July 9, 2020

Review : Baby Driver


“The moment you catch feelings is the moment you catch a bullet.” 

Ketika trailer Baby Driver ditayangkan sebelum pemutaran sebuah film, aku tanpa sengaja mencuri dengar obrolan manja sepasang kekasih yang duduk sempurna di sebelah kanan. “Yang, cayang, kayaknya seru tuh filmnya, menyerupai Fast and Furious sama Transporter,” ujar si perempuan. Mendengar ucapan tersebut, aku seketika meringis. Suatu perbandingan yang agak sedikit ekstrim sejujurnya, tapi tak bisa dikatakan salah juga sebab materi promosinya memberi kesan bahwa Baby Driver akan dipenuhi adegan laga berupa kebut-kebutan mobil. Si protagonis utama pun sedikit banyak mengingatkan kita ke huruf yang dimainkan Jason Statham dalam tiga jilid Transporter; pendekar di balik kemudi yang mempunyai kiprah mengantar ‘orang-orang penting’. 


Anggapan ini tentu bakal seketika luntur begitu kita mengetahui siapa sosok yang menduduki bangku penyutradaraan yang tak lain tak bukan ialah pembesut Cornetto trilogi (judul pertamanya ialah Shaun of the Dead) dan Scott Pilgrim vs. the World, Edgar Wright. Dibawah penanganan Wright yang mempunyai jiwa nerd sejati, Baby Driver terperinci tidak akan dijelmakan sebagai film hura-hura belaka yang sebatas mengedepankan pada laga penuh eksplosif menyerupai halnya Fast and Furious dan Transporter. Betul saja, si pembuat film lantas memadupadankannya dengan humor sarat rujukan ke budaya pop, barisan musik eklektik, romantika asmara muda-mudi, serta ketegangan ala heist film sehingga menciptakan Baby Driver bukan saja terasa begitu berwarna tetapi juga bergaya. 

Protagonis utama dalam Baby Driver ialah seorang cowok yang luar biasa handal mengendarai kendaraan beroda empat berjulukan Baby (Ansel Elgort). Guna melunasi hutang-hutang menumpuknya kepada pentolan kelompok kriminal, Doc (Kevin Spacey), Baby terpaksa bekerja sebagai juru kemudi dalam setiap misi perempokan yang dijalankan oleh Doc. Tugas Baby, yakni membawa kabur anggota timnya dari lokasi tindak kejahatan, tergolong krusial sebab disinilah menit-menit penentu apakah misi sanggup berjalan sukses atau justru mengalami kegagalan. Kepiawaian Baby dalam berkemudi yang membuatnya tak pernah gagal menunaikan tugas, menjadikan beliau sebagai anak buah kesayangan Doc. Tak peduli seberapa sering anggota tim beralih konfigurasi, pengemudinya haruslah Baby. 

Keterikatan Doc dengan Baby ini balasannya mencapai ujungnya usai hutang si anak buah dinyatakan lunas dan Baby telah menjalankan misi terakhirnya mengawal Bats (Jamie Foxx). Pensiun dari dunia kriminal, Baby berniat menata ulang kehidupannya terlebih usai dibentuk jatuh hati oleh seorang pelayan berjulukan Debora (Lily James). Baru saja menjalani kehidupan normal selama beberapa waktu bersama Debora, panggilan dari masa kemudian kembali menghantuinya. Siapa lagi kalau bukan dari mantan atasannya, Doc? Baby dimintanya terlibat dalam misi merampok kantor pos bersama Bats dan anggota tim yang telah dikenalnya. Tidak ada pilihan lain bagi Baby selain menjawab “ya” kecuali beliau ingin kehilangan wanita yang dicintainya. 

Ditilik dari sisi penceritaan, Baby Driver sebenarnya sederhana saja – guliran penceritaannya tidak akan menciptakan kepalamu kliyengan. Bahkan, sedikit banyak cenderung mengingatkan pada Drive yang dibintangi oleh Ryan Gosling. Hanya saja ini versi lebih cerah ceria. Yang membuatnya terasa istimewa ialah bagaimana cara si pembuat film mengeksekusinya sehingga setiap durasi yang mengalun dalam Baby Driver menghadirkan sebuah pengalaman sinematis yang menjadikan candu. Sedari adegan pembukanya yang beroktan tinggi hasil dari kombinasi antara penyuntingan rapat, musik menderu-deru, dan gerak kamera taktis, atensi penonton telah dicuri sepenuhnya. Kita dikondisikan untuk menggeleng-gelengkan kepala dan menahan nafas menyaksikan keseruan kendaraan beroda empat Subaru WRX merah yang dikendarai Baby melaju kencang di jalanan seraya mempecundangi para polisi yang kewalahan mengejarnya. 

Apabila ini tampak menyerupai prolog biasa dalam sebuah film bertemakan perampokan atau kebut-kebutan mobil, tunggu hingga kau menyaksikan bagaimana Edgar Wright bisa menyeleraskan hentakan irama lagu dengan setiap adegan yang berlangsung. Ya, rentetan musik eklektik dalam Baby Driver bukan sebatas aksesoris pemanis belaka demi memenuhi tuntutan semoga bisa merilis album soundtrack, gaya-gayaan atau memeriahkan suasana melainkan melebur ke dalam jiwa film. Ini menyerupai film musikal yang bila kita lepas elemen musiknya, maka film tersebut akan berjalan timpang sebab posisi keduanya saling menguatkan.


Tidak ada tari-tarian atau para huruf yang tiba-tiba melagukan obrolan mereka di Baby Driver – tentu saja, sebab bagaimanapun ini bukanlah film musikal. Koreografi tari diimplementasikan ke dalam gerak gerik huruf maupun sekuens laga yang tertata rapi. Disinilah letak kecemerlangannya sebab itu berarti membutuhkan presisi lebih sehingga sanggup dicapai kesesuaian antara irama dan gerak. Adegan kebut-kebutan selepas perampokan bank diiringi tembang “Bellbottoms” yang melibatkan Buddy (Jon Hamm), Darling (Eiza Gonzalez), dan Griff (Jon Bernthal) merupakan tumpuan awal yang bisa kau jumpai dalam Baby Driver. Mengalun selama lima menit, adegan ini dibuka dengan gerakan membuka pintu, membuka bagasi, berjalan menuju bank, hingga menggerakkan wiper kendaraan beroda empat yang sesuai ketukan irama. Keren luar biasa! 

Bukan hanya pada permulaan saja, kau juga akan mendapati adegan sejenis di aneka macam titik sepanjang durasi yang salah satu paling berkesan bisa ditengok pada opening credit-nya. Genre lagu hasil kurasi Wright pun beragam, menyesuaikan dengan mood si huruf utama dan situasi yang berlangsung. Asal muasalnya juga tak kalah beragam, dominan berasal dari iPod milik Baby yang tak pernah lepas dari genggamannya. Alasannya, musik dipergunakan Baby untuk memacu semangatnya sekaligus meredam suara dengungan di telinganya – beberapa kali kita dengar saat musik tidak mengalun – jawaban tinnitus yang diidapnya pasca kecelakaan semasa kecil. 

Memperhatikan betul bagaimana sekuens laga ditata demi memompa adrenalin penonton, memperhatikan betul soal pemilihan lagu beserta koreografi ‘tari’ yang menyokongnya guna memberi suntikan emosi lebih ke film, Edgar Wright tak kelupaan pula untuk memperhatikan betul wacana karakter-karakter yang hidup di film arahannya ini sehingga penonton sanggup mempunyai kepedulian terhadap mereka utamanya Baby. Betul, sekalipun materi obrolan kisahnya tidak terlalu istimewa, naskah Baby Driver tetaplah digarap dengan sangat baik yang memungkinkan setiap huruf (termasuk mereka yang hanya nongol dalam satu dua adegan) mempunyai bantuan terhadap pergerakan kisah. Keberadaan mereka tidak pernah sia-sia sebab difungsikan untuk mengenalkan kita lebih dalam pada karakteristik Baby, memperkuat posisinya. 

Setiap dari mereka pun dimainkan oleh aktor-aktris yang sempurna sehingga memberi kesan otentik. Ya, Baby Driver memang mempunyai ansambel pemain yang berlakon juara menyerupai Ansel Elgort yang terlihat cool dan menghadirkan chemistry lekat bersama Lily James sampai-sampai adegan di laundry terasa begitu manis, kemudian Jon Hamm bersama Eiza Gonzalez sebagai pasangan selesai hidup yang dimabuk asmara, kemudian CJ Jones yang memperlihatkan kehangatan dalam kiprahnya mengisi figur ayah bagi Baby, Jamie Foxx yang kocak dan berbahaya di waktu bersamaan, serta Kevin Spacey yang intimidatif. Perpaduan selaras antara laga seru, humor lucu, romansa manis, musik asyik, dan lakon apik inilah yang menghantarkan Baby Driver menjadi salah satu film terbaik dan paling mengasyikkan buat disimak tahun ini. Cadas!

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/9_htTq


Outstanding (4,5/5)

Enam menit pertama Baby Driver bisa juga kau tengok di Youtube: