosok Athirah maupun Ucu (panggilan kecil Jusuf Kalla). Sebuah menunjukan bahwa Athirah bekerja sangat baik sebagai film biografi. Ini diperoleh karena Athirah menghindari adanya glorifikasi berlebihan. Kelamnya jalan hidup keluarga Kalla juga dipapar tanpa tedeng aling-aling, termasuk bagaimana Athirah yang seorang relijius diperlihatkan mendatangi ‘orang pintar’ demi mendapatkan jampi-jampi untuk mempertahankan Haji Kalla. Mengetahui bahwa mereka yaitu insan biasa yang juga melaksanakan kesalahan menciptakan kita gampang terkoneksi ke film. 

Bagusnya cara Riri bercerita berdasar naskah ketat olahan Salman Aristo (juga Riri), memperoleh sokongan pula dari departemen teknisnya yang berada di level premium menyerupai bingkaian gambar-gambar oleh Yadi Sugandi yang tidak saja indah tetapi pula ‘berbicara’ banyak, iringan musik bernuansa etnis hasil gubahan Juang Manyala yang memberi sentuhan emosi serta rasa pada film, hingga bangunan artistik cermat rancangan Eros Eflin yang menciptakan penonton serasa menyelami kala 50 dan 60-an. Dan, kita tentu dihentikan melupakan bantuan penting jajaran pemainnya. Riri terperinci beruntung memiliki aktris sekaliber Cut Mini yang memberi interpretasi mengagumkan untuk abjad Athirah. Dia yaitu kunci sekaligus magnet bagi film ini. Penonton sanggup mencicipi kegetiran yang dialami oleh sang tokoh utama hanya dari penyampaian informasi melalui verbal air muka Cut Mini. Tengok pancaran mata yang mengisyaratkan kecurigaan bercampur kecemasan kala Haji Kalla mencari-cari minyak rambutnya, lihat bagaimana perubahan raut wajahnya dikala mengetahui sang suami tiba bersama istri muda di sebuah pesta perkawinan, dan simak pula reaksi ketakutannya ketika mencoba memasukkan ‘ramuan’ ke minuman sang suami. Itupun masih beberapa diantaranya mengingat Cut Mini juga menghadirkan akting andal begitu menyebarkan layar bersama lawan mainnya yang tak kalah mengesankan menyerupai Christoffer Nelwan dan Jajang C. Noer (memerankan ibu Athirah). Dengan kombinasi semaut ini, sempurna kiranya menyebut Athirah sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Luar biasa cantik.

Intermezzo : Ada yang perutnya seketika keroncongan nggak melihat hamparan makanan-makanan di setiap adegan menjelang makan bersama?

Outstanding (4/5)