November 28, 2020

Review : Ave Maryam


“Kalau nirwana saja belum niscaya buat saya, untuk apa saya mengurusi nerakamu?”

Jika hanya ada satu kata yang bisa dipilih untuk mendeskripsikan Ave Maryam, maka saya akan menentukan kata “cantik”. Film isyarat Robby Ertanto (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Dilema) ini memang mempunyai tampilan visual yang akan membuatmu geleng-geleng kepala dan kemungkinan besar bakal menginspirasi para selebgram untuk menghiasi feed mereka dengan pemandangan senada. Ya, sedari teaser trailer-nya pertama kali diperkenalkan ke hadapan publik, Ave Maryam memang telah menyita perhatian berkat gambar-gambarnya yang aduhai. Seolah-olah mengindikasikan bahwa ini bukanlah film buatan sineas tanah air. Disamping visual yang memang didesain untuk memanjakan mata, faktor lain yang mendorong ketertarikan terhadap Ave Maryam – setidaknya bagi saya secara langsung – yaitu tema yang ditawarkan. Memang benar film masih berkutat dengan urusan percintaan, dimana sekali ini turut menjamah area cinta terlarang. Yang lalu membuatnya tampak berbeda yaitu latar penceritaan yang membawa khalayak menapaki teritori yang sangat teramat jarang disentuh oleh perfilman Indonesia, yakni susteran dan Gereja Katolik. Saya ingin melihat bagaimana Ave Maryam merepresentasikan kaum minoritas yang kerap terlupakan dalam sinema tanah air, saya ingin melihat bagaimana si pembuat film mengelaborasi topik pembicaraan yang terhitung sensitif (kisah kasih antara romo dengan suster!), dan saya juga ingin melihat bagaimana film mencoba memberi sedikit warna ditengah monotonnya variasi tema dalam film-film yang menyebutnya sebagai “tontonan reliji”. Terdengar menjanjikan, bukan?

Dalam Ave Maryam, penonton diajak mengunjungi kota Semarang pada tahun 1998 dan diperkenalkan dengan sang protagonis, Suster Maryam (Maudy Koesnaedi), yang mengabdikan dirinya ke sebuah susteran. Di sana, Maryam kebagian kiprah untuk mengurusi segala keperluan rumah tangga bersama penanggung jawab susteran, Suster Mila (Olga Lidya), dan merawat para suster berusia lanjut termasuk menyiapkan masakan serta memandikan mereka. Selama beberapa dikala – setidaknya terhitung sedari penonton mengetahui abjad ini – rutinitas Maryam memang hanya berkutat pada beribadah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari para suster yang tinggal di bawah atap susteran. Kalaupun mau sedikit bersenang-senang, Maryam akan keluar ke toko terdekat untuk membeli buku. Salah satu materi bacaan kesukaannya mengadung elemen yang dianggap tabu bagi mereka yang telah mengucap tiga kaul (kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan) yaitu erotisme. Akan tetapi, kehidupan Maryam yang mulanya tampak biasa-biasa saja menyerupai umumnya para suster yang telah mengabdi kepada Tuhan ini secara perlahan tapi niscaya mulai berubah sesudah Romo Martin (Joko Anwar) membawa penghuni anyar bagi susteran, Suster Monic (Tutie Kirana). Kedatangan Suster Monic ini bersamaan dengan hadirnya romo gres yang bertugas di gereja setempat, Romo Yosef (Chicco Jerikho). Pembawaan Yosef yang cenderung easy-going dan kemahirannya dalam bermusik menciptakan Maryam mengalami gejolak dalam hatinya. Suatu gejolak yang menghadapkannya pada posisi dilematis alasannya yaitu dia harus menentukan antara mengikuti kemauan hati atau bertahan pada kaulnya.


Sepanjang melantunkan narasi sepanjang 74 menit, Robby Ertanto menentukan untuk mengambil pendekatan yang menyesuaikan dengan latar penceritaan: tenang-tenang menghanyutkan. Penonton dikondisikan untuk menyatu ke dalam suasana susteran yang jauh dari hiruk pikuk dan selama belasan menit awal (setidaknya sebelum abjad Yosef menyelinap masuk), kita sebatas menyaksikan kegiatan Maryam beserta para suster dalam menjalani hari. Belum tercium adanya bibit-bibit konflik, laju pengisahan pun mengalun secara santai yang boleh jadi kelewat melenakan bagi sebagian penonton. Tapi bagi saya sendiri, gaya penyampaian ini memperlihatkan rasa hening di hati. Ada kebahagiaan tersendiri menyaksikan para suster sanggup beribadah secara khusyuk tanpa diinterupsi oleh pihak luar, ada kebahagiaan tersendiri melihat gerak-gerik para suster yang senantiasa mempunyai caranya sendiri untuk menikmati hidup, dan ada kebahagiaan tersendiri menyaksikan interaksi kecil antara Maryam dengan gadis pengirim susu yang beragama Islam. Untuk sesaat, saya merasa Ave Maryam memberikan citra ideal wacana Indonesia dimana perbedaan keyakinan bukan jadi penghalang dan urusan dengan Tuhan bersifat langsung alih-alih ranah publik. Si pembuat film memberi sentilan sekaligus materi renungan yang bekerjasama dengan kebiasaan masyarakat remaja ini dalam ikut campur perihal “agama” dalam satu dua obrolan yang salah satunya berbunyi, “Kalau nirwana saja belum niscaya buat saya, untuk apa saya mengurusi nerakamu?”. Dialog ini diucap oleh Suster Monic dikala mengetahui diam-diam Maryam. Ketimbang memberi wejangan-wejangan bersifat penghakiman kepada Maryam yang kentara memperlihatkan penyesalan, dia justru menentukan untuk diam. Lawan bicaranya bukan lagi anak kecil yang masih membutuhkan panduan untuk bisa membedakan mana benar mana salah. Maryam terperinci mengetahui konsekuensi atas tindakan-tindakannya dan Suster Monic tidak ingin bertindak selayaknya Tuhan alasannya yaitu dia sendiri tak yakin telah suci dari dosa.

Disamping permainan visual yang memang berada di kelas wahid dan ambience yang memungkinkan saya untuk bisa menyelami situasi kondisi di susteran, satu hal lain yang menciptakan diri ini sanggup terhubung ke Ave Maryam adalah pendeskripsian abjad yang manusiawi. Sebagian besar abjad dalam film memang dikisahkan telah mengikat akad dengan Tuhan dan menentukan untuk meninggalkan kasus duniawi, tapi mereka pun tak digambarkan serba tepat selaiknya abjad dalam film religi Indonesia pada umumnya. Maryam menyimpan sebersit harapan untuk bebas dari aturan-aturan keagamaan alasannya yaitu dorongan hawa nafsunya, sementara Yosef pun tak bisa menekan hasratnya untuk mencintai. Alhasil, kedua abjad utama ini sempat mengalami krisis keimanan dikala mereka menyadari benih-benih cinta mulai timbul meski saya sendiri mempunyai perspektif lain mengenai kekerabatan dua insan ini. Benarkah gejolak yang muncul dari dua belah pihak bisa disebut cinta? Atau jangan-jangan gejolak itu muncul dari dorongan seksual belaka? Saya gotong royong berharap si pembuat film akan mengulik lebih dalam pergulatan batin yang timbul jawaban kekerabatan terlarang ini, terlebih lagi Maryam pun sempat diperlihatkan tengah asyik membaca novel erotis. Entah alasannya yaitu keterbatasan durasi atau kekhawatiran akan memicu gelombang protes, Ave Maryam membiarkan problem tersebut hanya mengapung di permukaan saja. Persis menyerupai abjad Maryam yang kurang menerima pembagian terstruktur mengenai memadai terkait latar belakang (saya curiga, ini ada kaitannya dengan menghindari kontroversi alasannya yaitu sinopsis resmi menyebut Maryam sebagai wanita dari keluarga Muslim). Ave Maryam jelas beruntung mempunyai pelakon-pelakon kompeten menyerupai Maudy Koesnaedi, Chicco Jerikho, serta Tutie Kirana yang bisa meniupkan nyawa lebih terhadap abjad yang mereka mainkan. Walau saya terkadang tak bisa benar-benar yakin dengan motivasi Maryam, sorot mata Maudy yang berbicara bisa menciptakan saya akibatnya sedikit banyak sanggup memahami pertentangan-pertentangan batin yang dialaminya.

Exceeds Expectations (3,5/5)