October 23, 2020

Review : Avengers: Age Of Ultron


“I know you’re good people. I know you mean well. But you just didn’t think it through. There is only one path to peace… your extermination.” 

Attention… The Avengers are back! Setelah membuat standar yang terbilang sangat tinggi untuk dilampaui oleh film superhero melalui The Avengers – dan tanpa disangka-sangka, Guardians of the Galaxy – pertanyaan besar pun menanti Marvel Studios, “akankah mereka sanggup sekali lagi menapaki level yang sama, melebihinya, atau mengalami penurunan?.” Kekhawatiran bahwa puncak dari fase kedua Marvel Cinematic Universe (MCU) bertajuk Avengers: Age of Ultron tidak lagi segegap gempita pendahulunya memang sempat mengemuka dikala Joss Whedon menjatuhkan pilihan pada Ultron sebagai tandingan utama para barisan superhero ini. Tapi lalu, barisan bahan promosi yang digelontorkan satu demi satu seketika mengubah perilaku skeptis menjadi antusias dikala kesan megah berhasil tergambar secara impresif, sosok Ultron tampak mengancam, dan jalinan penceritaan yang tampaknya kelam. Tunggu, tunggu… Marvel dan kelam dalam satu kalimat? Jika kau berpikir bahwa ini berarti berakhirnya semua kesenangan, maka enyahkan jauh-jauh segera karena kekhawatiran itu sama sekali tidak akan terbukti. Tidak peduli sekalipun film kelanjutan ini dibawa ke ranah lebih serius dengan plot yang mengandung kompleksitas dan nuansa suram, Whedon tidak lupa bahwa darah Marvel masih mengalir di Age of Ultron sehingga pesta pora penuh canda tawa tetap harus dihelat. 

Niat baik Tony Stark (Robert Downey Jr) dan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk membantu meringankan beban konco-konconya di Avengers dalam menjaga ketentraman dunia dengan membuat aktivitas berwujud artifical intelligence yang disarikan dari tongkat Loki berakhir musibah dikala aktivitas berjulukan Ultron (James Spader) ini menentukan jalur radikal demi merampungkan misinya dalam memperbaiki situasi rumit di dunia: melenyapkan umat manusia. Sebelum mencapai gol dari tujuannya, Ultron berniat terlebih dahulu menghancurkan Avengers dengan salah satu cara yang ditempuh ialah merekrut saudara kembar berkekuatan super, Pietro (Aaron Taylor-Johnson) dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen), untuk menebarkan benih-benih perpecahan pada koalisi superhero Marvel tersebut. Benar saja, eksperimen belakang layar Tony Stark yang menimbulkan terguncangnya stabilitas keamanan dunia ini dalam waktu singkat memecah belah Tony, Bruce, Thor (Chris Hemsworth), Captain America (Chris Evans), Black Widow (Scarlett Johansson), dan Hawkeye (Jeremy Renner), ke dalam setidaknya dua kubu. Menyadari bahwa situasi semakin genting terlebih setiap pahlawan ini tampaknya enggan menekan ego masing-masing, Nick Fury (Samuel L. Jackson) pun mau tak mau sekali lagi turun tangan sebelum miliaran penduduk bumi dibasmi oleh Ultron dan para kroninya. 

Yes, Age of Ulton is bigger, deeper, and funnier. Sebagai sebuah film kelanjutan dari gelaran yang menerima banyak predikat spektakuler dari banyak sekali pihak, maka terang hukumnya wajib bagi Marvel Studios untuk meningkatkan skalanya – lagipula ini sekuel, for God’s sake!. Marvel tahu betul bagaimana caranya mengkreasi kelanjutan bagi sebuah film yang nyaris sempurna. Walau Age of Ultron memang tidak lantas mengungguli kualitas pendahulunya, tapi terang ini berada di level yang sama hanya saja segalanya digandakan dosisnya. Jika kau menerka pertempuran selesai para Avengers melawan alien di film sebelumnya yang mengacak-acak New York tidak mungkin untuk ditandingi, maka Whedon akan membuatmu kecele mengingat Age of Ultron lebih habis-habisan wacana mengemas ‘kick ass action’. Tidak hanya satu di penghujung yang sekali ini melibatkan kota terbang – secara harfiah – tetapi terbagi merata ke beberapa cuilan ibarat pertarungan habis-habisan tanpa ampun antara Iron Man dalam bentuk Hulkbuster dengan Hulk yang menimbulkan kemudian lintas padat di sebuah kota Afrika Selatan terhenti sejenak serta kejar-kejaran dahsyat memakai sejumlah moda transportasi (motor gede, truk, kereta api, pesawat… you name it!) melintasi Seoul. Dipoles mempergunakan imbas khusus kelas premium hasil dari kucuran dana sebesar $250 juta, Age of Ultron memamerkan rangkaian agresi penuh gaya yang merupakan penajaman dari mengagumkan, mendebarkan, beserta berlebihan. Penonton dibentuk terperangah, kemudian bersemangat, dan pada akibatnya mencicipi sensasi adrenalin terpacu dikala para jagoan ini ditempatkan dalam posisi sulit. Phew! 

Tidak saja porsi agresi penuh eksplosif yang dilipatgandakan, Whedon pun menaruh perhatian penuh pada jalinan pengisahan yang untuk sekali ini padat berisi. Seperti telah disinggung sedikit di paragraf awal, ada kompleksitas dan kemuraman yang terkandung didalamnya. Saat film pertama cenderung mengetengahkan pada terbentuknya koalisi, Age of Ultron mengeksplorasi lebih mendalam aspek personal barisan karakternya. Ajakan untuk memupuk simpati pada mereka ditunjukkan melalui penelusuran psikologis yang menyimpan sisi rapuh; entah itu berbentuk ketakutan terhadap sesuatu, masa kemudian menyakitkan, pengendalian emosi, atau berdamai dengan kehilangan. Whedon juga turut mengedepankan problematika asmara yang njelimet antara Bruce dengan Natasha/Black Widow serta menguak kehidupan eksklusif Hawkeye yang ternyata manis romantis. Rentetan konflik ini menopang problem utama yang fokus terhadap upaya Avengers menghadang ambisi besar Ultron untuk menaklukkan umat manusia. Dengan plot bercabang seabrek ini, tidak sanggup dihindari ada kalanya Whedon mengalami kesulitan dalam menjaga ritme penceritaan sehingga kesan terseret-seret pun sempat dirasakan khususnya di paruh awal. Tapi sehabis si pembuat film menemukan nada yang tepat untuk mengejawantahkan ide-ide liarnya, tensi film pun berhasil dipertahankan hingga credit title mengular. 

Daya gigit Age of Ultron yang berpengaruh juga disebabkan oleh keputusan Whedon untuk mempertahankan humor-humor segar (bahkan menambah porsinya!) yang telah menjadi ciri khas film superhero Marvel sekalipun plot telah bergerak ke ranah yang membutuhkan pencahayaan terang (baca: suram). Whedon tidak ingin menyalahi kodrat film superhero asal komik yang memang diciptakan untuk mengajak penonton bergembira ria. Kaprikornus tidak perlu risau kau akan mengerutkan dahi, dipenuhi rasa sesak, atau malah dihinggapi kebosanan akut karena tone penceritaan yang serius karena apapun situasinya, para pahlawan super ini tidak pernah kehabisan amunisi dalam melontarkan celetukan-celetukan konyol pengundang tawa yang membuat mood penonton sanggup senantiasa kembali ke mode cerah. Mereka benar-benar mempunyai selera humor yang bagus. Dan itu tersampaikan dengan baik bukan saja karena pengarahan cekatan dari Joss Whedon melainkan juga berkat jajaran pemain yang menyumbangkan lakon menawan dengan chemistry diantara para senior terasa semakin lekat di jilid ini sementara para pendatang gres pun tidak kalah mengesankannya dengan catatan khusus layak diberikan pada James Spader yang warna suaranya memunculkan kesan intimidatif dari sosok Ultron dan Elizabeth Olsen yang memberi emosi tepat pada Wanda/Scarlet Witch. 

Note: Seperti biasa, ada adegan bonus terselip di pertengahan credit title yang menjadi petunjuk penting untuk film berikutnya.

Outstanding